
Di malam yang sama, pada waktu yang bersamaan di mana Nafisah sedang berkumpul dan bercengkerama bersama keluarga, Nadia merasakan gelisah yang luar biasa. Uring-uringan tepatnya. Duduk salah, berdiri salah, berbaring apa lagi. Sesak.
Ia tak henti menggigit ujung kuku juga bibirnya, riak gelisah nampak jelas di wajahnya yang sedikit bertambah gemuk itu. Di atas sofa, paman Harits yang sedang berkutat dengan laptop, tak henti melirik Nadia yang salah tingkah.
Berkali-kali hembusan napas ia lakukan saat merasa bingung dengan tingkah sang istri yang serba salah.
"Sayang! Duduk, nanti pinggang kamu sakit," pinta paman Harits untuk yang ke sekian kalinya. Lagi-lagi ia menghembuskan napas berat tak mengerti apa yang sedang dirasakan Nadia.
"Mas, aku mau lihat Nafisah malam ini juga. Kita ke sana, Mas," rengeknya sambil memegangi tangan paman Harits.
Lelaki itu menutup laptopnya, itu ke sekian kalinya ia mendengar Nadia berucap. Nafisah, Nafisah, dan Nafisah. Paman Harits menangkup kedua pipi Nadia, ia mengecup bibir ranum itu dengan gemas.
"Apa yang kamu takutkan? Bukankah tadi sudah mendapat kabar kalau mereka itu baik-baik saja. Tenangkan hatimu, sayang. Dia ikut merasakan kegelisahan yang sama, lho." Paman Harits mengusap perut Nadia yang sama tak tenangnya seperti sang Ibu.
Nadia menunduk, ia memejamkan mata dengan tarikan napas yang sangat kuat. Sesak di dadanya tak kunjung beranjak. Semakin lama semakin menghimpit rongga dada dan membuatnya sakit.
"Mas, aku hanya ingin memastikan sendiri. Nafisah setiap malam datang di mimpiku, dia mengatakan aku ingin bertemu Bunda, ingin peluk Bunda, aku ingin bertemu Bunda. Apa yang harus aku lakukan, Mas?" Nadia menangis, ia menjatuhkan tubuh pada dada suaminya. Menumpahkan segala kegelisahan pada laki-laki itu.
Beruntunglah paman Harits memiliki stok kesabaran yang luas. Dengan tenang ia menyalurkan kehangatan pada hati istri yang tak henti gelisah itu.
"Kenapa tidak coba telepon saja? Dan pastikan sendiri keadaan mereka," saran paman Harits seketika berhasil membuat laju tangis Nadia berhenti. Ia mendongak dengan kedua matanya yang basah. Paman Harits mengusap pipinya yang digenangi air.
"Apa boleh?" tanyanya. Wajahnya memerah, bola matanya pula menyiratkan harapan. Paman Harits mengangguk sambil tersenyum. Nadia menggeser duduk, membelakangi suaminya dan bersandar pada tubuh kekar itu.
Nadia menghubungi Ruby, menunggu dengan perasaan yang was-was. Senyumnya terbit saat panggilannya dijawab Ruby.
[Bunda!]
__ADS_1
Suara memekik dari seberang telepon membuat perasaannya sedikit lega. Namun, tetap saja, nama Nafisah tak hilang dari hati.
"Hallo, sayang. Bagaimana kabar kalian? Apa kalian baik-baik saja? Bagaimana keadaan Nafisah dan Bilal." cecarnya dalam satu tarikan napas.
[Kami baik-baik saja, Bunda. Coba lihat, mereka sedang bermain berdua di sana.] Ruby memperlihatkan kedua adiknya yang sedang bermain.
Nadia tersenyum, ia merasa sedikit lega saat melihat Nafisah yang baik-baik saja.
"Syukurlah, kalau kalian semua baik-baik saja. Bunda sedikit lega sekarang," ucap Nadia sambil mengusap dadanya.
Ruby tersenyum di seberang sana.
[Bagaimana dengan kabar Bunda sendiri? Apa Bunda dan Adik bayi baik-baik saja?]
Ruby terdiam, ia memperhatikan Nadia yang duduk bersama suaminya.
Ruby terdiam lagi, memikirkan bagaimana caranya menolak permintaan Nadia karena ia merasa tak enak pada suaminya.
