Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Bertengkar


__ADS_3

Saat malam sunyi sepi, Nadia termenung seorang diri. Memikirkan apa yang akan dia lakukan untuk kemudian hari. Menatap langit yang dipenuhi bintang gemintang. Bertabur indah menghiasi cakrawala malam.


Di tempat ini, di tempat duduk ini, dia pernah merasakan pelukan hangat Ikram. Laki-laki yang menjadi suaminya juga suami dua wanita lainnya. Kala itu, cintanya begitu besar untuk laki-laki itu hingga untuk memikirkan kata pisah saja ia tidak berani.


Nadia tersenyum, pada bulan dan bintang yang menari bersama awan. Dulu, wajah tampan mempesona laki-laki itu selalu muncul dari balik awan kelam. Tersenyum padanya seolah menyapa hatinya yang kesepian.


Namun, kini semua itu hilang. Pudar bersama rasa yang dia simpan. Nadia bertahan bukan untuk dirinya, bukan untuk mengemis cintanya. Dia hanya ingin berlama-lama mengurus anak-anak yang diasuhnya. Tunggu saja. Nadia telah melakukan sesuatu untuk mereka.


Tok ... tok ... tok!


Suara ketukan pintu depan menganggu lamunannya. Ia terpaksa beranjak. Mengeratkan jaket tebal yang membungkus tubuhnya seraya berjalan membukakan pintu.


"Mas!" Dahinya berkedut tatkala melihat Ikram berdiri di luar rumah dengan wajah dingin dan datar.


Ikram tak menyahut, ia menarik tangan Nadia dan membawanya masuk. Wajah Nadia masih pucat terlihat, tapi Ikram tak peduli. Amarahnya meluap kala mengingat wanita itu yang keluar rumah tanpa izin darinya.


"Ada apa, Mas?" tanya Nadia setelah Ikram menghempaskannya di atas sofa.


Laki-laki itu masih berdiri dengan kilatan amarah yang kentara. Nadia menunggu, menatap tanpa takut manik kelam milik Ikram.


"Apa kamu tidak bisa menghilangkan kebiasaan kamu pergi tanpa izin dariku?" tanya Ikram membuka masalah. Nadia meneguk ludah. Ia memang tidak sempat izin karena tubuhnya yang tiba-tiba drop.


"Ma-maaf-"


"Maaf? Selalu kata itu yang kamu ucapkan ketika kamu melakukan kesalahan. Kenapa? Apa kamu sudah tidak betah tinggal di sini? Atau kamu sudah bosan menjadi istriku? Katakan! Kenapa kamu selalu melakukan itu?" tuntut Ikram menggeram dengan rahang yang mengeras.


"Bu-bukan begitu. A-aku ... aku-"


"Apa?"


Nadia menunduk, ia menangis. Bukan karena Ikram memarahinya, tapi karena ia tidak biasa orang lain membentaknya. Hatinya terlalu lembut untuk mendapatkan perlakuan kasar seperti itu.


"Maafkan aku, Mas. Maaf, hanya itu yang bisa aku katakan," ucap Nadia sambil terisak. Ia bahkan tak ingin memandang wajah Ikram lagi. Wajah yang dulu membuatnya tergila-gila kini seolah menjelma menjadi sosok yang tak ingin dilihatnya.

__ADS_1


Ikram mengusap wajah kasar, ia lelah menghadapi sikap Nadia yang selalu lembut ketika dia marah. Kata maaf itu selalu meluncur puluhan kali dari bibirnya saat Ikram memprotes sikapnya.


"Bisa tidak sekali saja kamu tidak mengatakan maaf. Katakan saja alasannya kenapa kamu selalu keluar tanpa meminta izin dariku dulu? Hanya itu, Nadia. Alasan kenapa kamu pergi sebelum mendapat izin dariku. Bukan kata maaf," sergah Ikram melembutkan suaranya.


Mendengar itu Nadia mendongak, dengan air mata yang terus berlinang ia memandang wajah suaminya.


"Apa yang ingin Mas dengar? Apakah Mas akan percaya jika aku mengatakan kalau aku dirawat di Rumah Sakit karena penyakitku? Apakah Mas akan peduli padaku?" jawab Nadia memberikan pertanyaan kepada Ikram.


Bukannya bersimpati, laki-laki itu mendengus. Ia berpaling sambil tertawa mengejek.


"Itu mustahil. Selama ini kamu baik-baik saja, Nadia. Siapa yang akan percaya kalau kamu itu mengidap sakit? Kurasa tak ada satu pun yang akan mempercayainya-"


"Termasuk suamiku sendiri?" tukas Nadia cepat.


"Termasuk aku, suamimu sendiri," tegas Ikram lagi tanpa memandang wajah Nadia yang berubah sendu.


Nadia tersenyum mencibir. Menertawakan dirinya yang tak diharapkan lagi.


Mendengar itu, Ikram membelalak tak percaya. Ia semakin berang pada Nadia, apa lagi saat melihat wajah pucat itu tersenyum mengejeknya.


