
[Mbak Nadia, ada pak Ikram ke pabrik.]
"Mati aku! Kenapa mas Ikram tidak memberi kabar dulu kalau mau ke pabrik. Biasanya juga tinggal pesan saja, kenapa malah datang ke pabrik?" gumam Nadia dengan panik.
Ia melirik jam, masih satu jam lamanya proses itu akan selesai.
"Ya Allah, masih satu jam. Bagaimana ini?" Nadia berpikir. Ia menggigit bibir bawahnya mencari alasan agar Ikram tidak marah sekaligus curiga.
Nadia tidak dapat melakukan apa pun, ia hanya terbaring menunggu prosesnya selesai.
[Bilang saja sama mas Ikram kalau aku sedang bertemu klien dan dalam satu jam akan selesai.]
Pesan balasan dari Nadia, ia menekan tanda kirim dan menunggu dengan dada yang berdebar hebat. Nadia memejamkan mata sembari mengernyit menahan pening yang tiba-tiba datang melanda.
Ting!
[Baik, Mbak. Ibu sedang menghadapi suami Mbak.]
Pesan balasan yang dinanti membuat Nadia bernapas lega. Ia mendesah dan terus-menerus melirik jam di dinding yang seperti kura-kura. Lamban.
Sementara di sana, Ikram dan kedua anaknya tersenyum. Ia datang ke kantor dan benar yang pertama ditanyakannya adalah,
"Apa Nadia ada di tempat?"
Orang yang ditanya gugup seketika. Bukan karena Ikram menanyakan Nadia, tapi karena pesona Ikram yang membuat lidahnya tiba-tiba kelu. Ia hanya bergumam dalam hati yang tentu saja tak dapat didengar Ikram.
"Mbak?" tegur Ikram yang membuat sekretaris Nadia itu tersentak dari lamunan mengagumi sosoknya.
"Eh ...,"
"Nadia sedang menemui klien, Nak," tukas Sarah dengan cepat begitu ia masuk ke kantor. Wajah Sarah pucat pasih, ia memang sedang sakit sesuai yang dikatakan Nadia.
"Mah!" Ikram menyapa Sarah dan menyalaminya.
"Nenek!" Bilal dan Nafisah pun ikut bersalaman.
"Bagaimana kabar kalian?" tanya Sarah mengusap kepala anak-anak itu sambil tersenyum.
"Alhamdulillah, Nek. Kami baik-baik saja," jawab Bilal ikut tersenyum membalas Sarah.
__ADS_1
"Mah, wajah Mamah pucat sekali? Apa Mamah sedang sakit? Kenapa tidak beristirahat?" cecar Ikram setelah menilik wajah Sarah yang pucat.
"Tidak apa-apa, Nak. Mamah cuma bosan kalau di rumah saja. Kalau di sini Mamah bisa mengobrol sama karyawan, tidak kesepian. Apa lagi sekarang ada Bilal dan Nafisah ... yuk, masuk!" ungkap Sarah sembari mengajak keduanya masuk ke dalam kantor untuk menunggu Nadia.
"Terima kasih ... Mah, Nadia pertemuannya di mana?" tanya Ikram setelah seseorang meletakkan minuman di atas mejanya.
"Oh itu, di dekat Rumah Sakit. Tadi sudah dihubungi katanya satu jam lagi selesai. Sedang membuat kesepakatan saja," jawab Sarah.
Ampuni hamba, ya Allah. Ampuni.
Ia bergumam memohon ampunan pada Yang Kuasa karena telah berbohong pada menantunya itu.
"Mau menunggu atau mau langsung saja? Pasti mau ambil pesanan, 'kan?" lanjut Sarah bertanya pada Ikram.
"Aku mau menunggu Bunda, Abi," rengek Nafisah sembari memegangi kaki Ikram dan memohon padanya.
"Tuh, dijawab sama Nafisah katanya mau menunggu Bunda," sahut Ikram melirik anak bungsunya dan mengusap rambut lembutnya.
Sarah tersenyum, kehadiran anak-anak Ikram sangat menghibur hatinya. Ia yang menginginkan seorang cucu secepatnya, tak dapat terkabulkan karena kondisi Nadia yang sakit. Oleh karena itu, ia tidak terlalu menekan Nadia untuk segera memiliki anak.
Jadilah mereka menunggu Nadia datang. Sedangkan yang ditunggu masih panik di dalam ruangan.
"Tidak terlihat pucat, 'kan?" gumamnya sembari terus menelisik wajahnya untuk memastikan.
Nadia segera keluar toilet dan Rumah Sakit. Ia memesan grab agar cepat sampai ke pabrik. Setengah jam perjalanan dari Rumah Sakit ke pabriknya. Tak lupa ia membeli makanan untuk suami dan kedua anaknya.
"Assalamu'alaikum!" sapa Nadia dengan nada ceria. Di tangannya menenteng dua kantung plastik berisi makanan dan camilan.
