
Ikram menatap tak percaya pada Nadia. Di tangan wanita itu sebuah amplop tebal digenggamnya. Ia baru saja kembali dari kamar dan membawa benda tersebut.
"Sudah tidak apa-apa. Aku bukan ingin merendahkan Mas sebagai suami. Juga bukan ingin menginjak-injak harga diri Mas sebagai kepala keluarga, tapi murni karena aku merasa kita sebagai suami istri harus saling membantu saat membutuhkan, dan saling mendukung saat terjatuh. Terima ini, Mas. Memang isinya tidak seberapa, tapi ini cukup untuk membantu kebutuhan kedua istri Mas itu selama satu bulan," ucap Nadia memberikan amplop itu di tangan Ikram.
Ia tersenyum ketika Ikram menatapnya dengan tatapan berbeda.
"Mas tidak perlu mengatakan kepada mereka kalau ini dariku. Biar mereka tahu ini dari Mas saja. Semua itu untuk menjaga harga diri Mas sebagai suami," lanjut Nadia lagi dengan senyum yang sama. Iblis sekalipun tak akan mampu membuat hati Nadia merasakan sakit.
"Kenapa kamu melakukan ini, Nadia? Bukankah Ain selalu menekanmu selama ini? Seharusnya kamu menertawakan kami, bukan malah membantu seperti ini," ucap Ikram yang sadar akan kesalahannya.
"Dendam itu hanya akan membuat hidup kita tersiksa, Mas. Aku tidak ingin menyimpan dendam di hatiku karena itu akan membuatku tidak bisa merasakan ketenangan dan kedamaian hati. Sudah, tidak usah dipikirkan. Bawa pulang dan bagikan untuk kedua istri Mas di rumah," jawab Nadia yang membuat hati Ikram benar-benar luluh karenanya.
Di saat istrinya yang lain menjatuhkan harga dirinya sebagai suami, tapi Nadia malah menjaga kehormatannya sebagai kepala keluarga.
"Terima kasih." Ikram memeluk tubuh Nadia sebelum beranjak meninggalkan rumah itu. Nadia tersenyum, senyum yang lain yang tak pernah Ikram lihat sebelumnya.
Ia menutup pintu rumah dan beranjak tidur bersama kedua anak Ikram.
"Bunda, jangan pergi dari kami? Kalau Bunda berpisah dengan Abi, itu artinya kami tidak bisa lagi bersama Bunda," pinta Bilal yang sesaat merasakan Nadia berbaring di sampingnya.
Nadia terkejut, tapi ia tersenyum. "Sudah, jangan dipikirkan. Sebaiknya kita tidur supaya tidak kesiangan," ucapnya sembari mengusap rambut Bilal dan Nafisah. Mereka menurut dan terlelap bersama.
Di rumah, kedua istri Ikram gelisah. Beberapa hari lagi acara kelulusan akan dilaksanakan, tapi mereka tidak memiliki pegangan uang untuk mempersiapkan semuanya. Ain yang paling cemas, belum pernah ia sepusing ini ketika akan menghadapi acara wisuda santri.
"Mi?" panggil Ikram yang membuat Ain dan Yuni sama-sama menoleh. Ia duduk di samping Ain berhadapan dengan Yuni.
Ikram mengeluarkan uang pemberian Nadia yang sudah dibagi tiga olehnya sebelum mendatangi kedua istrinya.
"Ini ada sedikit rezeki untuk kalian. Isinya memang tidaklah sama, tapi aku harap kalian bisa mengerti." Ikram memberikan satu amplop untuk Yuni, satu lagi untuk Ain, dan satunya ia masukkan ke dalam saku.
__ADS_1
"Itu ... apa untuk Nadia?" selidik Ain curiga. Yuni pun menatap tak suka saat melihatnya.
"Bukan, ini untuk acara kelulusan. Abi akan memberikannya kepada pengurus di pondok. Nadia sudah memiliki bagiannya sendiri," jawab Ikram yang tetap saja membuat Ain tidak suka mendengarnya. Namun, tak dapat memprotesnya.
Hari yang dinanti pun tiba, acara kelulusan santri yang dihadiri oleh seluruh wali siswa yang ada. Di barisan paling depan, Ikram diapit Yuni dan Ain berjejer dengan para ustadz dan pengurus pondok.
Sementara Nadia berbisnis dengan anak-anak asuhnya. Ia menjajakan bunga-bunga yang selama ini dikumpulkannya. Karya anak-anak yayasan, bersama Ruby dan kedua adiknya juga anak-anak yang lain.
Kali ini, Nadia tak mengenakan penutup wajahnya. Biarlah semua orang tahu siapa Nadia. Ia tak peduli lagi. Selama ini, setiap acara wisuda, Nadia selalu mengenakan niqab alias cadar untuk menutupi wajahnya agar semua tamu tak dapat mengenalinya.
Mereka datang dari berbagai daerah bahkan dari luar pulau pun ada, dan mereka yang hidup di kota-kota besar pasti mengenal wajah Nadia. Wajah yang tak asing bagi mereka.
