Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Kedatangan Paman


__ADS_3

Kembali pada saat Nadia koma di Rumah Sakit.


Beberapa jam setelah Ruby pergi, seorang laki-laki dewasa berpenampilan parlente mendatangi Rumah Sakit di mana Nadia dirawat. Ia langsung bertemu dengan dokter yang menangani Nadia. Berbincang sebentar, dan akhirnya memutuskan untuk membawa Nadia ke Rumah Sakit besar di Jakarta. Nadia masih dalam keadaan koma waktu itu.


"Maaf, siapa Anda?" tanya Rima tatkala laki-laki itu mendatangi kamar Nadia bersama dokter.


"Dia adik dari almarhum papahnya Nadia, dia datang karena ingin menjemput Nadia dan membawanya ke Rumah Sakit yang lebih besar lagi untuk mendapatkan penanganan dari dokter spesialis di sana," terang dokter menjelaskan pada Rima siapa laki-laki dewasa berhidung bangir itu.


"Silahkan, Tuan. Keponakan Anda masih juga belum sadar." Dokter menunjuk pada ranjang. Seorang wanita muda berparas cantik, tapi tubuhnya nampak kurus dan pucat, berbaring dengan berbagai macam alat medis yang menempel di tubuhnya.


Ia pandangi wajah cantik Nadia, hatinya seperti tercubit sakit dan berdarah meskipun tanpa luka.


"Maaf, jika Anda ingin membawa mbak Nadia pergi maka, saya harus ikut. Mbak Nadia tanggung jawab kami setelah Ibu meninggal," ucap Rima yang tiba-tiba mengalihkan pandangan laki-laki tersebut dari sosok Nadia.


"Siapa kamu?" tanya-nya ketus seolah tak suka rencananya membawa Nadia pergi harus dihalangi.


"Aku dan Winda anak-anak malang yang dipungut Ibu dari jalanan, kami bertiga tumbuh bersama-sama dibawah asuhan Ibu. Sekarang, Ibu sudah tidak ada, dan kami-lah yang akan bertanggungjawab atas kehidupan mbak Nadia. Jadi, tolong ... kami tidak bisa jauh darinya. Kami harus memastikan mbak Nadia baik-baik saja," sahut Rima dengan bersungguh-sungguh.


Hah~


Lagi-lagi parlente itu menghela napas panjang. Melihat mata memohon dari manik Rima, ia sungguh tidak tega apa lagi niatnya adalah baik untuk membantu dan menemani Nadia.


"Baiklah, kalian akan aku ajak juga," jawabnya yang menerbitkan senyum di bibir Rima.


"Terima kasih, Tuan-"


"Jangan memanggilku Tuan. Aku bukan majikanmu," tukas laki-laki tersebut dengan cepat.


"Lalu bagaimana kami memanggil Anda!" tanya Rima hati-hati.


"Kamu ini resmi sekali. Sudah seperti sedang review bekerja saja. Panggil saja Kakak, aku masih sangat muda," katanya narsis.


Rima mengangguk meskipun sekuat mungkin menahan tawa.


"Siapa rekanmu?"

__ADS_1


"Winda."


"Di mana dia?"


"Sedang mengantar yang lain pulang, dia juga mengambil dokumen pabrik untuk dibawa," jawab Rima.


Jadilah mereka menunggu Winda, dan pada malam harinya laki-laki yang mengaku kerabat papahnya Nadia membawa wanita itu keluar dari Rumah Sakit Daerah di kota Rangkasbitung dan membawanya ke Jakarta tempat tinggalnya.


"Kenapa kita tidak ke Rumah Sakit?" tanya Winda saat mobil yang membawa mereka memasuki halaman sebuah rumah besar bak istana raja.


"Aku tidak perlu ke Rumah Sakit, aku bisa mendatangkan Rumah Sakit itu ke rumahku jika aku mau," katanya jumawa.


Winda dan Rima saling memandang dan mengangkat bahu tak acuh. Percaya hanya dari melihat rumahnya saja, mereka yakin dia bisa melakukan itu.


"Kamu dengar dia ngomong apa? Bisa membawa Rumah Sakit ke rumahnya? Masuk akal tidak, sih?" bisik Winda saat memasuki rumah besar itu. Nadia dibantu tim medis juga pekerja di rumahnya, dibawa ke kamar khusus yang telah ia siapkan sebelumnya.


"Mungkin maksudnya tim medis," sahut Rima berbisik pula. Keduanya terkekeh tanpa sadar membuat pemilik rumah menoleh pada mereka dengan raut tidak senang.


"Apa yang kalian tertawakan?" ketusnya sudah berbalik menghadap dua wanita yang sontak terkejut mendengar suaranya.


Laki-laki itu terdiam sejenak sebelum menarik napas dan membuangnya.


"Kamar kalian ada di atas, pilih saja mana yang ingin kalian tempati," katanya seraya menaiki anak tangga menuju kamarnya sendiri.


