Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Penolakan Sarah


__ADS_3

"Nadia butuh dukungan Mamah untuk meyakinkan keputusan Nadia berpisah dengan mas Ikram."


Angin berdesir kencang, menerbangkan jilbab keduanya hingga bertemu satu sama lain. Sarah yang amat terkejut setelah mendengar kalimat pendek Nadia seketika mematung dengan mulut yang terbuka.


Nadia menunduk, lalu kembali mengangkat wajah memperhatikan riak Sarah yang berlebihan.


"Mah?" panggilnya sembari menyentuh tangan Sarah dengan lembut.


"Tidak, Nadia! Apa alasan kamu hingga kamu meminta pisah darinya?" tanya Sarah setelah sadar beberapa saat kemudian.


Nadia yang gelisah melemparkan pandangan pada air danau yang tenang. Getir yang ia rasakan dalam hati atas apa yang terjadi pada hidupnya.


Ia menggeleng pelan tanpa mengalihkan pandangan dari tempat sebelumnya. Ia menghela napas pendek mengusir sesak dalam dada.


"Ada yang lebih pantas mendampingi mas Ikram selain aku, Mah. Sudah lima tahun menikah aku belum bisa juga memberikannya anak karena penyakit yang aku derita ini, Mah. Aku juga tidak bisa melihat kak Ain terus murung dan sedih. Setiap kali melihatnya, aku selalu dihantui rasa bersalah karena telah merusak kebahagiaan rumah tangganya bersama mas Ikram. Aku mau mundur saja, Mah," jawab Nadia sejujurnya mengatakan sakit yang ia rasakan.


Sarah mengerti apa yang sedang dialami anaknya, ia mengusap tangan Nadia dan menggenggam jemarinya. Memberikan tatapan hangat menenangkan saat beradu pandang dengan anaknya itu.


"Sekarang kamu tahu bagaimana perasaan Ain saat Ikram meminta izin menikahi kamu, bukan? Tapi Nadia, sakit yang kamu rasakan bukanlah apa-apa bila dibandingkan dengan sakit yang Ain rasakan waktu itu. Ini ujian untukmu, Nak. Selama Ikram bisa berbuat adil dan tidak menyakiti kamu, kenapa kamu tidak mencoba menerimanya? Kamu belum merasakan ujian seperti yang sudah Ain lewati-"


"Nadia ... bukankah Mamah sudah mengatakan padamu kalau tidak ada wanita yang benar-benar ikhlas dimadu. Apa Ikram akan menikah lagi?" selidik Sarah sembari menelisik wajah sedih Nadia.


Putrinya itu menunduk memutuskan tatapan dari Sarah. Apa yang dikatakan Sarah memang benar. Ia merasakan sakit yang luar biasa tatkala Ikram mengatakan hendak menikah lagi.

__ADS_1


"Mamah benar, ya?" Sarah mendesah. Ia menegakkan tubuh merasakan deru angin yang menerbangkan daun-daun kering.


"Tidak sehelai pun daun yang gugur melainkan karena takdir yang telah digariskan untuknya. Apa yang terjadi semua sudah kehendak Allah, manusia tinggal menerimanya dan menjalankan peran sebaik mungkin. Tidak ada kesakitan melainkan akan dibalas dengan kemanisan. Tiada derita yang tak berujung. Semuanya memiliki titik balik sendiri. Apa yang kita taman sekarang itulah yang akan kita tuai di kemudian hari," nasihat Sarah yang berhasil menembus relung hati terdalam Nadia.


Ia mengusap sudut matanya yang berair. Sarah bahkan tidak mendukungnya untuk berpisah, setidaknya untuk saat ini. Entah apa yang akan terjadi ke depannya, semuanya selalu menjadi rahasia Tuhan.


"Apa artinya Mamah tidak mengizinkan aku berpisah dari mas Ikram?" tanya Nadia setelah menyesuaikan hatinya yang mulai tenang kembali.


Sarah menggeleng, ia memiliki alasan kenapa tidak mengizinkan Nadia berpisah dari Ikram.


"Setidaknya untuk saat ini tidak. Mamah tidak bisa membiarkan kamu berpisah darinya. Bukankah dia selalu bersikap baik padamu? Tidak ada alasan Mamah mendukungmu berpisah, Nadia. Jika ke depannya nanti, dia melakukan hal yang di luar syariat maka kamu boleh mengajukan khulu'," tegas Sarah lagi.


Nadia kembali menunduk, menghela napas yang dalam dan membuangnya dengan cepat.


