Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Zahira Cepat Tumbuh


__ADS_3

Berhari pun berlalu dengan cepat, semua permasalahan selalu dapat diselesaikan dengan baik meskipun terkadang alot. Bayi yang kemarin baru merangkak, kini sudah belajar berdiri. Sembilan bulan usianya, dia tumbuh dengan cepat.


"Kemari, sayang! Datang pada Omah!" Kedua tangan Ibu membentang menyambut cucu kesayangannya yang berdiri tertatih dan mulai mengangkat satu per satu kakinya. Bayi itu berekspresi lucu, raut takut bercampur senang tercetak jelas di wajah lucu menggemaskan miliknya.


Nadia muncul dari dapur dengan sebuah nampan di tangan. Berisi buah-buahan yang dipotong-potong beserta minumannya. Zahira tergelak saat melihat sosok Bunda yang meletakkan makanan di atas meja. Ia antusias, menggerakkan kakinya untuk maju melangkah.


Terguncang tubuh kecilnya, oleng dan hampir jatuh. Beruntung, ia dapat menyeimbangkan tubuhnya dengan berhenti melangkah.


"Kemari, Bunda punya buah untukmu, sayang!" Nadia mengacungkan sebuah garpu yang menusuk buah di ujungnya. Zahira tergelak lagi, semakin cepat kakinya ingin sampai.


Ma-ma-ma-ma ....


Ocehannya dengan bibir terlipat ke dalam, air liur menetes hingga ke dagu. Ia tak menyerah, terus memacu kakinya untuk mendekati wanita yang berjongkok dengan sepotong buah di tangan.


"Wah! Anak Ayah, sudah pandai berjalan!" Tangan besar itu mengganggu antusiasme para wanita yang sedang menunggu Zahira mendekat. Nadia mendengus, ia mengerlingkan mata tatkala lelaki yang baru saja mengambil Zahira menatap ke arahnya.


"Kenapa wajah Bunda masam begitu?" Bertanya setelah menelisik wajah Nadia. Bayi di gendongannya menggeliat meminta diturunkan, bibirnya tak henti mengoceh dengan bahasanya.


"Sabar, sayang. Kamu mau turun? Baik ... baik, Ayah turunkan!" ucapnya. Ia layangkan ciuman bertubi-tubi di wajahnya sebelum menurunkan bayi itu.


Ma-ma-ma-ma ....


Bayi itu mengoceh sambil membawa kakinya yang tertatih melangkah pelan-pelan. Nadia kembali antusias menyambut kedatangan putrinya bersama Ibu, keduanya sibuk menyoraki bayi itu. Paman Harits tertegun melihat anak yang baru kemarin masih merah kini sudah mulai melangkah. Ia ikut berjongkok bersama kedua wanita berbeda usia itu, menyoraki dengan semangat bagai sedang menonton pertandingan.


"Ayo, sayang! Cepat ... cepat! Kamu bisa!" sorak Nadia bersambut dengan paman Harits dan Ibu.

__ADS_1


Ketiganya bersorak lebih keras tatkala Zahira berhasil menggapai Ibunya. Pelukan hangat diberikan Nadia dan paman Harits pada bayi mereka.


"Anak pintar." Ibu mengusap kepala Zahira senang masih diberi kesempatan untuk dapat melihat cucunya belajar melangkah. Ia menyusut air matanya yang tiba-tiba jatuh penuh haru.


Tangan paman Harits merangkul tubuh ringkih yang berguncang itu, ia tahu tangis yang Ibu keluarkan adalah tangis kebahagiaan. Sore itu, rumah mereka bertambah hangat.


*****


"Sayang, dia sudah tidur belum?" tanya paman Harits untuk yang ke sekian kalinya. Ia melirik Nadia yang masih berada di ranjang putrinya, menyusui anak itu agar cepat tertidur. Ia-nya melambaikan tangan tanpa menyahut karena takut mengganggu Zahira yang mulai berkedip berat.


Helaan napas darinya kembali terdengar. Itu sudah berkali-kali ia lakukan. Jenuh menunggu Nadia yang menyusui bayinya. Ia mengambil gawai dan memeriksa email yang dikirimkan Yoga padanya. Tetap saja matanya melirik pada Nadia memastikan wanita itu beranjak dari tempat bayinya.


Nadia perlahan turun dari ranjang mini tersebut, ia membenarkan penghalang di setiap sisinya menjaga agar ia tidak terjatuh ke bawah. Paman Harits antusias menyambut Nadia yang mulai merangkak naik ke atas ranjang.


