
"Ruby! Kemasi semua barang-barang kamu dan kedua adikmu juga!"
Suara paman Harits yang tiba-tiba menggema menyentak semua orang yang ada di ruangan itu termasuk Ibu. Raut-raut wajah kebingungan nampak jelas dari semua orang yang ada.
"Tuan ... mengusir kami?" Ruby mengerut bingung. Hatinya seketika diselimuti rasa benci yang menyengit.
Hah~
Paman Harits menghela napas panjang. Dia menawarkan diri untuk mengantar Ruby saat Nadia berniat ingin mengembalikan ketiga anak itu pada orang tuanya. Dia sudah tidak ingin berhubungan lagi dengan mereka, tekadnya membulat. Ia bahkan enggan menemui ketiganya dan meminta siapa saja untuk menggantikannya. Hanya takut apa yang telah ia putuskan akan ia tarik kembali karena rasa tidak tega melepas mereka.
"Aku tidak bermaksud mengusir kalian. Aku hanya ingin mengembalikan kalian pada orang tau kalian. Itu saja! Ini bukan bentuk pengusiran atau apa pun, tapi ini masalah ikatan anak dan orang tua. Kalian masih memiliki orang tua, sudah seharusnya kalian tinggal bersama mereka." Ia melipat kedua tangan di perut sembari menyandarkan tubuhnya pada sebuah pilar.
Ruby merapatkan gigi menahan emosi. Ia pikir laki-laki yang berdiri angkuh itu sedang mengejeknya.
"Apakah Tuan sedang mengejek kami? Semua orang tahu kalau orang tua kami kalian penjarakan. Lalu, kalian memulangkan kami ke rumah agar kami hidup tanpa orang tua, begitu? Atau agar kami melihat sendiri bagaimana keadaan mereka di dalam penjara?" Ruby naik pitam tanpa alasan.
Ia berdiri dan menuding paman Harits tanpa sopan santun. Laki-laki itu bergeming, ia tetap tenang menghadapi sikap labil remaja di depannya.
"Sudah ... sebaiknya kalian cepat kemasi semua barang kalian, orang tua kalian menunggu di rumah. Dalam satu jam lagi, kita akan berangkat. Aku menunggu dan tidak terbiasa berlama-lama. Jadi cepatlah! Jangan membuat aku berubah pikiran!" Paman Harits berbalik dan melenggang pergi.
Meninggalkan kebingungan pada Ruby dan semua orang yang mendengar ucapannya tadi. Apa dia tidak salah mendengar? Umi dan Abinya menunggu di rumah? Itu artinya mereka tidak dipenjara.
"Ini yang Kakak mau, 'kan? Karena keegoisan Kakak, penjahat terbebas dari hukumannya. Seharusnya kita menerima saja karena kesalahan Umi dan Abi memang sangat fatal dan pantas mendapat hukuman, tapi Kakak terlalu naif. Hukuman bui tidak sepadan dengan hukuman yang akan diterima mereka dari masyarakat."
Bilal berdiri di belakang Ruby, ia tidak setuju sikap Ruby yang menurutnya egois. Pemikirannya adalah, setiap penjahat harus mendapatkan hukumannya.
Ruby berbalik dan memandang Bilal tanpa ekspresi, adik laki-lakinya itu tampak kesal padanya.
__ADS_1
"Bilal-"
"Selamat, Kak! Kakak sudah membiarkan penjahat berkeliaran bebas di luaran. Sekalipun mereka orang tua kita, tapi mereka juga sama seperti orang-orang yang ada di dalam penjara. Layak mendapatkan hukuman untuk semua perbuatan mereka." Bilal melengos pergi. Ia tak lagi memandang Ruby dan masuk ke kamarnya.
Kedua tangannya terkepal, sebelum menyeret koper dari dalam lemari dan mengeluarkannya.
"Aku malu menjadi bagian keluarga itu. Aku ingin tetap di sini, tapi dia benar. Aku masih punya orang tua di sana meski mereka ...."
"Bilal! Kamu tidak boleh berbicara seperti itu! Mereka orang tua kita, kamu harus ingat itu!" sarkas Ruby tidak senang saat mendengar gumaman Bilal di kamarnya.
"Aku tahu dan aku ingat. Aku juga tidak lupa kalau mereka itu orang tuaku, tapi tetap saja-"
"Bilal!" Bentakan Ruby menghentikan umpatan Bilal yang bisa saja lebih kejam terdengar.
