
Setelah beberapa kali pergi bersama, Ain tahu Nadia orang yang baik. Dari sikap dan cara bicaranya dengan Ain, ia selalu mengedepankan adab saat memulai perbincangan. Nadia juga tidak pernah menyela saat Ain menceritakan sesuatu. Ia seorang pendengar yang baik.
[Assalamu'alaikum, Dek! Bisa ketemu tidak? Kakak tunggu di Balong, ya?]
Sebuah pesan singkat masuk ke aplikasi pesan milik Nadia. Ia yang masih berada di ruangan mengernyit, tidak biasanya Ain mengajak bertemu seperti sekarang ini.
[Wa'alaikumussalaam, Kak. Tunggu, ya. Aku masih belum selesai, ba'da Dzuhur saja, Kak.]
Nadia membalas karena tak mungkin untuknya pergi sebelum Dzuhur. Proses cuci darah memerlukan waktu selama lima jam lamanya.
[Iya, Kakak tunggu.]
Tak ada lagi pesan balasan. Nadia meletakkan ponselnya, berpikir. Untuk apa Ain mengajaknya bertemu. Nadia tidak ingin berpikiran buruk, ia buat rasa penasaran di hatinya mereda. Rasanya tidak sabar ingin cepat selesai. Berkali-kali ia melirik jam yang menggantung di ruangan, jarum-jarum itu seolah bergerak lambat.
Nadia bergegas pergi ke tempat yang dijanjikan Ain usai melaksanakan kewajiban empat rakaat Dzuhur. Dari Rumah Sakit ke Balong tentu saja tidak jauh. Dengan berjalan kaki saja sudah sampai, tapi tidak menurut Ain. Lokasi pabrik Nadia yang lumayan jauh memerlukan waktu setidaknya setengah jam lamanya.
"Ada apa, Kak?" tanya Nadia setelah melihat Ain yang duduk di tempat mereka membuat janji. Ia bahkan sampai lupa mengucapkan salam karena panik.
"Wa'alaikumussalaam!" ucap Ain mengingatkan sembari mengulum senyum.
"Eh ... iya, assalamu'alaikum!" Nadia tersipu malu. Ia yang hendak duduk urung, lantas mendatangi Ain dan menyalaminya.
"Duduk dulu! Pesan minum dulu," titah Ain. Nadia mengangguk seraya duduk di samping Ain. Sebuah pembatas sekaligus dijadikan tempat duduk para pengunjung.
"Aku bawa minum sendiri, Kak," jawab Nadia seraya mengeluarkan sebotol air mineral dari dalam tasnya.
Suasana Balong yang sepi saat siang hari cukup menenangkan untuk mereka membahas apa saja. Berbeda jika datang di sore hari, Balong akan dipenuhi oleh pengunjung. Baik orang tua maupun anak-anak.
"Ada apa, Kak? Sepertinya ada masalah yang sedang Kakak hadapi?" Nadia kembali bertanya setelah menelisik wajah Ain yang suram.
Ain menyeruput es jus di tangannya, ia mendesah lelah. Mengangkat pandangan menatap Nadia yang masih terdiam menunggunya berbicara.
__ADS_1
Hembusan angin yang lembut menerbangkan hijab keduanya. Anak-anak yang bermain menjadi hiburan untuk mereka yang merasa kesepian.
"Maafkan Kakak sebelumnya kalau pertemuan ini menyita waktu kamu, Nadia," tutur Ain membuka kata.
"Tidak usah merasa tidak enak, Kak. Selagi aku punya waktu, maka kapan saja Kakak bisa mengajakku bertemu," sahut Nadia pula tanpa beban.
Ain memegang tangan Nadia, menggenggamnya erat. Sebuah rasa aneh menjalar ke seluruh pembuluh darahnya. Berdesir hingga ke ubun-ubun. Jantungnya berpacu lebih cepat, ada apa dengan kakak madunya itu?
"Nad, kamu tahu, bukan? Kalau asrama putra di pondok hampir roboh. Sekarang sedang direnovasi, tapi mogok karena terhalang kendala biaya. Kakak boleh pinjam uang untuk membeli bahan-bahan bangunan? Toko sedang sepi, jadi tidak ada pemasukan untuk hari ini," ungkap Ain membuat Nadia mengerjap sembari menahan napas.
Hah~
Nadia mendesah lega. Pikiran buruk yang sempat mampir hilang begitu saja setelah mendengar ucapan Ain.
"Kukira Kakak mau mengatakan apa, aku sudah was-was tadi. Sebentar, ya," ucap Nadia. Ia melepas tangannya dari genggaman Ain dan merogoh ke dalam tasnya.