"Wa'alaikumussalaam, Bunda!" Bilal dan Nafisah berlari menyambut kedatangan Nadia. Keduanya memeluk kaki wanita itu dan mencium tangannya. Bilal dan Nafisah mengambil alih bawaan Nadia.
"Mas!" sapa Nadia pada Ikram yang duduk menunggu di sofa bersama Sarah. Ikram menepuk tempat kosong di sampingnya meminta Nadia untuk duduk di sana. Sarah beranjak menemani anak-anak di depan televisi.
"Kenapa mau ke pabrik tidak bilang dulu, Mas? Aku jadi bisa mempercepat pertemuannya kalau Mas bilang," ucap Nadia setelah mendaratkan tubuhnya di samping Ikram.
Laki-laki itu tersenyum, ia mencium pelipis Nadia seperti yang selalu ia ingin lakukan.
"Kenapa malah bertanya, sudah jelas Mas mau membuat kejutan untuk kamu. Eh ... gagal karena kamu sedang ada pertemuan," sahut Ikram yang meraih tangan Nadia dan menciumnya.
Wanita mana yang tidak senang hatinya, diperlakukan lembut dan penuh cinta oleh laki-laki yang menjadi suaminya. Mungkin hanya dia yang kurang bersyukur yang selalu merasa kurang atau pun selalu berburuk sangka pada pasangannya.
__ADS_1
Nadia tersenyum, ia menjatuhkan kepalanya di bahu Ikram. Ia tak menampik dalam hati ingin bermanja dengan suaminya, tapi apalah daya Nadia harus menjaga perasaan Ain sebagai istri pertama Ikram.
"Mas mau aku buatkan kopi?" tawar Nadia sembari memalingkan pandangan pada Ikram tanpa menjauhkan kepala dari pundak suaminya itu.
Ikram berpaling dan menempelkan hidungnya pada hidung Nadia, mengecup singkat bibir manis istri keduanya itu sebelum menggeleng.
"Mas!" lirih Nadia dengan wajah bersemu. Ia melirik ketiga orang yang berada di depan televisi, takut mereka melihat apa yang dilakukan Ikram padanya.
"Tidak apa-apa. Mas sangat jarang melakukan ini padamu," ucap Ikram menelusuri pipi Nadia dengan jari telunjuknya dan berhenti pada bibir ranum itu.
Nadia semakin bersemu, ia membenamkan wajah di ketiak Ikram menyembunyikan rona merah yang membuatnya memanas seketika.
Sampai lewat Dzuhur Ikram dan kedua anaknya berada di kantor Nadia. Mereka makan siang bersama dengan makanan yang disediakan pabrik untuk para karyawan.
Ikram mematri pandangan pada sosok bersahaja di depannya. Nadia memiliki harta yang banyak, ia bisa melakukan apa saja untuk hidupnya. Namun, alih-alih hidup dengan kemewahan, Nadia lebih memilih hidup sederhana dan menabung uangnya untuk anak-anak di yayasan.
"Mau pulang bareng Mas?" tanya Ikram pada Nadia usai makan siang dan menunaikan kewajiban sebagai muslim.
Nadia menggeleng sambil tersenyum. "Tidak, Mas. Bukannya Mas harus ke toko antar pakaian? Biar aku pulang sendiri saja," jawab Nadia karena tidak mungkin ia akan ikut mampir ke toko sebelum pulang. Hal itu bisa memicu rasa cemburu dalam hati Ain.
"Ya sudah kalau begitu, nanti Mas jemput saja selepas dari toko," ucap Ikram lagi keukeuh ingin pulang bersama Nadia.
"Bagaimana dengan Kak Ain?" tanyanya jelas tak enak pada kakak madunya itu.
"Tidak apa-apa, sekalian keluar saja," pungkas Ikram yang akhirnya diangguki Nadia.
Ia melambaikan tangan melepas suami dan kedua anaknya pergi. Tersenyum bahagia meski hanya singkat saja kebersamaan itu ia rasakan.
"Mah, Mamah sudah minum obat?" tanya Nadia setelah kembali ke kantor dan duduk berdampingan dengan Sarah.
"Sudah, Mamah sudah lebih baik. Kamu jangan terlalu mengkhawatirkan Mamah," jawab Sarah tersenyum di balik sakit yang ia rasakan. Nadia ikut tersenyum dan menyandarkan kepala di bahu mamahnya.
"Mamah pasti sudah menginginkan cucu. Maafkan Nadia karena kondisi Nadia yang sekarang tidak memungkinkan untuk hamil," ungkap Nadia bergetar.
Sarah mengusap tangan putrinya dengan lembut.
"Tidak apa-apa, tidak usah memikirkan itu. Fokus saja pada kesembuhan kamu, Nak. Lagi pula ada anak-anak Ikram yang memanggil Mamah dengan sebutan Nenek. Itu sudah cukup untuk Mamah," sahut Sarah menenangkan Nadia.
Ibu selalu menjadi teman yang baik untuk anaknya. Ibu selalu menjadi pendengar setia untuk setiap cerita anaknya. Ia selalu menguatkan hati untuk menampung keluh kesah buah hatinya.
__ADS_1