
Tangis itu terdengar seperti nyanyian merdu dari surga. Sinarnya yang memerah, seperti kelopak bunga yang bermekaran menyuguhkan kebahagiaan dalam dua hati insan yang tengah menanti dengan sabar.
"Sayang, kamu sudah membelinya banyak sekali. Kenapa masih pilah-pilih yang lainnya juga?" keluh paman Harits yang mulai lelah menemani Nadia berbelanja.
Sudah hampir dua jam, mereka berada di dalam mal. Menyambangi toko ke toko yang menyediakan perlengkapan bayi. Paman Harits memandangi kedua tangannya yang dipenuhi bag-bag belanja. Mendesah dengan kedua bahu yang turun ke bawah.
"Sebentar, Mas, ini bajunya lucu-lucu. Rasanya aku ingin membeli semuanya saja." Ia terkekeh sendiri tanpa melihat seperti apa ekspresi laki-laki yang berdiri di belakangnya itu.
Mendengus, menghela napas, panjang dan berat. Melihat tingkah sang istri yang tak puas berbelanja.
"Kamu tidak sayang itu akan mubajir? Ini sudah terlalu banyak, lho. Ayolah, sayang!" ucapnya lagi jelas bernada lelah.
Namun, wanita hamil besar itu tak acuh. Ia bergeming pada kegiatannya memilih dan memilah apa saja yang ingin dibelinya.
Paman Harits tak kehabisan akal, ia berpikir apa yang akan membuat istrinya itu menyudahi acara pilah-pilih barang. Diliriknya ia yang sedang membungkuk, perutnya yang besar hampir menyentuh lantai. Ia tersenyum menemukan sebuah ide yang menurutnya cemerlang.
"Hei, apa kamu tidak lelah? Lihat, kamu bahkan membawa beban di perutmu, tapi seolah kamu tidak terbebani sama sekali," cibirnya. Tanpa sadar ia justru sedang mencibir dirinya sendiri.
Wanita hamil tua itu menegakkan tubuh, menoleh, menatap tajam perut rata suaminya.
Puk-puk-puk!
Ia tertawa renyah setelah menepuk tiga kali perut suaminya itu. "Seharusnya Mas yang lebih bersemangat di sini karena perut Mas itu, 'kan, rata tidak mengembung seperti perutku. Malu, lho, Mas mengeluh." Ia kembali tertawa sambil melengos.
Lelaki itu ternganga tak percaya, apalagi saat istrinya kembali memilih barang-barang. Apakah memang seperti itu seorang wanita kalau sudah berada di mal dan berbelanja? Seperti kesurupan setan mal.
"Kalau Mas capek, duduk saja di sana. Tunggu aku selesai, aku masih ingin memilih yang lainnya juga," sarannya tanpa menoleh sama sekali.
Benar juga, kenapa tidak kepikiran untuk duduk saja. Paman Harits melirik kursi yang disediakan oleh toko, melirik istrinya, memastikan jaraknya tidak terlalu jauh agar ia masih bisa memantau sang istri.
__ADS_1
Ia beranjak setelah menelisik semuanya, duduk dengan tenang sambil mengawasi istri yang masih haus berbelanja itu. Paman Harits mengedarkan pandangan, berpikir apa dia beli saja semua yang ada di toko tersebut?
"Jangan berpikir yang macam-macam, Mas! Aku tahu apa yang sedang Mas pikiran." Laki-laki itu terlonjak saat mendapati sang istri yang sudah berdiri tak jauh dari tempatnya duduk.
Ia tersenyum canggung, menggeleng sambil mengangkat bahu. Nadia mendengus, ia sudah selesai dengan belanjanya. "Sudah selesai?" tanya paman Harits saat melihat tangan istrinya yang membawa bag belanja.
Ia beranjak dan segera mengambil alih bag di tangan istrinya. Menggandengnya dengan lembut, membawa wanita hamil itu keluar dari toko.
"Mau ke mana lagi?" tanya paman Harits memecah hening yang menguasai keadaan. Nadia belum menjawab, kepalanya masih menoleh ke kanan dan kiri, entah apa yang sedang dia cari.
"Lapar, Mas. Cari makan, ya." Nadia mengusap perutnya sambil mengernyit lucu. Paman Harits tergelak sebentar, ia mengedarkan pandangan mencari tempat makan yang nyaman sekaligus enak.
