Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Alhasil ....


__ADS_3

Bertindak licik terkadang diperlukan. Di kedua ujung tanah lapang tersebut, dua kubu tersudut. Nadia yang ditodong pistol bersama anaknya. Lain dari sisi paman Harits. Dua keluarga kakaknya menangis histeris, menjerit, mengumpat, di belakang tubuh lelaki itu.


Keadaan mereka semua terikat dalam satu simpul. Sebuah peledak terpasang pada salah satunya dengan penghitungnya yang terus berjalan mundur.


"Papah! Tolong kami, Pah. Kami tidak mau mati, Papah!" Tangisan memilukan terdengar dari mulut anak-anak mereka juga kedua istri mereka. Kedua laki-laki yang menawan Nadia gamang seketika. Ini senjata makan tuan namanya.


Sungguh lebih menyedihkan dibanding Nadia yang masih dibiarkan bebas tak terikat sama sekali. Tak ada Yoga di antara mereka. Di mana dia?


"Biadab kamu, Harits! Teganya kamu melakukan ini pada keluargamu sendiri! Lepaskan kami! Kami tidak tahu apa-apa kenapa kamu menjadikan kami sandera?!" jerit salah satu istri itu dengan lantang.


Lelaki yang memunggungi mereka, terguncang kedua bahunya tertawa terbahak-bahak mendengar umpatan demi umpatan yang dilayangkan dua keluarga itu untuknya.


"Kalau aku biadab ... disebut apa suami kalian yang di sana? Lihat, anakku bahkan masih bayi!"


Plak!


Suara tamparan nyaring terdengar, tak tanggung-tanggung paman Harits melampiaskan amarahnya pada wanita itu. Merobek sudut bibirnya hingga cairan merah merembes dari celah-celah mulutnya.


"Harits! Kurang ajar! Kamu mau aku menembak istri dan anakmu, hah!" Teriakan yang menggelegar dari sudut lainnya bersambut tangisan Zahira yang melengking menjerit.


Nadia memejamkan mata, meneguk saliva meski susah payah. Ia percaya, suaminya tak akan membiarkan hal itu terjadi. Tetap tenang, Nadia. Tetap tenang! Suamimu ada di sini! Menyemangati diri sendiri dalam hati. Pelukan pada Zahira menguat, tangisan bayi itu tak henti. Terkejut dan takut. Zahira tak biasa mendengar suara keras.


Paman Harits berbalik, ia bukan lagi Harits yang dilihat Nadia setiap hari. Lelaki itu menjelma bagai dewa perang yang bersiap memusnahkan siapa saja yang menghalangi jalannya.


"Lakukan! Lakukan kalau kalian ingin melihat mereka melebur menjadi abu. Lakukan!" tantang paman Harits dengan nada suara yang ditekan sekaligus mengancam.


Nadia membuka matanya, sekali lagi meneguk ludah melihat wajah merah padam di kejauhan. Di tangan lelaki itu sebuah remote kontrol ia kendalikan.

__ADS_1


"Biarkan istriku mendatangiku! Maka aku, akan membebaskan mereka untuk kalian," tawarnya untuk yang terakhir kali. Ia masih bergeming di tempatnya berdiri. Tak melakukan apa pun selain menghujam manik Nadia yang ketakutan.


"Pah, lepaskan saja dia! Kamu mau kami semua di sini mati. Dia sudah meledakkan rumah kita, Pah. Dia tidak main-main!" teriak istri-istri mereka bergantian memperingati.


Kedua lelaki itu tak habis pikir bagaimana dalam waktu bersamaan adik mereka itu dapat melakukan hal yang lebih mengerikan sekaligus. Mendengar itu, mata keduanya melebar tak terkendali. Semakin bergolak rasa dalam hati keduanya.


"Siapa sebenarnya kamu, Harits? Kenapa kamu bisa melakukan hal sekejam itu terhadap keluargamu sendiri?" Berapi-api dia menanyakan itu. Tidak mengukur baju di tubuh sendiri. Tak tahu siapa yang dihadapi, dengan berani mengambil resiko tinggi tanpa memikirkannya dengan matang.


"Kenapa kalian baru menanyakannya ... aku meminta istri dan anakku! Kemari, sayang! Berjalanlah, tak perlu takut! Mereka tak akan berani melakukannya. Percayalah pada suamimu ini!"


Paman Harits membentang tangan, tersenyum menatap Nadia yang seolah ragu pada apa yang dia ucapkan. Namun, ia sedang menyakinkan hati bahwa suaminya itu selalu dapat dipercaya.


Tangis memilukan dari belakang tubuh paman Harits masih terdengar seperti nyanyian si punuk yang merindukan bulan. Penuh penderitaan dan kesengsaraan.