"Mmm ... Tu- eh ... Kakak, boleh tidak kami tidur di kamar mbak Nadia saja. Kami tidak ingin meninggalkannya," pinta Winda yang menghentikan langkah lebar laki-laki itu. Ia menoleh, melihat ketulusan di mata keduanya sungguh ia tidak tega. Dalam hati bersyukur Nadia memiliki dua orang yang peduli padanya. Setidaknya untuk hari ini saja.


"Hah ... sebenarnya dia sudah dijaga ketat oleh orang-orangku. Lagi pula ada tim medis di ruangan sebelahnya, tapi karena kalian bermaksud baik ... ya sudah, aku izinkan," sahutnya sembari tersenyum tulus yang nampak manis di mata kedua wanita itu.


"Terima kasih, Kakak," ucap mereka kompak dengan senyum lebar. Mereka berbalik setelah laki-laki itu mengangguk dan lebih dulu melanjutkan langkah. Keduanya menuju ruangan Nadia yang terletak di lantai satu.


Benar saja, empat bodyguard bertubuh kekar berjaga di depan ruangan itu. Nadia sudah seperti tahanan. Mereka memasuki ruangan tersebut dan kembali tercengang. Ruangan itu tak ubahnya Rumah Sakit mini dilengkapi dengan televisi, telepon, dan berbagai macam hiasan.


Keduanya berdecak kagum melihat interior di dalamnya. Nadia dijadikan putri oleh laki-laki itu. Yang membuat mereka senang ialah, terdapat ranjang lainnya yang seolah disediakan secara sengaja untuk mereka tempati. Berdampingan dengan ranjang Nadia yang dipasangi berbagai macam alat medis.


Winda dan Rima membaringkan tubuh mereka di ranjang tersebut. Berdoa dalam hati semoga Nadia lekas terbangun dari komanya.

__ADS_1


Pagi datang dengan cepat. Rima dan Winda bergegas bangun saat mendengar suara-suara di dalam ruangan tersebut. Tim medis sedang memeriksa keadaan Nadia. Ini masih gelap, tapi mereka tetap siaga menjaga Nadia.


Sarapan mereka bahkan sudah disiapkan pekerja di rumah itu. Enak rasanya hidup dilayani seperti seorang putri raja.


"Mah!" Nadia bergumam. Suara paraunya menyentak Winda dan Rima dari kegiatan obrolan mereka tentang paman Nadia itu.


"Mamah!"


"Mbak Nadia?" Pekik keduanya saat Nadia kembali bersuara untuk yang kedua kalinya. Mereka berhambur mendekati ranjang Nadia. Kelopak mata itu berkedut-kedut dengan air yang tak henti menetes darinya.


Winda sigap menekan tombol di atas ranjang Nadia. Memanggil tim medis untuk segera memeriksa keadaannya


Mereka menyingkir memberi ruang pada tim dokter untuk melakukan tugasnya. Hari itu, Nadia bangun meski dalam keadaan lemah dan terus menangis memanggil Sarah.


"Sayang, jangan terlalu dipikirkan. Ingat kondisi kamu yang baru saja pulih. Saya yakin, Mamah kamu juga ingin kamu kuat menghadapi hidup," ucap salah seorang dokter wanita dengan sifat keibuannya. Ia mengusap kepala Nadia dan tak segan memeluk tubuhnya.


Mendengar keterangan yang dia terima dari pihak Rumah Sakit sebelumnya, dia merasa iba apa lagi setelah membaca catatan medis milik Nadia.


"Kamu harus kuat, sayang. Ingat orang-orang yang menyayangimu mereka ingin kamu kuat dan tetap hidup untuk menemani mereka," lanjut dokter itu lagi seraya melepas pelukan dan membenarkan rambut Nadia. Rambutnya kian menipis karena setiap hari berguguran dari tempatnya.


Nadia mengangguk, ia masih belum sadar di mana dirinya. Karena tempatnya tak jauh beda dari ruangan di Rumah Sakit.


"Saya tinggal dulu, jangan menangis lagi. Lihat mereka berdua begitu menantikan kamu bangun," tunjuknya pada dua orang gadis yang setia menemaninya.


"Winda, Rima?" Nadia membentangkan tangan ingin memeluk keduanya. Menangis lagi sambil berpelukan.


"Terima kasih selalu ada di sisiku," katanya dengan haru. Ia melepas pelukan dan memandangi keduanya.


"Mamah ... kalau nanti aku sembuh, tolong antar aku ke makam Mamah. Apa Mamah dimakamkan di dekat Papah?" pinta Nadia dengan lirih.


"Iya, Mbak. Nanti kita sama-sama menjenguk Ibu setelah mbak pulih," sahut Winda lagi dengan gemetar.


"Itu artinya kita harus ke Jakarta dan aku pasti harus benar-benar sembuh dulu," ucap Nadia dengan wajah menunduk menatap jari-jarinya.


"Kita sudah di Jakarta, Mbak. Paman Mbak Nadia yang membawa kita ke kota ini. Ini juga rumah dia bukan Rumah Sakit." Keterangan Rima membuat Nadia terbengong.

__ADS_1


"Paman? Aku tidak ingat kalau aku punya Paman." Nadia berpikir siapa Paman yang dimaksud keduanya.


__ADS_2