"Aku mau makan seafood, Mas!" Nadia berseru membuat mulut paman Harits yang terbuka mengatup kembali.
"Katanya kalau makan kepiting anaknya nanti galak, lho. Terus kalau makan cumi anaknya nanti lembek. Kamu mau makan apa di sana?" papar paman Harits memberitahu tanpa melihat ekspresi kesal yang ditunjukkan Nadia.
Paman Harits menoleh sebentar, ia mengulum senyum melihat wajah cemberut istrinya. Matanya kembali memindai mencari makanan yang aman menurutnya.
"Memangnya itu kata siapa, Mas? Kok, makan kepiting jadi galak anaknya?" Protes. Tidak terima, makanan itu dilarang.
"Kata Ibu ... makan soto saja, ya. Kamu, 'kan, suka soto." Paman menarik tangan Nadia menuju kedai yang menyediakan soto. Yah, tak apa lah. Soto pun makanan kesukaannya. Mereka duduk di kursi sama seperti pengunjung mal lainnya.
Memesan dan menunggu dengan sabar. Seperti halnya keadaan mal yang selalu ramai pengunjung. Banyak anak-anak yang berkeliaran ke sana kemari, remaja yang sekedar berkeliling bersama pasangan masing-masing. Atau orang tua muda yang menggendong anak mereka.
Nampak mesra, terbersit dalam hatinya apakah lelaki yang duduk di depannya itu mau menggendong anak mereka kelak? Ia tertawa sendiri saat membayangkan suaminya terkena air seni si bayi.
"Sayang? Kenapa kamu tertawa sendiri? Memangnya ada yang lucu?" tanya paman Harits curiga. Ia memindai dirinya sendiri khawatir ada yang salah.
Nadia menggeleng sambil melipat bibir menahan senyum yang ingin mencuat. Lagi-lagi bibir paman Harits harus terkatup paksa di saat pelayan membawakan pesanan mereka.
__ADS_1
Walaupun makan di tempat sederhana, mereka tetap bisa merasakan kenikmatan selera lidah mereka yang Indonesia banget.
"Mas, memangnya nama apa yang sudah Mas siapkan untuk anak kita?" tanya Nadia usai menghabiskan makanannya. Mereka masih duduk di sana menurunkan makanan yang baru ditelan sebelum pulang.
"Mmm ... ada, deh. Nanti juga kamu tahu, jangan penasaran, ya. Tunggu sampai dia keluar," katanya menunjuk perut Nadia dengan dagunya.
Wanita itu mendengus, ia begitu ingin tahu tentang nama yang telah disiapkan suaminya itu. Laki-laki itu bahkan melarang siapa saja memberi nama pada anaknya.
"Mmm ... aku mau tahu, Mas. Ih, kenapa main rahasia-rahasiaan, sih?" sungutnya tidak senang.
"Lho, nanti juga tidak jadi rahasia kalau dia sudah hadir di tengah-tengah kita. Jadi, tunggu saja tinggal satu bulan lagi, 'kan?" ujarnya lagi keukeuh. Nadia melengos, kesal karena laki-laki itu benar-benar teguh pada pendiriannya.
Menjelang sore, keduanya kembali ke rumah dengan menenteng banyak barang. Keduanya diserbu anak-anak asuh mereka yang sengaja bermain di rumah menunggu kedatangan orang tua mereka.
Sorak sorai memenuhi seisi rumah besar paman Harits sore itu. Anak-anak riang gembira mendapatkan mainan baru dari Ayah dan Bunda mereka. Seperti itu saja, nikmat yang tak terhingga yang jarang disyukuri kebanyakan orang.
"Ah ... Mas!" Nadia memekik kecil saat merasakan sebuah gerakan intens di perutnya.
"Kenapa, sayang?" Panik melihat Nadia yang meringis sambil memegangi perutnya.
"Tidak apa-apa, cuma tadi sedikit tidak nyaman saat dia bergerak," jawabnya setelah menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan.
Paman Harits meminta Bibi mengambilkan air hangat, ia masih cemas melihat keringat yang menyembul di dahi istrinya.
"Minum dulu!" Nadia menurut, ia mengambil gelas dari tangan suaminya dan meneguknya sedikit.
"Bagaimana?" Masih khawatir.
"Sudah lebih baik, Mas." Wajah pucat yang tadi berangsur-angsur kembali seperti semula.
__ADS_1