Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Mendatangi Bui


__ADS_3

Lelaki itu tersenyum ketika tangannya mendorong pintu, disambut dua wanita yang ia sayangi saling berpelukan di ranjang yang sama. Mereka terlelap, mungkin karena lelah setelah berjuang selama hampir seharian.


Kelopak indah itu bahkan nampak membengkak. Ada goresan di tangannya meskipun kecil, hal itu sudah membuat hatinya bergejolak. Ia dekatkan langkahnya mengikis jarak antara mereka hingga duduk tepat di belakang punggungnya.


Piyama pendek yang dikenakan, menampakkan setiap lekuk tubuh istrinya. Kulit seputih susu, mulus dan tanpa cela. Disapunya kulit lembut tersebut, dikecupnya goresan luka itu dengan pelan. Tetap saja wanita yang tengah tertidur itu, tak terusik sama sekali.


Bibir lelaki itu membentuk garis lengkung ke atas meskipun tipis, ia nampak menawan. Tangannya beralih membelai bayi yang dalam dekapan. Diusapnya pula bayi itu sebelum mengecup keduanya.


"Mmm ...." Nadia menggeliat merasakan sentuhan lain dari suaminya. Kelopak mata itu terbuka dengan pelan, tersenyum bibirnya saat mendapati sang suami tepat di depan wajahnya.


"Sudah pulang? Bagaimana keadaaan Ibu?" Ia mengalungkan kedua tangannya di leher lelaki itu. Beranjak Paman Harits bersama Nadia yang menggelayuti lehernya.


"Ibu masih harus di rumah sakit. Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Untuk hari ini, di kamar saja jangan keluar selangkah pun. Kamu mengerti?" Ibu jarinya mengusap pipi lembut Nadia. Tersemat senyum di bibirnya menekan sang istri.


Nadia mengangguk terpaksa lagipula dia benar-benar lelah. Tubuhnya terasa kaku, ia butuh istirahat yang cukup.


"Bagaimana dengan Zahira? Apa dia masih suka menangis seperti tadi?" Lirikannya beralih pada bayi yang masih terlelap.


Nadia ikut melirik. "Hampir seharian ini dia menangis terus karena takut. Mungkin hatinya masih kaget jadi masih selalu terbangun tiba-tiba dan terus menangis, tapi sudah mulai mending, Mas. Tidak seperti saat di mobil tadi," jelas Nadia. Ia melingkarkan kedua tangan di pinggang suaminya. Memeluknya dan menjatuhkan kepala di dada bidangnya.


"Syukurlah, semoga saja tak akan lama." Baik Nadia ataupun suaminya, keduanya tersentak kaget saat tiba-tiba merasakan guncangan. Sama-sama menoleh pada Zahira yang terlonjak dalam tidurnya.


Nadia sigap melepaskan diri dari suaminya, mengusap-usap dada sang putri sambil membacakan sholawat pengantar tidur. Dalam tidur pun, bayi itu sesenggukan meskipun tak menangis.

__ADS_1


"Mas, mau ke mana lagi?" Nadia berbalik ketika suaminya beranjak dari ranjang. Lelaki itu menunjuk kamar mandi dengan dagunya. Ia ingin membersihkan diri terlebih dahulu. Nadia mengangguk, ikut beranjak dari ranjang menutup semua tirai di kamar.


Ia melakukan panggilan video bersama Winda mencari tahu keadaan Ibu. Duduk di dekat jendela dengan pandangan awas pada bayi yang terlelap di ranjang. Nadia bersyukur Ibu di sana masih menyambutnya dengan senyum.


Angin malam berhembus kencang, petir menyambar tiada henti. Cuaca buruk di luar, membuat semua orang enggan beranjak. Nadia mendekap tubuh Zahira, bayi itu masih selalu menangis saat mendengar suara keras. Ia melantunkan sholawat di telinganya, agar meredam suara-suara yang menggelegar di luar.


Hujan mulai turun dengan deras, tirai kamarnya berterbangan mengantarkan angin dari luar. Nadia dan Zahira tak beranjak dari ranjang mereka. Berpelukan menunggu suaminya yang entah sedang apa di lantai satu rumah mereka.


"Tuan apa yang Anda lakukan di dapur? Bibi akan membawakan makanannya ke kamar nanti," pekik Bibi terkejut saat melihat paman Harits sedang memasak makan malam di tengah badai.


