Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Kedatangan Keluarga Ikram


__ADS_3

Hari libur adalah waktunya berkumpul bersama keluarga. Satu Minggu sudah Nadia menjadi seorang Ibu. Baru saja ia kembali dari rumah sakit selepas melakukan kontrol.


Bayi Zahira dibiarkan bermain di atas kasurnya di lantai bersama Ayahnya. Nadia yang telah pulih meski belum sepenuhnya itu, berada di dapur membuatkan kopi untuk suaminya. Ia juga membuat camilan untuk dirinya sendiri.


Nadia melakukan hal semuanya sendiri meskipun Bibi seringkali melarangnya. Itu semua tak jadi masalah untuk paman Harits selama Nadia merasa baik-baik saja.


Lelaki itu mengangkat tubuh anaknya dengan sangat hati-hati, memangkunya tanpa henti menciumi wajah dan bagian-bagian tertentu yang sedap untuk diendus.


Sedang asik menimang, sesuatu yang hangat mengalir membasahi celana yang ia kenakan. Ia mengangkat tubuh Zahira, dan berdecak sedikit kesal. Membalik tubuh bayi itu hingga berhadapan dengannya.


"Apa Bunda tidak memakaikan diapers? Ah ... kamu mengencingi Ayah!" keluhnya. Ia meletakkan bayi itu di tempatnya semula. Bingung harus apa, ia lebih memilih berteriak memanggil istrinya.


"Sayang! Cepatlah, kenapa lama sekali?" teriaknya cukup kuat hingga membuat bayinya menangis.


"Duh ... cup-cup-cup! Jangan menangis, sayang. Maafkan Ayah, ya. Ayah tidak sengaja. Jangan menangis!" ucapnya sambil menepuk-nepuk bokong Zahira dengan pelan.


"Mas, kenapa berteriak-teriak di dekat Zahira? Dia nangis, 'kan." Nadia menggerutu panjang sambil menghampiri anaknya setelah meletakkan minuman dan camilan yang ia buat di atas meja.


"Sayang ... ah ...." Nadia terhenyak ketika tangannya menyentuh sesuatu yang basah di bagian bawah tubuh bayi itu. Ia menoleh pada suaminya, melirik celana itu. Lalu, terkekeh.


"Pantas saja Ayah teriak-teriak, Zahira pipis di celana Ayah, ya." Ia kembali pada anaknya sambil terus meracau menggoda suaminya.


Paman Harits mendengus, gatal rasanya. Ia beranjak meninggalkan Nadia berganti pakaian.


"Lain kali lakukan lagi, ya. Wajah Ayah sangat lucu tadi." Ia masih tertawa saat wajah memerah suaminya membayang.


"Kenapa tidak dipakaikan diapers? Jadi ngompol, 'kan," sungut paman Harits yang kembali keluar dengan penampilan yang berbeda.


"Maaf, Mas, tidak sempat tadi," ucap Nadia tanpa rasa bersalah. Ia mendaratkan bokong di sofa, menyeruput kopi dan memakan camilan yang dibuat Nadia tadi.

__ADS_1


Zahira telah kembali tenang dalam pelukan Ibunya. Menyusu dengan mata terpejam tanpa harus memikirkan apa pun jua. Apa bayi selalu seperti itu? Menyusu, tidur, menyusu lagi, tidur lagi.


"Kamu harus jadi Ayah yang baik, Harits. Jangan selalu mengandalkan perempuan. Zahira juga tanggung jawab kamu. Kalian harus sama-sama merawatnya, Ibu menyusui itu tidak boleh stress apalagi terlalu capek. Itu bisa mempengaruhi semuanya." Ibu menyambar sambil berjalan mendekat ke ruang keluarga.


Lelaki itu mengusap tengkuknya salah tingkah. Ia melirik Nadia mencari pembelaan. Istrinya itu tak acuh asik bermain dengan anaknya. Ibu ikut duduk bersama mereka, berbincang ringan tentang apa saja terkait soal anak dan asuhan.


"Assalamu'alaikum!" Suara salam dari banyak orang terdengar di telinga. Mereka kompak menoleh pada arah pintu.


"Siapa, Mas?" tanya Nadia pada suaminya. Lelaki itu justru menghendikan bahu tak tahu.


"Mas lihat dulu." Ia bangkit dan berjalan menuju pintu menyambut kedatangan tamu yang tak diundangnya ke rumah.


Ia tertegun saat membuka pintu rumah, Ikram dan keluarganya berdiri di sana. Senyum yang mereka ukir terkesan dipaksakan. Ada yang aneh dari wajah mereka.


