
Gedung serba putih itu disulap menjadi tempat pesta. Pesta yang cukup meriah. Dekorasi pesta sederhana, tapi terlihat elegan dengan nuansa pink yang soft. Kursi-kursi tamu berjejer dengan penyekat meja panjang. Mempermudah para tamu untuk berinteraksi dengan tamu lainnya.
Ikram dan Ain berdiri di pintu gedung, menyambut para tamu yang datang. Juga ada pasangan orang tua di sana yang membuat Nadia melirik suaminya. Bilal, tak nampak batang hidungnya.
Nadia dan paman Harits berjalan di paling depan, disusul Winda dan Rima terakhir Yoga. Mereka mengantri bersama tamu lainnya, menyerahkan kartu undangan sebelum memasuki gedung.
Ikram termangu, di kejauhan matanya menangkap satu sosok yang bersinar. Ia melirik Ain, dandanan mereka hampir serupa, tapi wanita yang di sana terlihat lebih bercahaya dari pada wanita yang di sampingnya. Jangan kumat, Ikram!
Namun, ia segera memutuskan pandangan, atmosfer di sekitarnya berubah sesaat ia merasakan tatapan tajam yang tepat mengenai kelelakiannya.
Bibirnya membentuk senyuman, pandangnya bertemu dengan lelaki yang tak malu menggendong bayi datang ke pesta. Digandengnya tangan Nadia posesif. Seolah-seolah di pesta ini dia akan hilang.
"Selamat datang, Tuan Harits!" Ikram menyambut ramah, dilanjutkan dengan Ain yang menyapa Nadia. Orang tua di sebelah mereka tersentak saat nama Harits disebutkan.
Terkejut bukan main, apalagi saat melihat Yoga di antara mereka. Wajah mereka segera berpaling, menghindar dari bertatapan dengan anaknya.
"Pesta yang meriah, Ikram. Selamat!" sambut paman Harits dengan senyum ramah. Ia berpaling, mendatangi lelaki tua dan istrinya yang membuang pandangan.
"Aku senang melihat Ayah di sini. Kenapa tidak mengatakan padaku kalau anak kalian menikah? Mungkin aku bisa membantu. Aku ini Kakaknya walaupun kalian menolak. Aku benar, bukan ... Ayah?" Suara paman Harits berhasil menyita perhatian.
Ikram melongo ke arahnya, begitu pun dengan Ain yang saat itu sedang bercengkerama dengan Nadia. Mereka tertegun, dan menegang melihat paman Harits berhadapan dengan ayahnya.
Ikram dan Ain saling menatap bingung, terlebih saat paman Harits memanggil besan mereka Ayah.
"Ayah?" Ain bergumam lirih. Nadia tersenyum, ia menepuk lembut bahu mantan kakak madunya itu.
"Dia memang mertuaku, Ayah dari suamiku. Calon menantu kalian adik satu Ayah suamiku, tapi tidak ada yang memberitahu hal ini kepada kami selain surat undangan itu." Nadia masih tersenyum melihat Ain yang nampak bingung.
"Mertua?" ulangnya dengan kerutan di dahi. Nadia menganggukkan kepala menyahuti.
__ADS_1
"Ah ... mari, Tuan! Kita masuk saja. Acara akad akan segera dimulai karena yang ditunggu mempelai wanita sudah datang." Ikram mengajak paman Harits dan rombongan untuk memasuki ruang pesta.
Di sana di atas panggung duduk seorang pemuda yang gagah, berhadapan dengan penghulu yang akan memulai acara.
Rai menegang saat Ikram membawa serta paman Harits duduk di sampingnya. Keringat dingin mengucur di dahi merambat ke leher dan bermuara di punggungnya.
Namun, senyum yang diukir lelaki itu terlihat ramah dan menenangkan. Apakah Rai tahu jika Ayah mereka adalah sama? Ketegangan yang dia rasakan, bukan karena akan melakukan akad, tapi karena kehadiran sosok yang tak ingin dijumpainya.
Sementara Nadia, ikut dengan Ain melihat Ruby yang menunggu di sebuah ruangan lain. Ruby berdebar saat acara dimulai.
"Apa Bunda sudah datang?" Bertanya gelisah, ia hanya ingin akad dimulai saat Nadia telah ada bersamanya.
"Aku tidak tahu, mungkin saja," sahut Bilal yang menemani. Ruby nampak gelisah, ia menggigit bibir dan berkali-kali melirik pintu.