"Nadia, kamu pikir Mamah tidak mengawasi kamu di sana? Tidak, Nak! Mamah mengawasi kamu setiap saat. Mamah tahu bagaimana kehidupan kamu di sana dan bagaimana Ikram juga Ain memperlakukan kamu," ucap Sarah tiba-tiba.


"M-maksud Mamah apa?" tanyanya ingin tahu.


Sarah tersenyum melihat putrinya yang bertanya dengan bingung.


"Maksud Mamah, kalau kamu membutuhkan Mamah ... datang dan cerita pada Mamah. Jangan mengambil keputusan sendirian apa lagi dalam keadaan emosi yang menggelegak. Itu tidak baik, Nak. Syetan akan turut campur dalam emosi yang menguasai hatimu. Kalau kamu menuruti hawa nafsu, maka mereka akan tertawa puas, tapi kalau kamu menenangkan diri dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan mereka akan kepanasan dan kalah tentunya. Apa kamu mengerti?" Sarah membelai kepala putrinya yang tertutupi hijab.


Nadia mengangguk mengerti. Keputusan ini diambilnya setelah ia memikirkan dengan matang. Dan hanya ada jalan itu yang bisa ditempuhnya untuk membuat semuanya damai.

__ADS_1


Mungkin Sarah ingin membuat Nadia merasakan kesakitan yang dialami Ain saat Ikram menikahinya dulu. Agar ia tahu dan ke depannya menjadi sebuah pelajaran berharga yang akan selalu diingatnya untuk tidak diulangi. Atau Sarah memiliki alasan lain yang tak bisa ia katakan untuk saat ini pada Nadia.


"Sabar dan terima takdirmu sebagai hamba Allah yang beriman. Jangan lemahkan imanmu hanya karena masalah ini. Kamu seharusnya lebih mendekatkan diri pada Allah memohon ampunan dari dosa yang telah kamu perbuat secara sadar itu. Mari kita sama-sama mendekatkan diri pada Allah memohon ampunan pada-Nya. Jangan berkecil hati, Nak. Takdir besar sedang menantimu di depan," ungkap Sarah sembari merengkuh tubuh Nadia yang mematung dalam diam.


Nadia menangis, entah takdir seperti apa yang direncanakan Tuhan untuknya. Apakah dia akan sanggup menerimanya ataukah menyerah saja ke depannya nanti. Semoga saja setelah ini semuanya akan baik-baik saja.


Sarah menatap kepergian putrinya. Ia memicingkan mata, bukannya tak kasihan pada Nadia. Hanya saja, diam-diam Sarah mengamati perilaku Ain dan Ikram tanpa diketahui siapa pun.


Ia yang masih duduk di danau itu, memikirkan sesuatu entah apa. Hanya dia yang tahu dan Tuhan saja tentunya.


Ia baru beranjak setelah matahari hampir condong ke arah barat. Meninggalkan danau tempat kenangan dirinya bersama almarhum papahnya Nadia.


Anak itu tidak memiliki kesempatan untuk melihat papahnya. Jangankan itu, merasakan sentuhan dan pelukannya saja ia belum pernah. Sampai saat ini Sarah masih mencari siapa pelaku penabrak suaminya itu. Entah apa yang akan dia lakukan kelak saat bertemu dengannya.


Nadia melangkah gontai memasuki area pondok. Dengan wajah yang tertunduk, ia bahkan tak peduli pada Ain yang menatapnya tajam dari teras rumah. Terus saja melangkah melewati gerbang yayasan hingga tiba di rumahnya.


"Bunda!" Sebuah panggilan menghentikan Nadia yang hendak membuka pintu. Ia berbalik dan mendapati Ruby yang berdiri dengan wajah simpatinya.


"Ruby? Ada apa?" tanya Nadia urung membuka pintu. Ruby mendekat tanpa berkata apa pun, ia memeluk Nadia. Menangis sedih, entah apa yang terjadi padanya.


"Ada apa, sayang? Kenapa kamu menangis? Kalau ada masalah, dan kamu mau cerita sama Bunda, cerita saja. Ayo, masuk dulu!" Nadia membawa Ruby ke dalam rumah.


Duduk berdua di sofa berdampingan. Nadia bingung dengan sikap Ruby yang memeluk dirinya dengan erat. Remaja itu masih menangis belum mengatakan apa pun. Nadia dengan sabar menunggu sembari mengusap-usap kepalanya dengan lembut.

__ADS_1


"Bunda?" Setelah sekian lama. Ia mendongak dengan mata yang basah menatap Nadia. Tersirat kesedihan di matanya, nada suaranya pun bergetar pilu.


"Ada apa, sayang? Katakan saja, Bunda akan dengarkan." Nadia tersenyum sembari mengusap air yang menggenang di pipinya.


__ADS_2