Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Mengungkap yang Tersembunyi


__ADS_3

"Ruby, katakan pada Abi apa benar Bunda koma?" tuntut Ikram lagi merasa bodoh sendiri karena tidak tahu apa-apa soal Nadia. Patutlah Ruby menertawakannya. Ia suami yang tidak becus, lemah dan bersikap tidak adil pada istri-istrinya.


Yuni pun menunggu dengan tidak sabar, kabar Nadia yang diberitahukan Ruby sungguh membuat Yuni merasa menjadi manusia paling jahat di dunia.


Hanya Ain yang terus menunduk, ia tidak berani mengangkat wajah apa lagi bertatapan dengan Ikram. Malu dan takut tentunya.


"Ya, Abi. Aku yakin Umi tahu kalau Bunda koma waktu itu, tapi dengan maksud tertentu Umi sengaja menyembunyikan ini semua dari Abi," sahut Ruby lagi.


Ikram ambruk, ia terduduk di lantai. Gagal sudah menjadi kepala rumah tangga, gagal menjadi nakhoda. Ia telah gagal.


"Abi tidak tahu, bukan? Dan tidak pernah mencari tahu kenapa selama ini Bunda secara rutin keluar rumah bahkan terkadang tidak sempat meminta izin Abi," lanjut Ruby dengan nada pelan dan terdengar pilu.


Ikram mengangkat wajah perlahan, Ain menyandarkan tubuhnya di dinding, dan Yuni mempertajam indera rungunya.


"Itu karena Bunda harus melakukan cuci darah rutin untuk menyambung hidupnya ...." Kalimat Ruby terjeda oleh tangis yang tiba-tiba menyeruak. Ia tak kuasa menahan diri saat membayangkan Nadia yang berbaring dengan berbagai alat medis di tubuhnya.


Ikram ikut menangis, sungguh ia tidak tahu apa-apa soal Nadia. "Ya Allah!"


"Bunda terkena gagal ginjal dan harus melakukan cuci darah rutin jika ingin tetap hidup. Bunda tidak bisa hamil bukan karena Bunda mandul, tapi karena penyakitnya yang akan membahayakan Bunda kalau memaksakan untuk hamil. Bunda tidak pernah terlihat sakit selama ini karena hanya dengan cara itu ia bisa melupakan kalau dia adalah seorang penderita sakit dan divonis berumur pendek," lanjut Ruby lagi masih dengan tangisnya yang pilu. Ia menatap Ain yang sempat meliriknya.


Yuni tanpa sadar menangis, ia sudah tega menyakiti orang yang sedang sakit. Yuni sungguh-sungguh menyesal telah bersekongkol dengan Ain. Bagaimana caranya menebus semua itu.


Ain pun tak luput dari tangisannya, entah apa yang dia tangisi.

__ADS_1


"Ya Allah!" Ikram kembali merintih menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


"Sakit yang Bunda rasakan tak tentu datangnya. Itulah kenapa tubuh bunda semakin hari semakin kurus. Wajahnya memucat jika saja Bunda tak memolesnya dengan make-up. Kalian saja yang tidak memperhatikannya karena kalian memang tidak peduli padanya dan sibuk memikirkan diri kalian sendiri," ketus Ruby dengan air matanya yang tak berhenti mengalir.


"Abi bahkan sering memarahi Bunda ketika Bunda pergi tanpa izin. Padahal, Bunda memiliki alasan kenapa Bunda melakukan itu. Bunda pernah dirawat di selama satu Minggu dan selama itu ... apa pernah kalian menanyakan soal Bunda? Tidak pernah! Kalian jahat! Abi jahat, Umi juga."


Ruby mengusap air matanya, ia menarik napas dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar.


Ikram tergugu dengan kepala yang ia benamkan di lutut.


"Sekarang menangis pun tiada guna. Nenek sudah ditimbun tanah, Bunda pun sudah pergi. Bagaimana kalian akan menebus dosa-dosa kalian itu? Dosa-dosa yang sengaja kalian buat hanya untuk menyakiti Bunda, tapi perlu kalian tahu selama ini Bunda bahkan tidak pernah berkata buruk soal kalian. Bunda tidak pernah memikirkan hatinya yang kalian sakiti, yang penting untuknya menebar kebaikan sebelum ajal datang. Umi ... apa Umi sadar yang Umi lakukan selama ini adalah salah dan dosa yang disengaja?" Ruby memelankan suara, matanya menatap Ain yang menangis sambil bersandar pada tembok.


Dengarkan Ruby berceramah menguak semua kenyataan yang selama ini tersembunyi dari mereka.


Kenyataan tentang ini benar-benar memukul kelelakiannya. Malu menjadi laki-laki lemah dan tak dapat berbuat apa-apa. Seharusnya dia curiga dan mencari tahu soal Nadia yang secara rutin pergi dari rumah. Ia bodoh, benar-benar bodoh. Baru sekarang Ikram sadar menjadi manusia paling bodoh. Dibekali akal pikiran, tapi tidak dapat menggunakannya dengan benar.