"Pergi, tanyakan pada Umi apa Bunda sudah datang?" titahnya pada Bilal. Remaja tanggung itu tak menjawab, ia beranjak hendak meninggalkan Ruby, tapi urung saat pintu ruangan itu terbuka.
"Bunda!" panggil Bilal sesaat matanya bertemu dengan manik hazel yang hanya dimiliki Bundanya. Ruby menoleh, senyum di bibir berkembang tatkala melihat wanita yang menggendong bayi berjalan masuk.
"Duduk saja, sayang," katanya.
"Bunda!" Bilal memeluk Nadia tanpa segan. Dia sudah besar, tapi masih seperti anak-anak saat bertemu dengan Nadia.
"Kamu sudah besar, Bilal. Tampan!" Nadia melepas pelukan, mengusap pipi remaja laki-laki itu dengan lembut.
"Hallo, adik! Boleh Kakak menggendongmu?" Zahira mengeratkan pelukan di tubuh Bundanya. Ia tidak mengenal Bilal, tak ingin orang asing menyentuhnya.
Nadia berjalan mendekati Ruby. Ia memeluk gadis yang akan melepas masa lajangnya itu beberapa saat lagi dan mencium kedua pipinya bergantian.
"Kamu cantik sekali! Ini untukmu!" Nadia memberikan sebuah kotak kecil padanya. Ruby menerima dengan jantung yang berdegup.
__ADS_1
"Apa ini, Bun? Seharusnya tidak perlu bawa apa-apa. Cukup Bunda ada di sini, aku sudah sangat bahagia." Ruby bergetar. Tubuhnya berguncang.
"Jangan menangis, air mata akan membuat riasan di wajahmu rusak." Nadia mengusap lembut bahunya. Ain melihatnya bersama Bilal, sebuah kotak kecil yang isinya pasti perhiasan.
"Apa ini, Bunda?" Ia mendongak menatap Nadia.
"Buka saja! Kamu akan tahu setelah melihatnya." Nadia mengangguk pelan.
Ruby membuka kotak tersebut pelan-pelan. Sebuah berlian kecil yang pertama kali ia lihat. Ia mengambilnya, itu kalung. Memperhatikannya dengan saksama, kalung berbandul berlian itu.
"Ini cantik sekali. Pasti harganya mahal, Bun." Ruby memekik, senang bercampur haru karena Nadia tak segan menghadiahinya barang mewah.
"Terima kasih, Bunda!" Ruby memeluk Nadia haru, "mau Bunda memakaikannya?" Kepalanya mendongak bertatapan dengan manik Nadia. Wanita itu mengangguk dan berjalan ke belakang tubuhnya. Mengambil kalung di tangan Ruby, lantas memakaikannya.
"Cantik!" Ruby memegangi bandul tersebut dan menatapnya melalui cermin. Ia melirik kotak itu lagi, sesuatu terselip di sana. Ruby mengambilnya, dan menarik benda yang tak lain kertas itu.
Dua tiket berlibur ke pulau wisata Bali.
"Itu dari suami Mbak. Sebagai hadiah untuk kamu yang sekarang menjadi adik ipar Bunda." Ruby berpaling.
Raut bingung jelas terlihat di wajahnya. Nadia mengangguk menegaskan.
"Rai, adalah adik dari suami Bunda. Jadi, sekarang Ruby adalah adik ipar Bunda." Ruby semakin menganga dibuatnya. Ternyata dunia memang hanya selebar daun kelor saja. Takdir itu terasa sempit dan dekat setelah mengetahui kenyataannya.
"Akadnya sudah dimulai." Suara Bilal membuat semua hening. Mendengarkan dengan baik bagaimana Raihan, pemuda yang dulu tergila-gila padanya itu, kini akan menjadi adik iparnya melafalkan kalimat kabul.
"Alhamdulillah!" Semua berucap syukur saat kata 'sah' menggema. Ruby telah resmi melepas masa lajangnya, berganti status menjadi istri dari Raihan.
"Ayo, kita ke tempat acara!" Nadia dan Ain mengapit Ruby, sedangkan Bilal di belakang mereka. Berjalan keluar kamar menuju tempat akad dilangsungkan.
__ADS_1
Riuh rendah suara para tamu terdengar seperti ribuan tawon yang menyerang. Nadia menghampiri suaminya dan melihat mereka di kursi duduk bersama yang lainnya.
Di pesta itu, satu keluarga kembali saling memaafkan. Dua keluarga disatukan. Paman Harits telah berbaikkan dengan ayahnya, dan Nadia sudah melupakan apa yang terjadi di masa lalu antara dirinya dan Raihan.