Nadia mengeluarkan sebuah kartu ATM dari sana dan memberikannya pada Ain.
"Maaf, Kak. Sebenarnya ini tabungan untuk anak-anak di yayasan. Isinya memang belum banyak, tapi setiap bulan selalu ada uang masuk ke dalamnya dari bendahara aku di pabrik. Sengaja untuk mereka, tapi karena pondok lebih membutuhkan ... Kakak pakai saja untuk keperluan pondok sekalian Kakak saja yang pegang kartu itu," jawab Nadia sekali lagi tanpa beban.
Ain tertegun, Nadia bahkan membuatkan tabungan untuk anak-anak di yayasan.
Kenapa kamu selalu tersenyum seperti itu, Nadia? Apa kamu tidak pernah merasakan sakit di hati seperti yang aku rasakan? Kamu tidak pernah terlihat sedih apa lagi kecewa meskipun aku selalu menekanmu dengan banyak peraturan. Apakah seperti itu yang dinamakan ikhlas?
"Kak?" tegur Nadia saat melihat Ain termenung sembari menatapnya.
"Ah ... iya. Ini ... tapi ini untuk anak-anak, apa tidak apa-apa Kakak pakai untuk keperluan pondok?" tanya Ain tak enak hati. Benar, ia merasa tak enak hati karena itu tabungan khusus anak-anak.
"Tidak apa-apa, rezeki mereka masih luas di depan, Kak. Ini mungkin sudah rezekinya pondok, rezekinya asrama putra. Jadi, pakai saja selama itu untuk kemaslahatan ummat, maka tidak masalah," sahut Nadia masih dengan senyum di bibir.
Nadia, kamu terlalu baik.
__ADS_1
"Apa kamu percaya pada Kakak untuk memegang tabungan ini?" Nadia mengangguk mendengar pertanyaan Ain, "kenapa?" sambungnya bertanya.
Nadia menghela napas pendek sebelum menjawab, "Karena tidak ada alasan untukku tidak percaya pada Kakak. Sebelum aku datang, Kakak-lah Ibu mereka. Seorang Ibu tidak mungkin mengkhianati anaknya, bukan?" Sekali lagi Nadia tersenyum. Senyum yang sama yang selalu Ain lihat saat wanita itu bersama anak-anak di yayasan.
Ain kembali tertegun mendengar jawaban adik madunya itu. Ia tak menyangka Nadia sama sekali tidak menyimpan dendam padanya. Padahal, ia sudah menekannya dengan berbagai aturan selama ini. Namun, wanita itu tetap tersenyum tulus seperti saat pertama kali ia datang. Senyum itu tak pernah pudar.
"Terima kasih," tutur Ain. Hanya itu yang bisa ia ucapkan untuk saat ini. Nadia mengangguk kecil menanggapi Ain. Keduanya kemudian hanyut dalam pikiran masing-masing. Menatap riak air danau buatan dengan tatapan berbeda.
Ain melirik Nadia saat seorang anak yang meminta-minta datang padanya, adik madunya itu memberinya uang sambil mengusap kepalanya.
Sangat jarang aku jumpai seseorang yang tak segan sepertimu, Nadia.
"Nad!" panggil Ain membuat Nadia menoleh padanya.
"Kenapa, Kak?" Nadia bertanya pelan.
"Boleh Kakak tanya sesuatu?" ungkap Ain sembari menelisik wajah ke-arab-araban milik Nadia.
"Tanyakan saja, Kak. Kalau aku bisa jawab, aku akan menjawabnya," sahut Nadia pasti.
"Maaf, tapi kamu jangan tersinggung," pinta Ain sebelum ia mengutarakan pertanyaan pada Nadia.
"Tunggu! Biar aku tarik napas dulu dan mengembuskannya untuk menyiapkan hatiku!" kata Nadia seraya menarik udara banyak-banyak dan membuangnya perlahan, "sudah!" lanjutnya lagi.
Ain terkekeh merasa konyol dengan sikap Nadia barusan.
"Baik. Kenapa kamu mau menikah dengan abinya anak-anak?" tanya Ain yang seketika membungkam Nadia. Wajah itu beriak yang semula tersenyum, perlahan garis bibirnya turun.
Lalu, kembali tersenyum sembari menatap Ain.
"Boleh aku menjawabnya dengan cerita? Dari situ Kakak akan tahu alasannya," sahut Nadia lagi. Ain menganggukkan kepalanya. Mulailah Nadia bercerita.
__ADS_1