
Hari terus beranjak meski waktu berjalan merangkak. Nadia meletakkan nampan makanan di atas nakas setelah selesai menyuapi Rima makan. Perhatian yang diberikannya pada gadis itu, seperti seorang Ibu pada anaknya.
"Mbak sudah makan? Kenapa cuma aku yang makan?" Pertanyaan yang ingin ditanyakannya sejak tadi itu, baru sempat terlontar karena Nadia tak memberinya jeda untuk mengosongkan mulutnya.
"Nyonya! Izinkan saya masuk!" Mulut Nadia yang terbuka hendak berucap kembali terkatup saat sebuah suara meminta izin untuk masuk.
"Itu makanan Mbak," katanya tersenyum sambil beranjak mendekati pintu. Ia membuka pintu tersebut dan menerima makanan dari orang paman Harits yang berjaga di depan kamarnya.
"Mau makan lagi? Ini banyak dan pastinya enak. Berbeda dengan makanan rumah sakit yang hambar," katanya lagi sambil terkekeh. Tangannya sibuk membuka makanan yang diterimanya.
"Aku kenyang, Mbak. Mbak saja yang makan," sahut Rima. Tangannya bergerak memutar di perut yang baru saja terisi.
"Ya, baiklah. Kalau begitu, Mbak akan makan sendirian saja." Rima tersenyum melihat Nadia bisa hidup dengan baik bahkan merawatnya sendiri dengan penuh perhatian.
"Mbak, Winda di mana? Kenapa aku cuma sendiri di sini?" tanyanya pada Nadia yang baru saja mencuci tangan usai menghabiskan makanannya.
"Ibu dan Bibi pulang tadi pagi, mereka sudah baik-baik saja. Winda, dia dipindahkan ke ruang lain, kekasihnya yang memindahkan." Rima melongo mendengar jawaban Nadia.
"Kekasihnya? Siapa? Mmm ... asisten kak Harits?" Nadia mengangguk. Rima memekik tanpa suara, ia menutup mulutnya tak percaya.
"Jadi, mereka sudah ... jadian?" Kedua jari telunjuknya bertaut. Nadia kembali mengangguk.
"Ah ... aku iri! Kapan aku bertemu pujaan hati?" katanya merajuk manja. Nadia terkekeh, ia mencubit kedua pipi Rima gemas.
"Kamu masih kecil, belum dewasa. Nanti ada saatnya, ya." Nadia tertawa saat bibir Rima justru mengerucut lucu.
"Usiaku dan Winda sama, Mbak. Aku juga sudah dewasa," rajuknya dengan wajah yang ditekuk.
"Tapi menurut Mbak, kamu dan Winda tetap anak kecil yang harus Mbak mandikan setiap hari." Tangan Nadia mengusap kepala Rima membuatnya terangkat dengan mata berkaca.
"Mbak! Aku kangen Ibu!" Rima berhambur ke dalam pelukan Nadia. Ia sendiri pun tak menampik betapa rindu dirinya pada Sarah.
"Kita akan menjenguk Mamah setelah kalian sembuh. Makanya, kamu harus rutin minum obat supaya cepat sembuh." Rima mengangguk patuh. Mereka melepas pelukan dan saling berpandangan.
"Mau ke ruangan Winda?" Rima mengangguk cepat. Nadia berjalan ke pojokan dan kembali dengan kursi roda di tangannya. Ia membantu Rima untuk duduk di atasnya, kemudian mendorongnya ke kamar Winda.
__ADS_1
"Dulu, kalian yang selalu merawat Mbak saat sakit. Sekarang Mbak bisa merasakan bagaimana rasanya mengurus orang sakit. Terima kasih, ya, sudah rela membuang waktu kalian untuk merawat Mbak waktu itu," cetus Nadia tiba-tiba.
Rima menggenggam tangan Nadia yang mendorong kursi rodanya, ia mendongak dan disambut senyuman oleh Nadia. Rima memutar kembali kepala ke depan, ia menjatuhkan kepalanya itu pada tangan Nadia. Merasakan kehangatan dari setiap sentuhannya yang selalu menenangkan.
Di antara Winda dan Rima, mungkin ia yang paling manja kepada Nadia. Tangan Nadia yang lain mengusap kepala Rima, ia tersenyum. Ada kesenangan tersendiri baginya saat kedua adik angkatnya itu bersikap manja padanya.
"Mbak, dengar tidak?" Rima mengangkat kepalanya, ia menoleh ke belakang pada Nadia saat mendengar suara ramai di kamar yang akan mereka tuju.
"Ramai sekali?" Nadia bergumam, ia menghentikan langkah di depan ruangan Winda. Mendengarkan dengan saksama suara-suara dari dalam sana.
"Iya, Mbak. Apa Winda menemukan keluarganya?" Rima menunduk setelah berucap, dalam hatinya ia pun ingin bertemu dengan keluarga kandungnya meskipun selama ini tak pernah kekurangan kasih sayang.