Nadia mengembuskan napas, ia bertekad untuk melangkah. Dengan mengucap basmalah, yakin bahwa Allah Maha melindungi dia mulai melangkah.


Grap!


Salah satu tangan Nadia dicekal kuat kakak paman Harits hingga pelukannya pada bayi Zahira terlepas. Senyum di bibir lelaki itu memudar, berharap dalam hati Nadia akan melawan. Diam beberapa saat, kakinya mulai melangkah. Namun, terhenti lagi saat melihat tindakan Nadia.


"Lepaskan aku! Apa kalian tidak menyayangi keluarga kalian yang di sana?! Lihat air mata mereka, dengar tangisan anak dan istri kalian! Suamiku tidak pernah main-main dalam ucapan. Lepaskan, jika kalian masih ingin berkumpul dengan keluarga!" Nadia memberontak, memutar tangannya dan menghempaskannya hingga terlepas.


Ia mendekap Zahira kembali. Melanjutkan langkah menemui sang suami. Senyum di bibir lelaki itu kembali tersungging menyambut kedatangan sang istri. Tangan yang memegang pistol terangkat mengarah pada Nadia.


Mereka sudah kehilangan akal, rela menukar nyawa keluarga demi sebuah berkas yang tak akan pernah mereka dapatkan pula. Sudah kepalang tanggung, sekalian saja mati bersama. Begitu pikir mereka.


Namun, setelah beberapa langkah kaki Nadia berayun, tiga orang melompat turun dari atas gedung dan mendarat di belakang tubuh Nadia. Berjalan mundur menjadikan diri mereka tameng untuk istri Tuan mereka itu. Dengan dipimpin Yoga, ketiganya mengarahkan pistol pada dua orang di sana.

__ADS_1


Lagi-lagi mereka termangu. Selalu ada kejutan tak terduga yang dilakukan adik bungsu mereka itu. Pemikiran dan rencana yang matang, tak pernah salah perhitungan. Berpengalaman sekali. Dia kejam, dan tak berperasaan.


Mereka menurunkan senjata di tangan, gemetar ketakutan melihat ketiga orang yang secara bersamaan membidik ke arah mereka.


Nadia berlari dan memeluk suaminya. Menumpahkan tangisan saat mendapatkan ketenangan dari pelukan hangat lelaki itu. Paman Harits menciumi bayi Zahira yang masih menangis.


"Masuk ke dalam mobil dan tunggu aku di sana! Zahira butuh ketenangan!" titahnya yang diangguki wanita itu. Nadia melayangkan lirikan pada keluarga kakaknya. Tersenyum sebelum ia memasuki mobil untuk menenangkan Zahira.


"Kerja bagus! Kamu memang selalu bisa diandalkan!" Paman Harits menepuk bahu Yoga yang sudah berdiri di sampingnya. Lelaki itu bergeming tanpa menyahut, pandangannya waspada pada dua laki-laki yang kalah telak di sana.


"Kami menghancurkan rumah mereka, Tuan!" lapor salah satu rekan Yoga. Cukup lantang hingga membuat kedua kakaknya membelalak di kejauhan.


"Kerja bagus! Apa masih ada kejutan!" tanya paman Harits dengan senyum tersemat di bibir dan lirikan mata yang sengaja ia jatuhkan pada mereka. Anggukan kepala darinya membuat lelaki itu mengerti.


"Bersihkan semuanya! Kita pergi dari sini sebelum mereka datang!" titahnya seraya memasuki mobil menyusul Nadia.


Yoga belum bergerak sampai mobil Tuannya keluar dari area itu. Ia memberi perintah, melepaskan semua orang dan melemparkan peledak tersebut ke lain arah untuk memancing. Mereka pergi dengan tertib setelah membiarkan para tawanan menemui suami mereka.


Tak sadar bahwa orang-orang yang mereka sewa telah dilumpuhkan Yoga.


"Apa benar, mereka menghanguskan rumah kita?" tanya keduanya pada istri dan anak mereka. Anggukkan kepala menjawab ketidakpercayaan di hati mereka.


"Harits sialan!!" teriaknya kuat berbarengan dengan suara ledakan yang mengguncangkan tanah.


Boom!


Terkejut. Mereka saling memeluk, tepat setelah ledakan, bunyi sirine mobil polisi memasuki area tersebut. Menjadikan mereka tersangka karena memiliki barang yang seharusnya tak mereka miliki.

__ADS_1


Dua keluarga itu pun digiring ke kantor polisi meskipun menolak, tapi para petugas itu tak menemukan siapa pun selain mereka di sana.


__ADS_2