
"Mas, bagaimana pertengkaran tadi? Sepertinya sudah tua, Mas. Kenapa masih dipekerjakan di kebun, Mas?" cecar Nadia sesaat setelah paman Harits duduk di gubuk yang sama dengannya.
Wanita tadi sempat melihat orang yang bertengkar, seorang laki-laki tua dengan rambut yang telah memutih hampir seluruhnya bersama seorang wanita muda yang usianya mungkin saja di atas Nadia beberapa tahun.
Paman Harits belum menanggapi, ia lebih memilih bermain bersama Zahira yang sedang belajar merangkak.
"Dia yang bekerja sendiri, Mas tidak memaksanya." Beberapa saat didiamkan pada akhirnya menjawab juga dengan asal. Nadia tak percaya begitu saja.
"Mas, jangan sampai berbuat zalim terhadap karyawan Mas sendiri. Tanpa mereka, perkebunan karet ini tak akan berjalan. Berikan dia pesangon yang bisa menghidupi masa tuanya, atau ... bangunkan usaha seperti warung dan semacamnya agar tidak bekerja terlalu keras seperti tadi sampai bertengkar," saran Nadia yang selalu merasa iba terhadap kesusahan orang lain.
Paman Harits terdiam, ditatapnya wajah sang istri yang mudah sekali dipermainkan orang lain itu karena kebaikan yang dia miliki. Ia harus apa? Memang begitulah istrinya. Ia akan menjadi pahlawan untuk mereka yang kesusahan sekalipun itu membuat hidupnya susah. Aneh.
"Ke-kenapa Mas melihatku begitu?" Nadia mengernyit aneh saat mata lelaki itu tak berkedip menatapnya. Ia salah tingkah, membenarkan hijabnya yang sama sekali tidak apa-apa hanya untuk mengalihkan rasa malu dalam dirinya.
Namun, mata gelap lelaki itu masih tersorot padanya. Tidak tajam, tapi intens. Menusuk sampai ke ulu hati.
"Berhenti menatapku seperti itu, Mas!" Nadia menutup mata suaminya dengan salah satu tangan. Menahannya agar kelopak itu menutup dan tak memancarkan keanehan dalam dirinya. Tangan lelaki itu pula menyentuh lembutnya tangan Nadia.
__ADS_1
Digenggamnya tangan itu dan dilepaskan pelan-pelan dari menutupi matanya. Ia membawa tangan Nadia menempel pada kulit bibir tanpa mengalihkan pandangannya.
"Kenapa kamu selalu peduli pada hidup orang lain? Tidak bisakah kamu bersikap tak acuh saja dan membiarkan itu semua? Aku takut, saat aku tidak di sisimu lagi kelak, orang-orang di sekitarmu akan memanfaatkan istriku ini." Paman Harits mengecup tangan itu lagi ia menundukkan pandangan menatap kulit lembut milik Nadia.
Disapunya permukaan kulit tangan Nadia menggunakan jari telunjuk. Tak ada cela, benar-benar putih dan bersih. Bagaimana mungkin, padahal Nadia tidak pernah pergi ke salon seperti Bella dulu. Akan tetapi, kulit yang dia miliki nampak lebih indah dari pada mantan istrinya itu.
Tak lama, ia kembali mengangkat pandangannya menatap wajah istrinya itu.
"Katakan! Apa alasanmu melalukan itu?" Bertanya lagi karena wanita di hadapannya justru terdiam dengan mulut terkunci rapat.
"Aku tidak tahu. Aku juga tidak tahu kenapa setiap melihat yang seperti itu, hatiku selalu terenyuh dan merasa kasihan. Ingin selalu membantu walaupun tidak banyak." Nadia mengatakannya tanpa beban sama sekali. Ia selalu mengikuti aturan hatinya tanpa tahu resiko apa yang akan dia hadapi.
Ia pun ingat betul dulu dimanfaatkan oleh mereka. Bagaimana Ain yang dia tolong justru menghabiskan uang tabungan anak-anak asuhnya. Ia ingat betul, tapi sekali lagi Nadia tak ingin berlarut dalam kenangan masa lalu.