"Ikram?" Paman Harits menyambutnya hangat. Merangkul dan menepuk punggungnya akrab, "masuk!" Tanpa memperhatikan mereka, paman Harits menunjuk ke dalam rumah. Mengajak mereka semua menuju tempat di mana Nadia berada.


"Siapa, Mas?" Ketukan langkah yang tertangkap telinga, membuat kedua wanita itu menoleh serempak. Paman Harits tak menjawab, hanya mengulum senyum penuh rahasia.


"Bunda!" Bilal berlari mendekati Nadia yang telah berdiri menyambutnya. Bersambung dengan Ruby yang juga masuk ke dalam pelukannya.


"Bilal, Ruby ... Nafisah!" Terhentak tubuhnya kala mengingat gadis kecil itu. Ia menunggu hadirnya, menunggu peluknya, di mana ... di mana gadis kecilku?


Isak tangis keduanya menambah guratan bingung di wajah cantik itu. Lekat mereka memeluk tubuhnya enggan terlepas lagi. "Nafisah?" Lidahnya kembali bergumam menyebut nama anak yang ditunggu kedatangannya.


"Di mana Nafisah? Apa kalian tidak mengajaknya?" Diurainya pelukan itu, dipandangi wajah kedua kakak beradik yang baru saja memeluknya.


Matanya bergelirya pada kedua pasang manik di hadapan. Sirat akan tanya yang menuntut jawaban. Di mana ... di mana gadis kecilku? Batinnya bertanya, tapi tak jua mendapat jawaban.


Terbersit sebuah ingatan, di saat gadis kecilnya mengatakan hal-hal yang membuat resah hatinya. Lintasan kalimat yang diucapkan lisan polosnya, menghantam segumpal daging merah dalam dadanya.

__ADS_1


Degup jantungnya yang tak beraturan, menurunkan butiran peluh di dahi merambat hingga ke leher.


"Di mana Nafisah? Ruby? Bilal?" tekannya sekali lagi. Kedua tangannya mencengkram salah satu bahu mereka berdua. Pandangannya menuntut, tajam menusuk. Ia merasa sedang dipermainkan keluarga itu.


Ruby dan Bilal menunduk serempak, entah apa yang disembunyikan keduanya hingga lidah mereka kelu tak satu patah pun kata terucap. Lirikan matanya terlempar pada dua sosok orang tau di belakang mereka.


Wajah-wajah itu sendu, diliputi awan hitam yang bersiap menurunkan hujannya kapan saja dia mau. Suaminya sendiri mematung, hatinya ikut bertanya sama seperti yang ditanyakan istrinya.


Kakinya lantas berayun, mendekati wanita yang memandangnya dengan seribu rasa kesedihan. Kehadiran mereka menyuramkan suasana yang tadi cerah ceria.


"Kak!" Ia mengawali pembicaraannya. Kedua iris matanya tak beralih dari manik coklat di hadapan. Nampak kesedihan di dalamnya, penyesalan yang tanpa akhir membuat mata itu berkaca karenanya.


"Di mana Nafisah? Bukankah dia akan datang untuk melihat adiknya yang baru lahir? Di mana dia, Kak? Kenapa kalian tidak membawanya sekalian?" Pertanyaan beruntun diucapkan lisannya yang gemetar. Rasa dalam hatinya bergejolak hebat, semua pikiran buruk berseliweran di dalam otaknya.


Tidak! Tidak! Jauhkan! Jauhkan!


Ain masih mematung, matanya tertutup ketika manik tajam Nadia menghujamnya. Tak kuasa hatinya melihat ia yang baru saja mendapatkan kebahagiaan, harus hancur karena ketidakhadiran gadis kecilnya. Air mulai merembes dari kelopak mata Ain yang tertutup.


"Nadia!" Suara Ikram memanggilnya. Sedikit berubah entah karena apa. Tarikan napasnya terdengar hingga menggetarkan hati Nadia. Dilihatnya lelaki yang memanggil namanya tadi, sebentar lagi saja ... awan hitam itu menurunkan hujannya.


Hening. Ikram tak kunjung melanjutkan ucapan.


"Katakan saja! Jangan membuat kami bingung!" Paman Harits menyambar tak sabar ingin tahu apa yang terjadi pada keluarga mereka. Ia telah menarik orang-orangnya kembali dari tugas mengawasi keluarga Ikram. Untuk itulah ia pun tak tahu kabar berita keluarga tersebut.


"Maaf, kalau kabar yang kami bawa merusak kebahagiaan kalian, tapi kalian juga perlu tahu terutama Nadia. Kamu harus tabah, Nadia. Nafisah sudah pergi."


Ambruk tubuh wanita itu seketika.


"Sayang!"

__ADS_1


"Nadia!"


"Bunda!"


__ADS_2