"Kenapa Bunda tidak memakai cadar seperti biasa? Lihat, orang-orang itu menatap Bunda liar," ucap Ruby yang tak senang Nadia dilihat banyak orang.
"Tidak apa-apa, sudah jangan dihiraukan. Coba lihat apa semua sudah tertata dengan rapih?" sahut Nadia memperhatikan semua jualannya.
Ia membuka bazar mini di dekat pintu masuk pondok berdekatan dengan tempat parkir kendaraan. Buah karya anak-anak asuhnya. Mulai dari buket bunga, bunga-bunga hias, hiasan dinding dan lain sebagainya. Semua dijajakan Nadia di bazarnya. Anak-anak asuhannya yang akan menjaga karena Ruby akan berkumpul bersama temannya.
Nadia mengernyit, seharusnya Ibu yang naik bukan dirinya.
"Benar, Mbak Nadia yang pantas menjadi wali mereka. Bukan saya," timpal Ibu pula dengan senyuman.
Nadia mendesah, "Baiklah, Bunda yang akan menjadi wali kalian. Sekarang, cepat pergi sana. Kalian akan melihat Bunda di antara wali lainnya," katanya yang membuat kedua anak itu tersenyum senang.
Tibalah saatnya, pengumuman hasil belajar pada santri akhir. Ikram sedari tadi tidak merasa tenang, seharusnya yang duduk bersamanya adalah Nadia bukan Yuni. Matanya menatap sekeliling mencari sosok istri keduanya. Ain tak acuh, Yuni pun cuek.
Tepat saat pandangan Ikram sampai pada barisan bangku wali siswa kelas akhir, ia terhenyak melihat Nadia yang dikerubungi Ibu-ibu meminta foto bersama.
"Nadia?" Ikram hendak beranjak, tapi kedua tangannya dicekal Ain dan Yuni.
__ADS_1
"Biarkan saja!" cegah Ain tak suka. Ikram duduk kembali, pandangannya terpaku pada sosok cantik jelita yang berjalan santai dan duduk di antara wali siswa itu. Lagi-lagi beberapa wanita histeris melihatnya, mereka menggunakan kesempatan itu untuk berfoto dengannya.
Para pengurus pondok yang mengenalnya, mengernyit heran. Siapa Nadia? Kenapa sosoknya seolah-olah menjadi idola bagi mereka.
Satu per satu semua siswa dipanggil naik ke podium. Yang pertama tentu saja Ruby, Ikram dan Ain bersama-sama naik. Nadia tersenyum ketika pandanganya beradu dengan Ikram. Namun, laki-laki itu tidak. Kesedihan dan penyesalan jelas terlihat di maniknya. Begitu pun, ketika ia turun pandangannya tak lepas dari wajah Nadia yang cantik hari ini.
Melihat Ikram yang tertuju pada satu arah membuat semua orang ikut memandang Nadia. Wanita itu menunduk seketika ketika ribuan mata mengarah padanya.
"Mbak Naira, sepertinya pemilik pondok ini suka pada sama Mbak. Dari tadi terus melihat ke sini. Saya dengar dia punya tiga istri, tapi kenapa cuma dua? Ke mana istri keduanya yang selalu memakai cadar, ya?" gurau salah satu wali siswa berbisik di telinga Nadia.
Ia hanya tersenyum tidak menimpali.
"Eh, Mbak. Aku kira Mbak jadi tamu kehormatan di sini. Kenapa Mbak malah duduk sama kami?" tanya Ibu yang lain ingin tahu.
"Ada anak asuh saya di sini, mereka berdua anak yatim piatu. Untuk itulah saya di sini menggantikan orang tua mereka," jawab Nadia terus tersenyum.
Mereka membulatkan mulut. Sampai pada nama anak asuhnya disebut secara bersamaan, Nadia beranjak berdiri. Semua mata mengarah padanya. Riuh rendah suara para tamu yang hadir sangat mengusik ketenangan Ikram.
Ruby ikut membelalak tak percaya, dalam hati ia pun ingin Nadia yang menjadi walinya. Nadia tersenyum melambaikan tangan pada semua tamu yang melambai padanya. Ikram cemburu, tapi dia tidak tahu siapa Nadia.
Nadia mencium pipi kanan dan kiri kedua anak asuhnya. Berfoto bersama mereka, dan banyak sekali yang mengambil foto mereka. Hampir semua tamu yang datang dari luar kota. Ikram dan Ain mengernyit, sedangkan Yuni sudah menduga itu semua.
Nadia kembali pada bazar usai melakukan tugasnya sebagai wali siswa. Tak disangka, Raihan ada bersama mereka.
"Rai, kamu di sini? Sedang apa?" tanya Nadia yang ikut duduk bersama mereka.
"Aku diundang untuk membuat dokumentasi bersama timku," jawab Raihan.
"Tapi selama ini bukan kamu," cetus Nadia lagi.
__ADS_1
"Hanya ingin melihat kamu," sahut Rai sambil tersenyum.
Raihan menggoda, Nadia bersemu saat anak-anak menyoraki. Mereka sibuk melayani para tamu yang membeli jualan mereka. Ikram menggeram marah saat melihat Raihan berdiri berdampingan bersama Nadia.