"Kalian? Kenapa belum berkemas juga? Kak Harits sudah berkarat menunggu kalian di luar sana. Cepat kemasi kalau tidak aku akan menyuruhnya membuang kalian ke laut saja!" Suara tinggi Winda menghentikan perdebatan di antara mereka.
Bilal menghampiri Winda sesaat setelah ia selesai merapikan semua barangnya. Ia memandang Winda sedih. Wanita baik di hadapannya itu, kini memalingkan wajah darinya. Enggan bertatapan dengannya. Apa dia terlalu membenci mereka. Entahlah.
"Tante Winda, di mana Bunda?" tanya Bilal memelas pada Winda. Wanita itu mendengus, masih berpaling muka dari sosok anak kecil di depannya.
"Mbak Nadia sakit, tidak enak badan," ketus Winda luar biasa sangar. Ruby melirik, hatinya tiba-tiba ragu meninggalkan tempat itu. Apa Nadia sakit karena memikirkan dirinya yang selama beberapa hari ini mendiamkannya? Rasa bersalah mulai merayap di hatinya hingga memenuhi rongga dada dan membuatnya sesak.
Ia menunduk, mencengkeram dadanya sendiri yang terasa sakit tiba-tiba. Teringat akan perjuangan Nadia yang menyelamatkannya saat kecelakaan waktu itu. Teringat akan kasih sayang yang selama ini ia terima darinya dengan tulus tanpa pamrih. Semua kenangan bersama Nadia membayang di pelupuk mata. Ruby merasa bersalah.
"Tante, bisa tidak aku bertemu dengan Bunda?" pinta Bilal berjalan di belakang Winda yang berubah sikapnya.
"Tidak boleh!" ketusnya kasar.
__ADS_1
"Tapi, Tante ... aku ingin bertemu dengan Bunda. Setidaknya untuk yang terakhir kali." Bilal memohon lagi. Ruby berharap dalam hatinya agar bisa melihat dan memeluk Nadia.
"Tidak Bisa!" Winda tak juga memandang mereka yang mengikuti. Bilal menatap Nafisah yang menarik tangannya. Wajah adik bungsunya itu, teringin bertemu dengan wanita yang selama ini mencurahkan kasih sayangnya tanpa segan.
"Tapi, Tante-"
"Cukup! Aku bilang tidak bisa, ya, tidak bisa! Kamu tuli? Atau sengaja sedang menguji kesabaranku?" bentak Winda berbalik dengan wajah merah padam. Napasnya memburu karena luapan emosi yang menggebu-gebu.
Nafisah tertunduk, mereka serempak menghentikan langkah.
"Bisa tidak Tante tidak membentak mereka? Mereka hanya ingin bertemu dengan Bunda." Ruby membela tidak terima Winda yang meninggikan suara di hadapan kedua adiknya.
"Diam kamu! Kalian sama saja dengan orang tua kalian. Diberi hati, malah meminta jantung. Jangankan berterimakasih pada orang yang sudah menolong dengan suka rela, malah menikamnya dari belakang." Winda kembali berbalik, ia melangkah cepat meninggalkan mereka dengan air matanya yang berjatuhan.
Winda tidak bisa menerima Ikram dan Ain bebas begitu saja. Ia tidak ingin memaafkan mereka semua yang telah memanfaatkan Nadia selama lima tahun lebih. Mereka penjahat yang benar-benar harus dihukum sesuai kejahatan yang telah mereka lakukan.
"Kakak dengar! Tante Winda tidak bisa menerima ini semua. Padahal, tante Winda bukan siapa-siapanya Bunda, tapi dia sangat terpukul dengan semua ini." Bilal menghardik Ruby, ia menarik tangan Nafisah untuk berjalan lebih dulu.
Ruby tertunduk. Sudah kepalang tanggung, menyesal pun percuma. Nadia sudah memutuskan dan tidak akan pernah merubah keputusannya lagi.
Ia menyeka air matanya dan melanjutkan langkah dengan lesu. Paman Harits sudah menunggu di samping mobilnya, ia bahkan sudah membuka pintu mobil itu untuk mereka bertiga.
"Cepatlah! Urusanku masih banyak!" ketusnya jengah.
Nafisah melepas genggaman tangan Bilal dan berlari memasuki rumah paman Harits. Ia menuju kamar Nadia dan menggedor-gedor pintunya. Disusul Bilal yang juga ingin bertemu dengan Nadia sebelum pergi.
"Bunda! Bunda!" Suara Bilal dan Nafisah yang memanggil-manggil Nadia.
__ADS_1
"Kamu tidak pergi!" tanya paman Harits pada Ruby.