
Keheningan yang dirasakan semua orang di dalam mobil tersebut, terpecahkan oleh tangis Ruby yang menyayat hati. Suara isak yang sesenggukan membuat lidah paman Harits berkali-kali berdecak. Kesal dan jengah.
"Untuk apa kamu menangis? Bukankah ini yang kamu inginkan?" sarkas paman Harits terdengar tidak akrab. Laki-laki yang mengemudikan mobil itu tak lagi ramah padanya. Ruby benar-benar tersesat dalam lembah gelap dari rasa sesal yang menyelimuti hatinya.
"Bukan seperti ini yang aku mau ... bukan!" lirihnya bergetar. Ia menutupi wajah dengan kedua tangan, kepalanya menggeleng pelan. Hati dan pikirannya menolak semua ini.
Paman Harits mendengus, sudah terlanjur kecewa pada ketiga anak yang dibawa Nadia itu. Tak ingatkah mereka siapa yang menemani mereka setiap hari di kala Ain, Ibunya sibuk mengurus diri?
Selayaknya anak macan yang menurut pada induk kucing di waktu kecilnya, tapi ia akan memangsa saat dewasa dan liar.
"Bukan ...?" ulang paman Harits dengan tawa meremehkan yang sengaja ia perdengarkan, "kalau bukan? Lalu, seperti apa yang kamu inginkan? Apakah kamu ingin Nadia ikut kembali ke neraka itu demi terus menemani kamu dan kedua adikmu itu? Hmm ... jangan harap! Walaupun dia memohon, aku tidak akan mengizinkannya tinggal bersama kalian lagi."
Paman Harits melirik Ruby yang terus-menerus menggeleng. Giginya yang merapat beradu kuat hingga terdengar bunyi gemelutuk yang jelas. Tangis Ruby semakin menjadi, rasa sesal kian menyengit di hatinya. Keinginannya hanya tinggal sebuah keinginan yang tak akan pernah terwujud.
Mobil melaju semakin cepat saat jalanan mulai lengang. Tak ingin rasanya berlama-lama dalam satu ruangan yang sama dengan mereka. Perjalanan kali ini, terasa lebih lama. Mungkin karena bukan si dia yang menemani.
"Perlu kamu tahu, Nadia bukan hanya memutuskan ikatan dengan kalian, tapi dengan kota itu juga. Rumah dia yang di sana, ia berikan pada pengurusnya. Pabrik? Nadia menjualnya, dia sudah tak ingin lagi berhubungan dengan kalian. Lupakan Nadia! Jangan pernah berharap lagi kalian akan bertemu. Itu saran ku," papar paman Harits yang membuat syok Ruby.
Bola mata remaja itu membelalak tak percaya, rasanya akan terlepas dari tempatnya. Bahkan Bilal yang berpura-pura tertidur pun ikut menegang mendengar apa yang diucapkan paman Harits.
"Tidak mungkin!" Ruby melemas.
__ADS_1
"Aku tidak ingin pulang! Aku ingin tetap bersama Bunda. Putar balik, Kak! Aku tidak ingin pulang!" jerit Bilal sembari mencoba untuk membuka pintu mobil. Sayang, mobil mewah itu tak dapat dibuka dengan mudah.
Paman Harits tak ingin mendengar. Ia terus melaju ke depan, perbatasan kota sebentar lagi akan mereka lewati.
"Kakak! Bawa kami kembali! Kami ingin tinggal beberapa lama lagi bersama Bunda! Kumohon!" Ruby menimpali. Ia menangkupkan kedua tangan di dada, memohon dan mengiba pada paman Harits agar membawanya kembali.
"Apa bedanya sekarang dan juga nanti? Kalian sama-sama akan berpisah jua. Maaf saja, aku sudah terlanjur kecewa pada kalian. Terutama kamu, Ruby. Seharusnya kamu bisa berpikir lebih matang lagi sebelum mengambil sikap. Nadia pasti akan membawa kalian kembali pulang, tapi tidak seperti ini caranya. Ini juga bukan inginnya, tapi keadaan yang memaksanya melakukan ini-"
"Apa kamu tidak sadar, sikapmu yang mengabaikan Nadia selama beberapa hari hanya karena orang tua kalian masuk ke dalam bui itu, justru membuatnya seperti seorang penjahat. Untuk itu, dia mengambil keputusan ini."