Nadia mengusap kepala Rima sebelum mendorong kursi rodanya lagi semakin mendekati kamar Winda. Terdengar gelak tawa yang ramai dari dalam ruangan itu, suara orang dewasa, anak-anak bahkan mungkin seusia Nadia pun ada.
Nadia mengangguk saat Rima mendongak meminta dukungannya. Rima mengetuk pintu pelan.
"Winda!"
"Masuk saja!" Winda cepat menjawab dengan suara yang terdengar riang gembira.
Nadia tersenyum, ia gugup di hadapkan satu keluarga besar, mungkin, yang serentak menoleh padanya.
"Mbak Naira! Benar Mbak Naira, 'kan?" Seorang wanita muda seusia Winda dan Rima berhambur mendatangi Nadia.
Wanita hamil itu mengangguk kecil sambil tersenyum malu-malu. Ia membelalak dan bertepuk tangan.
"Mbak Naira, sudah lama aku ingin bertemu dengan Mbak, tapi Mbak sudah tidak pernah muncul lagi. Aku mau foto boleh?" katanya riang.
Nadia yang masih bingung hanya mengangguk kecil saja. Ia tersenyum saat kamera ponsel milik gadis itu membidik ke arah mereka.
"Mbak, sini!" Winda memanggil Nadia, "sini, Mbak. Aku kenalkan sama mereka," katanya lagi sembari meminta Nadia dan Rima untuk semakin dekat dengan-nya.
"Kamu juga kenal sama Mbak Naira? Wah ... kami memang tidak salah memilih menantu."
Nadia dan Rima saling pandang satu sama lain, sorot mata keduanya melempar tanya yang sama.
__ADS_1
"Ini Mbak Nadia, atau yang kalian kenal sebagai Naira. Beliau Kakak angkatku, dan ini saudariku, Rima. Kami berdua merupakan anak asuh Ibu Sarah yang tak lain adalah ibunya Mbak Nadia." Winda memperkenalkan Nadia dan Rima pada sekumpulan orang berbeda usia di dalam ruangannya itu.
Baik Nadia ataupun Rima, keduanya mengangguk menjawab sapaan semua orang.
"Dan Mbak, Rima, ini keluarganya mas Yoga. Mereka datang menjengukku," lanjut Winda lagi dengan malu-malu. Ia tertunduk menyembunyikan semu merah di pipinya. Nadia dan Rima kembali saling lempar pandangan. Senyum tipis mencuat di permukaan bibir mereka.
Rima menyenggol pinggang Winda, keduanya tertawa kecil saat pandang mereka beradu.
"Oh ... selamat pagi, terima kasih sudah datang untuk menjaga Winda." ucap Nadia sambil menunduk sopan.
"Mah, Mbak Nadia ini istri Kak Harits. Atasan mas Yoga." Mata-mata mereka membelalak. Mereka semua mengenal Harits, atasan Yoga yang tak pernah mereka jumpai.
"Oh ... maafkan kami, Nyonya. Maafkan kami!" seru mereka berjamaah. Nadia kikuk sendiri. Ia tidak tahu kalau nama suaminya disebut akan membawa dampak besar seperti ini.
"Eh ... tidak masalah. Jangan seperti itu, tegakkan kepala kalian. Tidak apa-apa," ucap Nadia gugup. Ia mencengkeram kursi roda Rima menahan gugup yang melanda.
"Kami tidak tahu kalau Anda adalah istri Tuan Harits, sungguh. Maafkan kami kalau kami bersikap kurang sopan, Nyonya." Wajah mereka berubah pucat pasih.
Namun, perlahan mengendur saat Nadia tak mempermasalahkan sikap mereka. Keakraban terjadi dengan mudah, Rima tak henti menggoda Winda. Ketiga wanita itu tengah berbahagia. Rima dan Winda saling mengaitkan tangan, mereka akan selalu ada untuk Nadia dalam keadaan apa pun. Begitu pula dengan kakak mereka.
Sementara Nadia tengah berkumpul, paman Harits baru saja menyudahi meeting. Ia memberikan kuasa pada Yoga untuk menggantikannya karena harus memenuhi panggilan polisi.
Paman Harits pergi seorang diri, masih dengan seragam resminya, ia menuju kantor polisi.
"Selamat siang, Pak!"
"Selamat siang, Tuan! Silahkan, Anda telah ditunggu di dalam!" Seorang polisi menunjuk sebuah pintu yang tertutup.
Ia membukakan pintu tersebut dan memberitahukan kepada mereka yang ada di dalam perihal kedatangan paman Harits.
"Silahkan, Tuan!" Ia menutup pintu tersebut setelah paman Harits berada di dalam. Lelaki itu duduk dan berkumpul bersama ketiga orang lainnya di dalam ruangan tersebut.
Di atas meja itu, ada gambar sidik jari sebanyak dua buah. Ada botol kecil juga yang entah apa itu. Paman Harits menelisik semua yang ada di meja itu sebelum menjatuhkan pandangan pada mereka bertiga.
"Jadi, apa yang kalian temukan?"
__ADS_1