"Mas ...!" Gerakan secepat kilat membungkam mulut Nadia yang hendak berucap. Serangan tiba-tiba itu membuatnya terkejut hingga tak dapat menguasai diri dan kehabisan oksigen.


"Mas! Kenapa tiba-tiba, sih?" Ia memukul pelan dada suaminya dengan napas tersengal-sengal.


Lelaki itu tertawa gemas. Ia menjatuhkan kepala di dada istrinya dengan manja. Menyibak lingerie yang dikenakannya hingga terbuka bagian depannya. Ia menggesek-gesekkan pipi di kulit istrinya persis seperti kucing yang menginginkan diusap-usap majikan.


"Pasti ada maunya," gurau Nadia. Tangannya sibuk menyisir rambut suaminya dengan jari jemari. Kepala itu mendongak, tersenyum penuh curiga.


"Sayang, kamu tahu, bukan? Usia Mas ini sudah tak lagi muda." Matanya berkedip pelan sebelum kembali menjatuhkan kepala di dada Nadia.


"Mmm ... ya, jadi?" Nadia menanggapi. Padahal tahu ke mana arah tujuan pembicaraan suaminya.

__ADS_1


"Mas mau punya anak lagi. Zahira cepat sekali tumbuh. Mas ingin memberikannya adik laki-laki," ucapnya sambil menciumi kulit istrinya. Sesekali akan menggigit meninggalkan bekas kemerahan.


"Anak laki-laki, ya? Tapi Zahira belum juga satu tahun, Mas. Kasihan, tunggulah sampai usianya dua tahun dan sudah lepas susuan. Aku berjanji tidak akan menundanya," sahut Nadia pelan-pelan memberi pengertian.


Laki-laki itu justru mengeratkan lingkaran tangannya di perut sang istri. Kenakalannya berlanjut hingga ke tahap inti dari permainan.


"Kamu sudah berjanji saat Zahira telah disapih nanti, jangan menunda untuk hamil lagi," ucapnya sambil mendekap tubuh istrinya.


"Mas menginginkan anak laki-laki? Bagaimana kalau yang aku lahirkan adalah perempuan?Aku takut Mas akan abai padanya."


"Ingat, Mas. Laki-laki atau perempuan sama saja, keduanya adalah amanah untuk kita yang harus kita jaga dan kita rawat dengan baik pula," cerocos Nadia panjang kali lebar.


Lelaki itu terkekeh sambil menguatkan pelukan. Menciumi wajah basah berkeringat itu dengan gemas.


"Apa pun, sayang. Apa pun. Walaupun Mas ingin laki-laki, tetap saja yang akan terlahir dari sini akan Mas sayangi karena dia anak Mas. Darah daging kita." Tangannya berputar mengusap perut Nadia. Menghilangkan gundah gelisah dalam hati sang istri.


"Perempuan itu tempat menumbuhkan sebelum dilahirkan, kebanyakkan yang aku jumpa para suami akan selalu abai pada anak yang terlahir dari rahim istrinya saat ia tak sesuai dengan keinginan. Lalu, menyalahkan istri katanya tak becus memberikan anak. Padahal, laki-laki ataupun perempuan itu semua bukan kehendaknya, bukan istri yang menciptakan dia menjadi laki-laki kelak atau perempuan kelak."


Nadia memiringkan tubuh menghadap suaminya. Tangannya melingkar di perut paman Harits dengan wajah mendongak saling bertatapan.


"Rahimku hanya menampung benih yang Mas tabur ke dalamnya, soal dia jadi laki-laki atau perempuan itu urusan Sang Pencipta. Terima dan sayangi apapun yang kelak terlahir dari jalan lahirku," ungkap Nadia seraya membenamkan wajah di dada lembab suaminya.


Ketakutan seperti itu wajar dirasakan setiap wanita di saat suami meminta sebuah jenis kelamin dari anak yang dikandungnya bahkan tak sedikit yang memilih menikah lagi hanya karena menginginkan kelamin anak yang sesuai dengan yang dia inginkan.


"Mas mengerti, Mas akan menerima mereka seperti saat menerima kehadiran Zahira ke dunia ini. Mas tidak sama seperti mereka, Nadia." Keduanya saling mengeratkan pelukan dan terlelap dalam rasa syukur yang besar.

__ADS_1


__ADS_2