Tangis Ruby semakin keras terdengar. Dia salah, sudah salah menduga dan salah menilai.
"Nadia membawa kalian semua, itu karena dia tidak ingin kalian melihat mereka dibawa polisi sebagai penjahat. Dia tidak ingin kalian tahu kalau orang tua kalian mendekam di penjara. Lagi pula, Nadia hanya ingin memberi mereka pelajaran dan berencana menyatukan kalian dalam keadaan yang lebih baik. Namun, semua rencananya gagal hanya karena keegoisan kalian," ungkap paman Harits lagi semakin membuat sesak dada Ruby.
"Sudahi tangis kalian, dan hapus air mata kalian itu! Sebentar lagi kita akan sampai. Aku tidak ingin dituduh menyakiti anak-anak kecil terlebih dituduh melakukan hal-hal yang tidak senonoh terhadap kalian."
Paman Harits memutar kemudi, berbelok ke kanan. Gang menuju pondok pesantren Al-Masthur nampak suram dan sunyi. Rasa sesak semakin dirasa Ruby tatkala gerbang besar pesantren telah nampak di depan matanya.
Ia mengusap air matanya, juga menenangkan Nafisah yang masih linglung. Sementara Bilal, ia tak lagi menangis. Pandangannya kosong, jasad dan hatinya terpisah jauh. Raganya memang telah kembali ke rumahnya, tapi hatinya tetap bersama Nadia di rumah baru itu.
Ikram dan Ain duduk termenung di teras rumah mereka. Keadaan pondok berjalan seperti biasanya. Ikram telah meluruskan semua masalah, membenarkan dan menyesali semua dengan mengakui perbuatannya di hadapan seluruh santri dan ustadz.
__ADS_1
Keduanya mendongak tatkala suara deruman mobil mengusik indera rungu mereka. Dari gerbang yang memang selalu terbuka itu muncul satu buah mobil mewah dan berhenti di halaman rumah mereka.
Semua penghuni pesantren itu hafal betul mobil mewah siapa yang baru saja terpakir di halaman rumah Ikram. Kening Ikram dan Ain mengerut, dalam hati bertanya-tanya ada apa laki-laki pongah itu datang ke rumahnya. Kasak-kusuk pun ikut meramaikan kedatangan paman Harits ke pondok tersebut.
Pintu terbuka, dan sosok yang mereka tunggu pun akhirnya muncul. Dengan sikap angkuhnya, ia berjalan ke hadapan mobil. Bersandar dengan kedua tangan terlipat di perut. Senyumnya selalu terlihat menjengkelkan di mata Ikram. Mengingatkannya pada sosok Nadia.
"Ada urusan apa lagi Anda datang ke sini?" tanya Ikram tak suka. Paman Harits tertawa kecil, ia tak menyahut. Malah mengangkat bahu tak acuh.
Pintu mobil kembali terbuka, satu per satu anak mereka turun dengan awan mendung yang menghiasi wajah ketiganya. Ain dan Ikram tersenyum lebar melihat ketiga anak mereka pulang.
"Ruby? Bilal! Nafisah? Kalian pulang, sayang?" Air mata Ain berjatuhan. Ia melangkah perlahan-lahan sembari membuka kedua tangannya. Rasa rindu yang menumpuk, akhirnya terobati juga hari ini.
"Anak-anak Umi!" katanya lirih.
Nafisah yang berdiri di tengah kedua kakaknya, mendongak menatap kedua orang yang mengapitnya. Tatapan Ruby dan Bilal kosong, wajah keduanya saja tak nampak gembira. Selayaknya seorang anak yang kembali ke pangkuan ibunya.
Sungguh reaksi tak terduga, Bilal melengos pergi meninggalkan Ain yang belum sempat menggapai tubuhnya. Ia tak menoleh lagi ke belakang, terus membawa kakinya melangkah ke rumah Nadia.
"Bilal?" lirih Ain dengan air mata yang terus menganak sungai.
"Bilal!" Ikram menahan pergelangan tangan Bilal membuatnya menghentikan langkah.
__ADS_1
"Lepaskan tanganku!" Ia menghentakkan tangannya hingga cekalan Ikram terlepas. Paman Harits tersenyum sarkas.