
Dalam ruangan yang luas itu, udara tak lagi segar terasa. Pengap yang ada dan menimbulkan sesak yang nyata. Nadia termangu pada langit-langit kamar yang selalu menjadi teman netranya kala ia butuh pemandangan yang lembut.
Helaan napas berulangkali ia hembuskan. Menanggalkan rasa sedih yang merebak di dada. Berguling ke kanan menatap jendela tempatnya melepas kepergian tiga anak yang selama lima tahun ini ia asuh.
"Ikhlaskan, Nadia! Mulailah kehidupanmu sendiri," gumamnya menyemangati diri sendiri. Ia membalik tubuhnya lagi. Bayangan tawa ketiga anak itu berhasil menjatuhkan air matanya. Cepat-cepat Nadia mengusapnya. Ini sudah menjadi keputusannya.
"Tidak perlu lagi memikirkan mereka, Nadia. Belum tentu mereka juga memikirkan dirimu." Nadia beranjak duduk. Lintasan-lintasan peristiwa saat ia berkumpul bersama mereka, berdesak-desakan dalam pikirannya.
Nadia pergi ke kamar mandi, mengambil wudhu dan menunaikan sunah dua rakaat sebelum menunaikan shalat Dzuhur. Khusyuk ia berdzikir, tak lelah demi dapat melupakan kesedihan hatinya. Nadia mengambil Al-Qur'an membuka lembaran kitab suci tersebut dan membacanya dengan lirih.
Lantunan murottal menyejukkan hati siapa saja yang mendengarnya. Merdu dan lembut suara Nadia menyengat keimanan pemilik sepasang telinga yang menguping. Paman Harits yang baru saja sampai, ia lekas mendatangi kamar Nadia. Niat hati ingin menenangkan wanita itu agar tidak terlarut dalam kesedihan.
Namun, ternyata bukan Nadia yang membutuhkan penenang. Hatinya-lah yang sesungguhnya membutuhkan. Ia bersandar pada dinding dekat pintu kamar Nadia, khusyuk mendengarkan Nadia melantunkan ayat demi ayat dari Kalam Ilahi tersebut.
Paman Harits memejamkan mata, menikmati suara lirih nan merdu dari dalam kamar. Seumur hidup paman Harits belum pernah merasakan kenikmatan seperti ini. Air matanya luruh, hatinya nyeri mengingat betapa jauh dirinya dari Tuhan. Timbul perasaan tidak pantas dalam dirinya, minder.
Bagaimana mungkin dia mengaku sebagai calon suami dari wanita yang dekat dengan Tuhannya? Sementara dirinya, hanyalah seorang bajingan yang tidak pernah mengenal siapa Tuhannya.
Paman Harits buru-buru mengusap air matanya, ia beranjak dengan cepat dan memasuki kamarnya sendiri tatkala Nadia menyelesaikan bacaannya. Ia tak ingin wanita itu memergokinya sedang menguping.
Teringat akan suara kumandang adzan Dzuhur yang menggema di seluruh kota, terbersit keinginan dalam hati untuk menunaikan ibadah.
__ADS_1
"Hah ... bismillah!" Paman Harits beranjak dari sofa dan masuk ke kamar mandi. Inilah fungsi sebuah kran air di dalam kamar mandi. Untuk berwudhu.
Sambil membayangkan tata cara wudhu yang diajarkan Nadia, paman Harits meraba ingatannya. Dalam hatinya meragu apakah caranya berwudhu telah benar? Namun, ia tahu Allah Maha Pengampun. Paman Harits melanjutkan wudhu, tidak seperti Nadia yang akan bergumam melafazkan bacaan-bacaannya. Sudah mengingat urutannya dengan benar saja, ia sudah untung.
Paman Harits membuka almari, dibukanya sebuah kotak dan ditariknya keluar. Inilah fungsi sebuah sarung pemberian Bibi pekerja di rumahnya setiap menjelang lebaran. Untuk digunakan menghadap Tuhan.
Paman Harits menggelar sajadah. Tak lupa ia melihat Kompas terlebih dahulu, takut salah arah. Peci, koko, dan sarung yang ia kenakan semua itu adalah pemberian wanita tua yang bekerja di rumahnya.
Tunggu! Ada yang dia lupa. Paman Harits mengambil laptop, ia meletakkan benda itu di sampingnya berdiri menunaikan shalat. Mencari tata cara shalat dan bacaan-bacaannya yang berupa audio. Paman Harits yang tak mengenal seperti apa orang beribadah, ia laksana seorang bayi yang baru saja dilahirkan.
