Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Sikap Nadia


__ADS_3

Sementara penjaga resepsionis itu dibawa Yoga ke ruang sidang, paman Harits membawa Nadia ke ruangannya. Ruangan yang cukup besar untuk sebuah kantor. Kenapa suaminya itu suka sekali kemewahan? Ia menggelengkan kepala, lidahnya berdecak berkali-kali.


"Kemari, anak Ayah!" Paman Harits membentang kedua tangan menerima Zahira dari tangan Nadia, "maafkan Ayah, Nak karena akhir-akhir ini pekerjaan di kantor menumpuk. Ayah jadi kurang bermain denganmu, ya." Paman Harits menimang bayinya.


Gelak tawa riang khas bayi menggema di ruangannya ketika paman Harits menggesekkan hidung di perut Zahira. Nadia tersenyum, sesekali mengusap punggung bayinya bila dirasa perlu.


"Banyak berkas yang harus Mas periksa. Kalau Mas bawa ke rumah, tidak akan pernah selesai. Mas tidak kuat menahan godaan dari dua putri cantik di rumah," katanya menjatuhkan lirikan pada Nadia setelah meletakkan Zahira di pangkuan.


Dikecupnya dahi sang istri mesra. Nadia menyandarkan kepala di bahu laki-laki itu.


"Aku mengerti, Mas, tapi ini weekend. Aku tidak tahu kalau pekerjaan Mas masih sangat menumpuk. Aku ingin mengajak Mas berpiknik di taman bersama Zahira," ungkap Nadia sambil menopang dagu di atas tangannya sendiri yang ia letakkan pada bahu paman Harits.


"Tidak apa-apa, kalau begitu Mas harus cepat. Sebelum Dzuhur nanti harus selesai. Setelah itu, kita akan berjalan-jalan di taman, tapi makanannya di sini saja, ya. Tidak apa-apa, 'kan?" ucap Paman Harits menolehkan kepala pada Nadia.


Wanita itu mengangguk setuju. Tak apa, saat sore pasti banyak anak yang akan bermain di taman kota.


Paman Harits menyerahkan kembali Zahira padanya. Di atas sebuah karpet bulu, keduanya menunggu paman Harits menyelesaikan pekerjaan.


Dari tempatnya duduk, paman Harits melirik anak dan istrinya. Tak ada suara apa pun dari arah mereka. Ia menggelengkan kepalanya ketika mendapati keduanya terlelap. Cacing di perutnya tak henti berbunyi, paman Harits melirik jam di pergelangan tangannya, pukul sebelas siang.


"Pantas saja aku lapar, tak sabar ingin memakan makanan yang dibawa Nadia," gumamnya menyelesaikan pekerjaannya yang terakhir. Ia beranjak dari kursinya, melangkah perlahan, duduk kembali di dekat Nadia.


Ia merebahkan diri di belakang istrinya, memeluknya, dan memainkan tangannya pada sesuatu yang dia suka. Ia masukkan kepala ke dalam hijab Nadia, mengecup tengkuk istrinya membuat wanita itu menggeliat dan melenguh pelan.


"Mas!" Nadia bergumam lirih saat paman Harits semakin nakal. Ia terkekeh sambil keluar dari kerudung Nadia dan beranjak duduk.


"Kenapa nakal sekali?" Nadia menggerutu dengan suaranya yang parau. Ia ikut duduk setelah melirik Zahira yang masih terlelap.

__ADS_1


"Mas lapar, sayang. Ayo, makan!" ucap lelaki itu sambil memutar-mutar tangannya di perut.


"Aku mau cuci muka, Mas. Di mana kamar mandinya?" Nadia menguap berkali-kali. Tidur siang seperti tadi sangat penting untuk Ibu menyusui sepertinya.


"Di belakang kamu, sayang." Paman Harits menunjuk sebuah pintu yang tak jauh dari tempat Nadia beristirahat. Ia beranjak dan masuk ke dalamnya.


Lagi-lagi. "Kenapa kamar mandi kantor saja seperti kamar mandi di rumah, Mas? Mas itu berlebihan," ucap Nadia sembari melangkah mendekati suaminya yang duduk melantai di dekat anaknya.


"Terkadang, kalau pekerjaan menumpuk Mas lebih memilih berendam beberapa saat untuk menghilangkan lelah. Tidak berlebihan jika itu berguna, bukan?" sahutnya menjelaskan. Nadia tak lagi menyahut, ada benarnya juga. Mungkin saja semua itu disetting sedemikian rupa untuk membuat nyaman pemiliknya.