"Aku mengerti, Mas, tapi yang tadi itu hanya orang tua. Mana mungkin dia akan melakukan hal buruk terhadapku atau terhadap orang yang telah menolongnya?" Nadia berargumen karena ia tak tahu siapa yang sedang dibicarakan.
Ayah paman Harits yang terkenal licik dan serakah. Bibir lelaki itu membentuk senyuman, ia menoleh ke samping saat sesuatu yang lembut dan halus menyentuh tangannya. Paman Harits mengangkat Zahira dan memangkunya. Membiarkannya menggenggam satu jari miliknya untuk dimainkan.
__ADS_1
"Kita tidak bisa mengukur sifat mereka hanya dari melihat penampilannya saja. Tidak anak-anak tidak pula orang tua, mereka yang licik tetap akan menjatuhkan kita suatu saat nanti. Kamu juga tidak tahu bagaimana orangnya, bukan? Mas yang tahu. Wanita muda yang bersamanya itu adalah istrinya. Dia yang sering berbuat onar di perkebunan ini." Paman Harits menjelaskan.
Ia sedang menimbang dalam hati apakah dia harus jujur pada Nadia perihal kedua orang itu. Zahira di pangkuannya sibuk mengoceh dan bermain jari ayahnya. Nadia menilik wajah suaminya yang nampak sedang berpikir.
"Kamu tahu siapa mereka, Nadia?" Pertanyaan lanjutan yang tak pernah diduga Nadia. Wanita itu tak menyahut, hanya diam dan bersiap mendengarkan apa yang akan diberitahu suaminya itu.
"Mereka adalah dalang dibalik kejadian keracunan semua orang malam itu. Dan malangnya, dia ayahku. Lalu, wanita itu adalah istri sirinya. Mereka ingin membuatmu kehilangan bayi dalam kandungan. Mereka juga mencari berkas perkebunan ini. Beruntung, aku menyimpannya di tempat yang aman." Paman Harits menoleh pada istrinya.
Wanita itu ternganga tak percaya mendengar cerita suaminya. Rasanya tidak masuk akal, apakah memang ada seorang kakek ingin membunuh cucunya sendiri?
"Ya, Nadia. Dia yang selama ini menyiksaku. Dia juga yang memberikan bekas luka cambukan di punggungku. Dia boleh menyiksaku, tapi tidak boleh menyentuh anak dan istriku. Aku memberikannya hukuman untuk bekerja di sini karena dia begitu ingin memiliki perkebunan ini. Namun, mereka selalu berbuat ulah dengan pekerja lainnya dengan menggunakan namaku sebagai kekuasaannya."
Pemaparan suaminya itu semakin membuat Nadia tertegun. Ia ingat betul, bekas luka di punggung suaminya. Jelas dan menonjol, tak dapat membayangkan bagaimana dulu ia menahan semua itu hingga tetap bisa hidup sampai saat ini.
Nadia menundukkan dalam-dalam kepalanya, ia pun geram sekaligus senang akhirnya orang yang menyebabkan keracunan semua orang itu diketemukan jua. Paman Harits membelai kepalanya, menariknya agar mendekat, dan merengkuh tubuh Nadia.
"Sudah, jangan terlalu memikirkan hal yang tidak perlu sama sekali. Hanya pikirkan aku dan anak kita saja. Mas sayang kamu." Bibir lelaki itu mengecup kepala Nadia. Yah, ia juga bisa merasakan besarnya kasih sayang yang dia berikan.
__ADS_1
Nadia mengangguk patuh, kembali terpikir. Apakah hilangnya tangan Bella ada kaitannya dengan laki-laki yang sedang memeluknya itu. Ia tidak tahu dan tidak mau berburuk sangka pada suaminya itu. Masalah Bella mungkin benar itu karena dia melakukan kesalahan fatal yang menyebabkan dia dihukum seperti itu. Sudahlah, hanya fokus pada suami dan anak kita saja, Nadia.