Belajar mendengarkan terlebih dahulu. Dengan tuntunan audio yang diputarnya, paman Harits mendirikan shalat. Hatinya menangis pilu hingga terurai menjadi air mata. Ia jatuh tersungkur di atas sajadah, memohon ampun pada Yang Kuasa. Betapa hina dirinya yang selama hidup tak pernah melakukan sujud. Betapa angkuh dan sombongnya ia yang selama bernapas tak mau mengenal Tuhannya.
Siang itu menjadi waktu istimewa kembalinya seorang hamba pada jalan kebenaran. Paman Harits bertafakur, menghitung dosa-dosa yang telah ia kumpulkan selama hidup. Mengurai semua nikmat yang telah diberikan Tuhan selama ia jauh dari-Nya.
"Ya Allah ... betapa jauh aku darimu, dan betapa dekat Engkau denganku. Aku yang tak mampu melihat-Mu, padahal aku tidak buta. Aku tak mampu mendengar panggilan-Mu, padahal aku tidak tuli. Aku tak pernah menyebut nama-Mu, padahal aku tidak bisu. Ya Allah ... akankah Engkau sudi mengampuni dosa-dosa yang selama hidup ini aku perbuat? Aku merasa malu ... malu-"
"Malu karena selalu menikmati pemberian-Mu, tapi tak pernah mau mengenal dzat-Mu. Tuntun aku menuju jalan-Mu. Aku tidak ingin rasa sakit saat sakaratul maut menyiksaku. Ampuni aku, ya Allah ... ampuni!"
Paman Harits larut dalam taubat yang sesungguhnya, menangis menyesali hidupnya yang tak pernah melakukan ibadah. Dosa-dosa yang selama hidup ia lakukan, datang silih berganti memenuhi kepalanya. Jika hukum Allah dibayar tunai, maka ia sudah tak lagi bisa menikmati hidupnya.
Tanpa ia sadari, membawa Nadia bersamanya adalah kehendak Allah. Jalan untuknya mulai mengenal siapa Tuhannya. Diri yang hina yang hanya terbentuk dari segumpal tanah liat yang diberi nyawa dan kesempatan hidup.
__ADS_1
Nadia keluar dari kamar setelah menunaikan ibadah shalat Dzuhur. Ia berniat ke rumah anak-anak dan bermain bersama mereka semua.
"Mbak Nadia, kita makan siang dulu, yuk!" ajak Rima yang langsung menggandeng tangan Nadia menuju ruang makan. Sudah ada Winda di sana yang membantu Bibi merapikan makanan.
"Kak Harits sudah datang?" tanya Nadia. Ia duduk di kursinya dan menatap kursi yang biasa diduduki paman Harits, kosong.
"Tuan tidak terbiasa langsung makan jika setelah berpergian. Nona bisa makan terlebih dahulu," sahut Bibi yang mendengar pertanyaan Nadia. Ia mengangguk dan mulai makan bersama Winda dan Rima.
Tak ada lagi raut sedih yang ditunjukkan kedua wanita yang menemaninya makan itu. Dengan melihat Nadia di ruang makan dan ikut makan bersama, mereka sudah bisa melupakan kesedihan yang terjadi di pagi hari tadi.
"Mbak Nadia mau ke rumah anak-anak? Aku ikut." Winda menyusul.
"Aku juga." Rima ikut mengekor. Nadia tersenyum dan terus melangkah.
Ketiga wanita itu tersentak dan sontak menghentikan langkah ketika melihat paman Harits yang berdiri dengan sebuah koper besar di sampingnya.
"Bisa tinggalkan kami?" pinta paman Harits pada dua wanita yang bersamanya. Keduanya sigap mengangguk dan berlalu pergi. Paman Harits mendekat pada Nadia yang terpaku di tempatnya.
"Kakak ... akan pergi? Ke mana?" Suara wanita di hadapannya bergetar menahan tangis. Ia menggigit bibirnya dengan kepala tertunduk ketika kesedihan yang baru saja ia urai kembali mencuat ke permukaan. Matanya memanas, dan air telah menggenang di ujungnya.
Paman Harits tersenyum, memaku tatapan pada manik hangat milik wanita yang telah bersemayam sebagai ratu di hatinya.
__ADS_1
"Aku ...."