[Tapi, Bun. Aku baru pulang dari toko, masih sangat lelah. Bagaimana kalau besok? Aku akan meminta izin pihak sekolah Bilal dan Nafisah untuk satu atau dua hari. Maaf, ya, Bun. Bukannya tidak mau, tapi aku benar-benar lelah hari ini.]
Kecewa. Itulah yang dirasakan Nadia, tapi mau bagaimana lagi? Memaksa mereka pun tak akan berakhir baik nantinya.
Jadilah ia harus puas dengan hanya melihat mereka melalui sambungan telepon. Ia memilih mengakhiri sambungan dan menjatuhkan tubuh pada dada suaminya yang duduk di belakang tubuh.
Tangan paman Harits mengusap rambut Nadia, dan menciumnya. Ia tak ingin istrinya yang sedang hamil tua itu terlalu banyak memikirkan hal yang tak seberapa penting untuknya.
"Bagaimana, kamu sudah lebih baik setelah menelepon mereka?" tanyanya sambil mendekap tubuh Nadia dari belakang.
__ADS_1
Nadia menarik napas panjang, ia jatuhkan pipi di tangan kekar suaminya yang melingkar di dada. Mengecup tangan yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu dengan lembut. Sebagai ungkapan rasa terima kasih karena telah mengizinkan ia menghubungi Ruby.
"Sedikit lebih baik, tapi lebih banyak gelisahnya. Aku masih tidak tenang, Mas." Ia memutar kepala ke samping untuk dapat melirik suaminya.
"Mas, perasaanku mengatakan akan terjadi sesuatu malam ini pada Nafisah. Entah itu apa? Tapi ... apa yang aku rasakan ini sangat kuat terasa. Bagaimana kalau ada orang jahat yang ingin mencelakai mereka, Mas? Rasanya aku ingin mendatangi mereka dan membawa mereka mengungsi sementara dari sana," tuturnya kembali pada tujuan awal ingin membawa ketiga anak itu sementara.
"Mereka punya orang tua, sayang. Keduanya pasti akan menjaga mereka. Sudah, lagi pula di sana ada orang-orang Mas yang sedang mengawasi mereka. Kalau pun terjadi sesuatu, mereka pasti akan memberitahu kita." Paman Harits berucap lembut. Disapunya perut Nadia saat ia merasakan gerakan janinnya.
Hati tak dapat dibohongi, sebanyak apa pun Nadia mengatakan semuanya baik-baik saja, tetap saja kegelisahan di dalam sana tak kunjung beranjak. Justru semakin lama semakin bertambah dan berubah menjadi rasa takut.
"Mas, kita ke sana malam ini juga! Aku ingin memastikan sendiri Nafisah baik-baik saja. Aku takut, Mas. Aku takut ... perasaan ini sama seperti saat aku akan kehilangan Mamah. Aku harus bagaimana, Mas? Aku takut Nafisah akan pergi tanpa pamit sama seperti Mamah."
Nadia berbalik dan memeluk suaminya. Rasa takut yang rasakan tidak main-main. Ia menangis sesenggukan dalam pelukan suaminya.
Kali ini paman Harits mengerti seperti apa ketakutan yang dirasakan Nadia. Takut kehilangan adalah hal yang wajar dirasakan manusia. Mungkin itu sebuah isyarat untuknya mempertemukan mereka. Jika pun memang ada perpisahan, maka setidaknya ... keduanya telah bertemu meskipun untuk yang terakhir kali.
"Ya sudah, kita akan pergi malam ini juga. Mas juga tidak mau menyesal karena terlambat menyadari," katanya sambil mengusap punggung Nadia dan mengecup pundaknya.
Ia mengurai pelukan, mengusap air mata sang istri sebelum beranjak berdiri mengambil kunci mobilnya. Nadia menunggu, ia tak berniat membawa apa pun selain dirinya sendiri.
Keduanya berpamitan pada Bibi yang kebetulan melintas di ruang tengah. Dengan hati-hati paman Harits mengemudikan mobil. Ia juga tak ingin Nadia terguncang karena laju mobil yang terburu-buru.
Memasuki perbatasan kota, degup jantung Nadia semakin terasa. Ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul dua belas tiga puluh menit. Tepat tengah malam.
Mobil masih melaju dengan kecepatan normal. Mendekati kawasan pesantren, Nadia tak sabar. Namun, tiba-tiba sebuah truk bermuatan pasir melesat melaju dengan kencang, dan ....
Brak!
__ADS_1
Tabrakan tak terelakan.