"Itu karena bunda tidak ingin dikasihani. Aku sempat ingin memberitahu Abi perihal sakitnya Bunda, tapi Bunda selalu melarangku. Bunda tidak ingin dikasihani kalian, siapa pun. Bunda hanya ingin kalian tahu kalau dia baik-baik saja. Hebat, bukan Bundaku itu! Dia wanita yang kuat, berjuang sendiri meskipun di sampingnya ada seorang suami."


Tangis Ruby kembali menggema. Terdengar pilu dan menyayat hati. Yuni bahkan mengeluarkan suara isak tangis mendengar kalimat terakhir Ruby.


"Bunda tidak butuh Abi, Bunda tidak butuh suami lemah dan tidak becus seperti Abi. Bunda terlalu berharga untuk menjadi istri Abi. Aku pernah meminta Bunda untuk bercerai dari Abi, tapi Bunda tidak menanggapi. Abi benar-benar laki-laki yang tidak tahu diuntung, Bunda baik, Bunda cantik, Bunda kaya, Bunda suka menolong, tapi Abi dan kedua istri Abi itu dengan tega terus-menerus menyakiti Bundaku itu. Kalian manusia, tapi tidak berhati," sengit Ruby yang benar-benar menjatuhkan harga diri Ikram sebagai laki-laki sekaligus ayah untuknya.


"Abi tahu ... Abi tahu soal sakitnya Bunda. Bunda pernah memberitahu Abi malam itu, malam di mana Abi memarahi Bunda habis-habisan karena keluar tanpa izin. Aku mendengarnya, kami mendengar kalian bertengkar, tapi Abi justru menertawakan Bunda seolah Bunda sedang bermain-main dengan penyakitnya. Abi tidak mempercayai Bunda."

__ADS_1


Suara Bilal ikut menggema di rumah itu. Ia datang menyusul bersama Nafisah karena Ruby yang tak kunjung kembali ke rumah. Ikram mengangkat wajah menatap dua sosok kecil yang berdiri di ambang pintu bergandengan tangan.


Ain pun ikut menatap kedua anaknya yang selama ini tak ia urus. Penyesalan, bersarang di hatinya. Ke mana dia sampai melupakan dua sosok kecil itu yang masih membutuhkan belaiannya. Ain menangis semakin menjadi, mengingat dosa yang ia lakukan terhadap anak-anaknya. Dosa menelantarkan mereka.


Ruby benar-benar tidak menyangka sikap Ikram yang kelewat bodoh. Seharusnya dia bisa membedakan yang sakit dan yang sehat.


"Aku tidak tahu lagi harus apa? Laki-laki yang aku idolakan selama ini, ternyata hanya seorang pecundang. Laki-laki yang aku anggap sebagai cinta pertamaku itu, ternyata hanyalah seorang kerdil yang bersembunyi di balik gelar ustadz. Apa masih pantas kami sebagai anak, meniru perbuatan kalian? Apa kalian sebagai orang tua ingin kami melakukan hal yang sama seperti yang kalian lakukan saat ini?"


Mata kecil putri sulungnya menatap kecewa sosok Ikram yang terduduk di lantai. Rasa sesal, kecewa, dan segala rasa yang lainnya berkumpul dalam hati Ruby.


"Bilal, Nafisah, kenapa kalian tidak pernah pulang? Umi kangen," ucap Ain sembari melangkah mendekati kedua anaknya.


Nafisah memeluk Bilal dengan erat kala langkah Ain semakin mendekat.


"Kami tidak mendapat ketenangan di rumah ini. Tidak seperti rumah Bunda yang selalu menyenangkan untuk kami," ucap Bilal datar.


Langkah Ain berhenti, mendengar Nadia lebih mereka bela membuat Ain seketika meradang. Ia kembali emosi, tapi sebisa mungkin ia kendalikan agar tidak meluap dan tumpah ruah.


"Nadia? Kenapa kalian selalu menyebut namanya. Apa kalian tidak tahu sakitnya hati Umi karena dia berniat merebut Abi kalian dari Umi? Dia tidak ubahnya seperti wanita yang suka merebut suami orang dan merusak rumah tangga wanita lain. Umi sakit, Nak! Hati Umi ini sakit saat melihat Abi kalian yang menikahinya. Umi sakit saat Abi kalian menempatkan wanita lain dalam rumah kita."


Ain menangis histeris menumpahkan kesedihan yang selama ini ia simpan dalam hati. Ia duduk bersimpuh di lantai menangis dengan menutupi wajahnya.


"Umi selalu menyalahkan Bunda. Padahal, jika saja Umi bisa menata hati maka Umi akan bisa hidup dengan tenang dan rumah tangga Umi akan baik-baik saja. Kalau Bunda perusak, maka disebut apa Tante Yuni?" sarkas Ruby yang membuat Yuni seketika menegang.

__ADS_1


"Perlu Umi tahu ada satu alasan kenapa Abi harus menikahi Bunda!"


__ADS_2