Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Hukuman


__ADS_3

Ruangan yang luas itu seketika terasa sempit dan menyesakkan. Udara di sekitar menipis dan mereka harus saling berebut untuk memenuhi pasokan udara ke dalam paru-paru mereka.


Kecuali dia yang berdiri angkuh dengan wajah datarnya yang dingin, pandangannya lurus menusuk, memberikan rasa takut pada hati kedua orang yang sedang duduk di bangku terdakwa itu.


Ia menarik sebuah bangku lain dan memutarnya sejenak sebelum mendudukinya. Laki-laki itu menopang dagu di atas tangan yang ia letakkan pada sandaran bangku yang sengaja terbalik. Kedua kaki mengangkang lebar, tersenyum memberikan ancaman yang tidak main-main.


"Kamu tahu, Pak Tua? Luka yang kamu berikan di sekujur tubuhku ini, meninggalkan bekas yang tak pernah bisa hilang. Menciptakan dendam yang mendalam. Aku harus menahan derita yang luar biasa, kesakitan yang tiada tara, dan keputusasaan yang membuatku terpuruk dalam luka," ungkap paman Harits terdengar getir dan memilukan.


"Tapi itu dulu ...." Dia tertawa kecil sebelum melanjutkan, "dulu ... dulu sekali, aku bertekad membenahi diriku. Aku berjuang untuk tumbuh menjadi kuat dan tidak mudah lagi ditindas." Paman Harits tersenyum lagi. Wajahnya berubah jenaka hanya dalam hitungan detik saja.


"Ha-harits ... ka-kamu be-berubah?" ucap laki-laki tua itu gemetar sesaat paman Harits menarik sumpal di mulutnya. Ia hanya ingin mendengar suaranya sebelum memberikan hukuman.


"Sadarlah, Pak Tua! Bukankah kamu sendiri yang mengajari aku untuk kuat, semua karena dirimu aku bisa sekuat ini sekarang. Jangan lupakan perbuatanmu dulu!" sahut paman Harits sembari melayangkan senyum padanya.


Laki-laki tua yang tak lain adalah ayah paman Harits itu, menunduk. Ada rasa sesal di hatinya saat mengingat masa-masa muda paman Harits yang ia perlakukan dengan buruk.


Paman Harits yang pendiam dan tak banyak bicara saat kecil itu, dianggapnya tak berguna dan bodoh. Dihapus dari urutan ahli waris kala ia berada di masa jayanya. Menghasut Ibu untuk ikut membenci paman Harits juga.


"Tapi bagaimanapun, a-aku adalah Ayahmu, Harits!" ucapnya lirih nyaris tak terdengar.


"Haha ...." Gelak tawa laki-laki di hadapannya pecah seketika setelah ia mendengar laki-laki itu berbicara.


"Aku tidak memungkiri yang kamu adalah Ayahku. Aku akui itu, Ayah. Namun, Ayah tetaplah Ayah ... aku agak sangsi untuk itu. Pasalnya, seorang Ayah sudah pasti akan menyayangi buah hatinya, bukan malah menyiksanya hingga meninggalkan bekas luka bahkan dendam kesumat di hatinya. Aku benar, bukan, Ayah?"


Paman Harits tersenyum, melihat wajah tua di hadapannya dibanjiri keringat. Ia gugup sekaligus takut mengingat kesalahan-kesalahan yang dia lakukan puluhan tahun lalu.


"Sebenarnya aku ingin menemui kalian dan membalas dendam, tapi itu akan merusak kehormatanku. Jadilah aku menunggu walaupun harus bertahun-tahun, aku sabar menunggu kalian datang menyerahkan diri sendiri padaku. Pada akhirnya, kalian datang juga. Aku menang!"

__ADS_1


Ia mengepalkan tangannya dengan senyum bangga di bibir. Laki-laki tua di hadapannya tertunduk, kedua bahunya berguncang.


"Maafkan Ayah, Harits! Maaf. Apa pun hukumannya, Ayah akan menerima. Maaf!" katanya dengan tangis yang tersedu sedan.


"Baiklah ... aku maafkan, tapi ... untuk kesalahan istrimu, aku tidak bisa mengampuninya? Apa Ayah mengizinkan aku untuk menghukumnya?" Wajah datar itu kembali berubah jenaka, layaknya anak kecil yang mengungkapkan keinginannya pada orang tua.


Matanya berkedip lucu, senyum yang dibentuk pun nampak menggemaskan. Orang tua itu melirik wanita di sampingnya, ia tak tahu harus apa. Hanya bisa menundukkan kepala dalam-dalam menghindari tatapan sang istri muda.


Tangis wanita itu semakin menjadi. Ia meraung, tapi tak ada kata yang terucap karena mulutnya yang masih disumpal kain. Ia menjerit, menghentak-hentakkan kursi histeris.