Lelaki itu tersenyum, ia baru saja menyelesaikan masakannya dan akan membawanya ke kamar.


"Tak apa, Bi. Ini sudah selesai." Ia melengos tanpa melihat ekspresi Bibi yang meringis. Dilihatnya keadaan dapur, semua peralatan berserakan di atas meja. Belum bahan-bahan makanan yang berceceran di setiap sudut.


"Dia memasak atau hanya ingin membuat dapur berantakan?" Bergumam kecil yang hanya didengar oleh telinganya.


"Apa Tuan mendengarnya, ya? Bagaimana kalau Tuan mendengarnya?" Bibi menggaruk kepala sebelum membereskan semuanya seperti semula.


Angin di luar mulai mereda, petir pun mulai jarang terdengar. Namun, sang hujan masih turun dengan deras. Paman Harits memasuki kamarnya, tersenyum saat anak dan istrinya menyambut.


"Lihat, Ayah ada di sini bersama kita." Seolah-seolah faham apa yang dikatakan Bundanya, Zahira mengangkat kedua tangan meminta digendong Ayahnya. Paman Harits meletakkan nampan yang ia bawa, beralih mengangkat Zahira dan menciuminya. Gelak tawa bayi itu membuat kekhawatiran menjadi sedikit terurai.


Nadia memperhatikan masakan yang dibuat suaminya. Dahinya sedikit mengernyit.

__ADS_1


"Mas, apa ini nasi goreng?" Menunjuk makanan di atas nakas yang entah seperti apa rupa dan bentuknya, "tumben Bibi masak nasi goreng malam begini," lanjutnya bergumam. Ia menyendok nasi tersebut dan merasainya.


Paman Harits bersama Zahira mematung, menunggu reaksi sang istri setelah mencicipi makanan yang dibuatnya.


"Ini tidak seperti masakan Bibi, tapi rasanya lumayan. Apa Mas yang membuatnya?" Pandanganya beralih pada lelaki yang masih bergeming di tempatnya.


Anggukan pelan kepalanya menjadi jawaban. "Tidak enak, ya? Padahal, Mas buatnya dengan segenap cinta di hati Mas, lho. Hah ...." Ia mengeluh. Mendaratkan bokong di atas ranjang bersama putrinya.


Nadia terkekeh, mengambil satu piring miliknya dan memangku nasi goreng tersebut. Ia memakannya lagi dan lagi.


"Enak, siapa yang bilang tidak enak? Hanya saja lain kali, tambahkan lagi sedikit garamnya. Ini enak, Mas. Coba Mas makan!" ucap Nadia sambil terus melahap nasi goreng itu.


Paman Harits meletakkan Zahira di sisinya, memberikan bayi itu mainannya sebelum ia mengambil bagian. Memakannya, ia mengangkat bahu. Benar, rasanya memang tidak buruk, tapi juga tidak seenak buatan Bibi dan istrinya. Sederhana saja, sudah cukup membuat mereka tersenyum.


Berhari telah berlalu, bayi Zahira pun tak lagi sering menangis. Hanya saja, ketika dia mendengar suara keras masih sering terlonjak kaget.


Hari itu, paman Harits berencana mendatangi mereka di bui. Ia pergi bersama Yoga membawa sesuatu di tangannya untuk mereka serahkan kepada pihak kepolisian sebagai bukti di pengadilan nanti.


Paman Harits menemui kedua Kakaknya usai menyerahkan bukti-bukti itu pada polisi. Tersenyum menyapa mereka, mengejek kebodohan mereka.


"Hallo, Kakak! Bagaimana rasanya tinggal di dalam bui? Apa menyenangkan?" Paman Harits berbasa-basi.


"Sialan kamu, Harits! Aku pastikan kamu akan menyesal, Harits!" umpat mereka masih berani mengancam.

__ADS_1


"Jika kalian mendekat satu langkah saja, maka aku akan berlari seribu langkah untuk mendekat. Masih berani mengancam? Akan aku bungkam mulut kalian itu di pengadilan nanti. Sampai jumpa, Kakak!" Tindakan paman Harits benar-benar menyulut emosi keduanya.


Ia berbalik tanpa menghiraukan umpatan dan cacian dari orang-orang yang berada di balik jeruji besi tersebut. Tak acuh dan terus meninggalkan penjara. Puas rasanya melihat keputusasaan di wajah mereka.


__ADS_2