"Kenapa? Apa Mas tidak bisa melakukanya? Untuk apa aku di sini kalau hanya menjadi mainan kalian saja. Lebih baik Mas ceraikan aku, dan kita berpisah secara baik-baik, atau aku yang akan pergi ke pengadilan agama menuntut cerai dari Mas," sambung Nadia lagi tanpa gentar sedikit pun.


Ikram semakin geram, tangannya mengepal kuat mendengar Nadia yang mengucapkan kata pisah berkali-kali dalam beberapa detik ini.


"Kamu dengar, Nadia. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menceraikan kamu. Tidak akan!" ucap Ikram sembari menarik dagu Nadia dan mencium bibir itu dengan rakus.


Nadia memberontak, ia mendorong tubuh Ikram hingga pagutan keduanya terlepas.


"Kamu egois, Mas. Di rumahmu sudah ada dua wanita yang akan memuaskan ranjangmu setiap malam. Sedangkan aku, hanya sesekali saja Mas tengok di sini. Aku bukan cemburu, aku hanya merasa kasihan pada Mas kalau harus berbagi dengkul dengan ketiga wanita. Biar aku yang mengalah, Mas. Aku akan pergi secara baik-baik," ucap Nadia memandang tegas manik Ikram.


"Tidak! Aku tidak akan melepaskan kamu. Kamu akan tetap menjadi istriku seumur hidup kamu, Nadia," tutur Ikram melembutkan suaranya.


Nadia membuang muka darinya. Tersenyum miris pada nasib yang sedang mempermainkannya.

__ADS_1


"Mas tidak ingin melepaskan aku, tapi Mas sama sekali tidak peduli padaku. Apa aku ini hanya boneka untuk Mas permainkan? Aku punya hati dan perasaan, kalau Mas sudah tidak menginginkan aku maka, aku rela pergi dari hidup Mas," ungkap Nadia lagi yang kali ini mengatakannya dengan suara isak tangis yang kentara.


Mereka tidak tahu, pertengkaran itu didengar jelas oleh kedua anak Ikram yang menginap di rumah Nadia.


Ikram menyerah, Nadia tetap melembutkan suaranya meskipun dalam keadaan marah. Ia tidak pernah meninggikan suara di hadapannya seperti wanita lainnya.


Ikram menjatuhkan diri di samping Nadia. Memeluk tubuh kurus itu dan menangis bersamanya.


"Maafkan Mas, Nadia. Maafkan Mas. Mas emosi dan tidak tahu harus apa. Tolong ... jangan minta pisah dari Mas. Mas tidak ingin berpisah dengan kamu, Mas ingin terus bersama kamu sampai maut memisahkan kita. Maafkan Mas, Nadia. Maaf," ungkap Ikram menyesali tindakannya yang membentak Nadia.


"Jangan menangis, sudah. Jangan menangis lagi. Mas minta maaf," lanjut Ikram lagi. Ia membalik tubuh Nadia dan mengusap jejak air mata di pipinya.


Ikram menciumi wajah istri keduanya itu dengan lembut. Ia benar-benar menyesal. Dia yang membawa Nadia ke rumah itu, tapi dia juga yang telah mengabaikannya.


"Kamu mau, 'kan, memaafkan Mas. Maafkan Mas, Nadia. Maaf." Ikram kembali memeluk tubuh Nadia membenamkan wajah itu dalam dadanya.


Rasa hangat yang dulu dapat dirasakan Nadia tatkala Ikram memeluknya, kini tak dapat dirasakannya lagi. Hambar. Bagai sayur yang tak diberi garam.


Namun, Nadia mengangguk pasrah. Biarlah dia mengalah untuk saat ini. Ikram melepas pelukan dan mengambilkan Nadia minum.


"Mas, kudengar mobil Mas dijual. Apa itu benar?" Ikram mengangguk pasrah, "kenapa, Mas?" lanjutnya bertanya lagi.


Ikram mendesah, mengingat itu kepalanya selalu dilanda pening yang hebat.


"Mas tidak tahu, Ain yang menjualnya. Mas sendiri tidak tahu kapan dia menjualnya," keluh Ikram lesu. Wajah lelah nampak jelas terlihat.


"Maaf, aku juga mendengar kalau Mas sudah tidak mempunyai uang lagi? Bagaimana dengan nafkah kedua istri Mas yang di rumah? Mau aku bantu?" tanya Nadia lagi sekaligus menawarkan bantuan pada Ikram.


Laki-laki itu tak senang mendengarnya. Dialah kepala keluarga, sudah semestinya dia yang bertanggung jawab atas semua kebutuhan rumah tangga. Bukan istrinya. Ia menggeleng pelan.


"Tidak usah, selama masih bisa makan. Sudah tidak apa-apa, katanya Ain masih memiliki tabungan walaupun sedikit," jawab Ikram.


Tabungan? Sedikit? Kenapa sampai menjual mobil kalau masih memiliki tabungan?

__ADS_1


__ADS_2