Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Menantang Harits


__ADS_3

Nadia duduk menenangkan Ibu yang menangis tergugu di sofa. Ia tidak tahu harus bagaimana, hanya terus saja mengusap bahu Ibu yang berguncang. Sementara di luar, paman Harits masih bersitegang dengan dua saudaranya. Ia yang cemas sesekali akan melongo ke arah pintu khawatir terjadi baku hantam antara suami dan kedua saudaranya itu.


"Sudah, Bu ... jangan menangis lagi, kita doakan saja semoga semua anak Ibu bisa akur," ucap Nadia menenangkan. Ibu menggeleng masih dengan laju tangis yang terdengar memilukan.


"Mereka datang bukan untuk menemui Harits, tapi karena Ibu ... karena Ibu ada di sini." Ibu menangis lagi, ia menundukkan kepalanya.


"Tidak apa-apa, Bu. Wajar saja kalau anak ingin mengunjungi Ibunya, bukan? Jadi, kenapa harus menangis dan menyalahkan diri sendiri." Nadia masih dengan sabar mengusap punggung renta itu.


Ibu lagi-lagi menggeleng, ada rahasia yang disembunyikan Ibu. Ada Bibi juga yang menemani dan ikut menenangkan Ibu.


"Mereka akan membawa Ibu, mereka hanya ingin Ibu. Hanya Ibu yang mereka inginkan," tangis Ibu lagi semakin menjadi, "tapi Ibu tidak mau tinggal bersama mereka lagi. Ibu tidak mau. Sudah lama Ibu mencari Harits, tapi mereka selalu menghalangi. Ibu tidak mau ikut mereka." Ibu tersedu semakin menjadi.


Nadia merengkuh kepala Ibu dan memeluknya. Ia mengerti perasaan itu. Bibi ikut mengusap-usap punggung Ibu, ia bisa merasakan seberapa dalam kesedihan Ibu dari laju tangis yang terdengar.


"Setidaknya, biarkan Ibu ikut dengan kami!" hardik salah satu kakak paman Harits dengan kuat hingga membuat Nadia menoleh pada pintu dan melihat suaminya yang sudah mengepulkan asap di kepala.


"Ibu sudah memilih tinggal denganku, Ibu tidak akan ke mana-mana. Ibu akan tetap di sini bersamaku!" Paman Harits masih menahan diri. Ia mengepalkan kedua tangan geram. Teringat akan perlakuan mereka di masa lalu, ingin ia mencabik keduanya dan memakan jantung mereka. Jika saja sosok yang di depan mereka adalah Harits di masa lalu.


"Kamu tidak bisa menahan Ibu, Harits. Ibu harus ikut dengan kami." Suara wanita ikut menimpali. Paman Harits melirik, tajam matanya menghujam jantung istri kakaknya itu. Ia gugup, dan menunduk.


"Siapa kamu berani memutuskan! Ini rumahku, aku yang punya kuasa di sini! Pergi! Sebelum aku mengambil tindakan." Paman Harits menunjuk gerbang, masih menahan diri demi menghormati Ibu sebagai Ibu mereka juga.


"Tidak bisa, kami harus membawa Ibu!" Kakak pertama merangsek hendak masuk. Ia mencoba menerobos pertahanan orang-orang paman Harits di pintu. Namun, mereka adalah orang-orang terlatih, tak mudah merusak formasi yang mereka buat.


"Ibu! Ibu! Keluar Ibu! Ibu harus ikut dengan kami!" teriaknya di ambang pintu.

__ADS_1


Ibu semakin berguncang, tubuhnya gemetar hebat. Nadia mengeratkan pelukan masih menenangkan Ibu yang terus berucap tidak mau ikut dengan mereka.


"Tenang, Bu. Mereka tidak akan bisa menerobos masuk. Orang-orang Mas Harits tidak akan membiarkan mereka masuk tanpa izin darinya. Tenang, Bu." Nadia tak menyerah memenangkan wanita tua itu.


"Kurang ajar kamu, Harits!" Kakak kedua geram. Ia mendekat pada paman Harits dan melayangkan tinjunya tepat mengenai pipi kiri lelaki itu. Namun, ia bergeming seolah-olah terpaku di tempatnya berdiri.