Paman Harits tertawa, kepalanya kembali berputar pada wanita yang untuk kedua kalinya itu ia temui.


"Hai, Nyonya ... ah, apa aku harus memanggil Anda Ibu? Atau Mamah? Bunda? Menjijikkan!" cibir paman Harits.


Tubuh wanita itu menegang tatkala paman Harits beranjak dari kursi. Ia semakin ketakutan saat langkah laki-laki itu mendekati dirinya.


"Kamu terlalu lancang! Usiamu mungkin saja tak jauh beda dari antekmu itu, bukan? Kamu mau tahu apa yang terjadi padanya?" Bibir itu kembali membentuk senyuman.


"Dia sudah menerima hukumannya, seumur hidup. Aku yakin dia tak akan pernah bisa melupakannya untuk seumur hidup-"


"Kamu sudah merebut kebahagiaan Ibuku. Kamu mengambil semua milik Ibuku, suami, harta, juga ketenangan hidupnya. Lalu, sekarang kamu mau mencelakai anak dan istriku? Kamu hampir membunuh semua orang. Demi apa? Demi ini?!"


Paman Harits membanting berkas yang ia sembunyikan di belakang tubuhnya ke hadapan wanita itu. Baik laki-laki tua, maupun si wanita itu membelalakkan mata saat melihat berkas yang mereka incar.


"Ini yang kalian cari, bukan? Kalian menginginkan ini sama seperti dua pecundang itu!" Paman Harits melirik keduanya bergantian. Ia tersenyum, permintaan maaf pak tua itu hanya bualan semata.


Lihat mata rentanya, begitu haus akan harta. Ia seperti lelaki mesum yang dihadapkan dengan wanita seksi.

__ADS_1


"Kalian menginginkan kebun karet itu, bukan? Aku akan mengizinkan kalian tinggal di sana, tapi ...."


Paman Harits tersenyum saat kedua pasang mata itu mengarah padanya. Menunggu tak sabar kelanjutan dari ucapan laki-laki itu.


"Tapi sebagai pekerja. Haha ... kalian akan bekerja padaku. Tentu saja, kalian akan aku gaji sama seperti pekerja lainnya. Bukankah untuk mendapatkan sesuap nasi itu perlu dengan kerja keras. Aku benar, bukan, Ayah? Sama seperti yang Ayah katakan padaku dulu. Jika aku menginginkan sesuatu maka, aku harus bekerja keras untuk mendapatkannya-"


"Aku ingat ... aku selalu mengingat itu. Hal itu amat membekas di hatiku, Ayah. Di saat kedua orang itu hanya perlu menadah pada kalian, tapi aku harus memeras keringat sendiri untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. Sekarang, bagaimana kalau kalian juga melakukan apa yang dulu Ayah perintahkan padaku?" Seringai jahat mencuat di permukaan bibirnya.


Gemetar tubuh tua itu, begitu pun si wanita. Apa yang dulu dia lakukan, kini berbalik padanya.


"Bawa dua manusia ini ke kebun karet! Satukan mereka dengan para pekerja yang lain dan awasi mereka berdua!" titah paman Harits kembali ke mood asalnya. Datar dan dingin.


"Ha-harits ... tolong jangan lakukan itu pada Ayah, Nak! Ayah sudah sangat tua, lemah dan tak berdaya-"


"Aku pun saat itu masih terlalu muda untuk memeras keringatku, Ayah. Masih lemah dan tak berdaya, tapi apa Ayah melihat itu semua? Apa Ayah merangkulku? Tidak! Ayah justru menertawakan aku!" tukas paman Harits mengingatkannya pada kejadian masa lalu. Laki-laki tua itu menunduk lagi. Kali ini ia benar-benar menyesali semuanya.


"Pastikan malam ini, kalian membawa mereka ke sana!" perintahnya lagi sembari berbalik meninggalkan ruangan itu.


"Harits! Nak! Ampuni Ayah, Harits! Maafkan Ayah!" Rengekan laki-laki tua itu menggema di dalam ruangan bersambut dengan jeritan tak jelas dari wanita yang di sampingnya.


Paman Harits bergeming, ia tetap melanjutkan langkah tanpa ingin menoleh.


Maafkan aku! Tapi rasa sakit di hatiku, masih menyisakan dendam yang mendalam. Aku tidak menghukummu, Ayah, sama seperti dia karena aku masih menghormatimu sebagai Ayahku.


Paman Harits memasuki mobilnya, ia kembali tanpa Yoga karena asistennya itu harus memastikan kedua manusia itu mendapatkan hukumannya.


*****

__ADS_1


Apa yang kau torehkan pada anakmu di masa kecilnya, maka itu yang akan kamu lihat di masa depannya.


Ambil baiknya saja dari part ini, yang buruk buang jauh-jauh.


__ADS_2