Ia membuka bekal yang dibawanya, berkali-kali jakun lelaki itu naik-turun menelan saliva. Ia memakannya dengan lahap.


"Pelan-pelan, Mas. Tidak akan ada yang merebut makanannya," ucap Nadia memperingati suaminya.


Paman Harits buru-buru menelan makanan di mulut sebelum menyahut, "Karena ini pertama kalinya istri Mas membawakan makanan ke kantor. Mas teramat bahagia mendapatkan perhatian seperti ini." Ia melanjutkan makannya setelah mengucapkan itu.


Tak ada lagi obrolan sampai mereka menyelesaikan makan mereka. Ia sengaja berpesan pada Yoga untuk tidak mengizinkan siapa pun mendatangi ruangannya.


"Mas, akan diapakan karyawan yang tadi? Apa dia akan dipecat?" tanya Nadia ketika melintas bayangan karyawan yang wajahnya memucat tadi.


"Mungkin iya, tapi seperti yang dilakukan Yoga dalam memberi peringatan pada karyawan. Ia akan mengadakannya uji coba dalam waktu satu bulan untuknya." Ia melirik Nadia yang menganggukkan kepalanya. Seperti itu sistem kerja yang diterapkan di perusahaan suaminya. Setiap karyawan yang melakukan kesalahan, akan diberi kesempatan melalui uji coba kerja.


Tok-tok-tok!


"Tuan, boleh saya masuk?" Suara Yoga meminta izinnya.


"Masuk!"

__ADS_1


Pintu berderit, Yoga masuk ke dalam ruangan. Ia mendorong wanita resepsionis tadi untuk menghadap atasan mereka.


"Minta maaf kepada Tuan dan Nyonya kalau kamu masih ingin bekerja!" titahnya dengan raut wajah datar dan dingin.


Wanita itu menjatuhkan diri di lantai, ia bahkan membenturkan kepala di lantai memohon ampunan dari paman Harits dan Nadia. Wanita berhijab di sebelah suaminya ternganga saat melihatnya seperti melakukan sujud itu.


Gegas Nadia memegangi kedua bahunya dan memintanya untuk berdiri.


"Berdiri, kamu tidak boleh melakukan ini!" Dia menggelengkan kepala menolak. Paman Harits bergeming di tempatnya. Yoga pun hanya diam ingin tahu apa yang akan dilakukan Nyonya-nya.


"Tidak, Nyonya. Saya bersalah, tolong ampuni saya!" ucapnya kembali hendak menjatuhkan wajah di lantai.


"Jika kamu melakukan itu, saya tidak akan sudi untuk memaafkan kamu! Bangun! Manusia haram bersujud di hadapan manusia lainnya!" tegasnya tidak main-main. Wanita itu tersentak, ia mendongak memperhatikan wajah garang Nadia.


"Nyo-nyonya ...?" Terbata ia memanggil Nadia.


"Bangunlah! Kamu hanya perlu meminta maaf tidak perlu melakukan hal seperti itu," ucapnya melunak.


Bukan hanya hatinya yang bergetar, tapi hati kedua laki-laki itu pun ikut terkena dampak dari ucapan bernada lembut Nadia. Ia mengulas senyum saat melihatnya mulai berdiri meski tertatih.


"Te-terima ka-kasih, Nyonya. Terima kasih banyak, Anda baik sekali. Saya sangat merasa berdosa. Maafkan saya, Nyonya. Maafkan saya." Ia menundukkan wajah sambil menangis sesenggukan. Nadia mendekatinya, tanpa segan memeluknya.


"Tidak apa-apa, aku yakin kamu sangat membutuhkan pekerjaan ini. Belajarlah dari kesalahanmu dan bekerjalah dengan giat," ucapnya sambil menepuk pelan punggung wanita itu.


"Terima kasih, Nyonya. Saya akan ingat nasihat Anda. Terima kasih," ucapnya berulang-ulang.


Paman Harits melirik Yoga yang termangu melihat bagaimana Nadia bekerja. Tersenyum bibir itu kala mata asistennya melirik, bangga karena memiliki istri yang berhati besar seperti Nadia.

__ADS_1


"Sayang, ayo!" Ajakan paman Harits menghentikan apa yang dilakukan Nadia. Yoga membawa wanita itu kembali ke tempatnya bekerja. Usai Dzuhur nanti semua karyawan akan dipulangkan.


Nadia mengambil bayinya dan menggendongnya. Melangkah keluar dengan hati yang bahagia tentunya.


__ADS_2