Paman Harits tak mengelak, ia membiarkan tangan itu mendarat di pipinya. Yang dilakukannya hanyalah memejamkan mata, dan terbuka lagi saat kakak keduanya justru merintih kesakitan.


Paman Harits memberikan kode pada mereka yang bereaksi untuk tetap di tempat mereka. Ia jatuhkan lirikan matanya pada kakak yang masih memegangi tangan sambil meringis kesakitan.


"Kenapa? Bukankah kamu yang memukulku, kenapa kamu yang kesakitan? Ck ... ck ... ck ...." Paman Harits menggeleng.


"Heri! Kamu tidak apa-apa?" Kakak pertama datang melihat sang adik. Ia memperhatikan buku-buku jari adiknya yang memerah dan pasti berdenyut.


"Kurang ajar! Apa yang kamu lakukan pada Kakakmu sendiri?" Ia geram. Menghardik paman Harits dengan keras.


"Kurang ajar!"


Kepalan tangan sang Kakak kembali melayang tepat di hadapan paman Harits. Namun, kali ini lelaki itu tak membiarkan ia mendarat di wajahnya. Tangan kanannya menangkap kepalan tinju dan mencengkeramnya.


"Dua puluh tahun lebih, aku belajar bagaimana cara menjadi kuat. Dua puluh tahun lebih, aku belajar bagaimana cara mengalahkan kalian. Dua puluh tahun lebih, aku membiarkan kalian menyiksaku karena kelemahanku. Sekarang, jangan harap kalian masih bisa menyakiti aku!"


"Argh!" Ia menjerit saat paman Harits menguatkan cengkeramannya. Kuat sekali hingga tak bisa lepas begitu saja. Ia memutar tangan Kakaknya itu semakin pilu jeritan yang terdengar.


"Mas!"

__ADS_1


"Harits! Dia Kakakmu, cukup, Harits! Cukup!" jerit istri kakak pertama sambil menangis histeris.


Napas sang kakak memburu karena gejolak rasa linu yang ia derita. Seluruh sendi tangannya seolah dipaksa lepas dari tempatnya.


"Lepaskan tanganmu!" Kakak kedua ikut membela, ia memukuli tangan paman Harits yang masih mencengkeram tangan kakak sulungnya.


Paman Harits melepasnya dan melayangkan tamparan kuat di pipi kakak pertamanya itu. Membuatnya jatuh terjengkang hingga turun dari teras dan mendarat di kaki para pengawal paman Harits.


"Mas!" Istrinya berlari mendekati. Ia melihat darah di sudut bibir suaminya. Kuat sekali tamparan paman Harits sampai merobek sudut bibir kakaknya.


Dengan cepat, tangannya menyergap kakak kedua. Ia meringis kesakitan saat paman Harits memutar tangannya. Dan dua tamparan yang tak kalah keras mendarat di kedua pipi kakak keduanya itu.


Ia mundur sambil memegangi kedua pipinya yang terasa panas terbakar.


"Apa yang kalian dapatkan, tak sepadan dengan apa yang kalian lakukan padaku dulu! Jika kalian masih berani datang mengganggu, aku tak akan segan mematahkan seluruh tulang dalam tubuh kalian. Pergi! Ibu tak akan ke mana-mana!" katanya penuh ancaman.


"Kurang ajar kamu, Harits! Kamu pikir kami takut pada ancamanmu itu, hah! Bagi kami kamu tetap lemah seperti dulu, hanya mengandalkan orang-orang saja untuk melindungi dirimu." Masih belum sadar siapa yang menampar tadi.


Paman Harits tersenyum, ia melangkah mendekat. Membuat mereka siaga.


"Silahkan saja kalau kalian memang ingin membuktikannya. Pada saat hari itu datang, aku tak akan segan lagi untuk membalas semua perbuatan kalian. Atau ... aku lakukan sekarang saja!" Paman Harits melangkah, setiap ketukannya memberi dampak luar biasa pada hati mereka.


Terlebih saat melihat wajah paman Harits yang serius. Mereka termundur, sayang terhadang orang-orang paman Harits yang memblokir jalan mereka.


"Ke mana kalian akan lari? Ini wilayahku, kalian tidak bisa lari dari sini dengan mudah!" katanya memberikan seringainya pada kedua kakaknya itu.

__ADS_1


"Harits! Jangan, Nak! Ibu mohon ... Nadia! Nadia!"


__ADS_2