Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Mengingatkan


__ADS_3

Selama tiga hari dirawat, selama itu pula Nadia dan Ikram yang menemani. Terkadang bersama Bilal dan Nafisah karena Ain disibukkan oleh toko yang mulai dibanjiri pembeli juga rencananya bersama Yuni tentu saja.


Kedua anak yang seharusnya dia perhatikan, kini merasa jauh dengan ibunya sendiri. Ain hanya akan menyiapkan sarapan untuk mereka tanpa menemani. Ia selalu sibuk dengan dirinya sendiri. Pergi berbelanja bersama Yuni juga ke salon untuk perawatan diri.


"Abi! Bunda!" sambut keduanya begitu melihat mobil Ikram memasuki gerbang. Mereka tahu di dalam sana ada Nadia bersama anak yang dirawat di Rumah Sakit.


Bilal dan Nafisah menyambut keduanya dengan gembira. Mereka menyalami dan ikut menuju yayasan membawa anak yang baru saja keluar dari Rumah Sakit.


"Kenapa kalian senang sekali?" tanya Nadia saat keduanya terus menempel di tubuhnya. Ia tersenyum heran karena tidak biasanya Bilal dan Nafisah bersikap berlebihan seperti saat ini.


Mereka hanya saling menatap, terkekeh kecil dan menggeleng. Semakin menambah kebingungan dalam diri Nadia.


"Bunda, lapar?" celetuk Bilal menghampiri Nadia yang sedang membuatkan kopi untuk Ikram.


Ikram yang sedang duduk bersama Nafisah menoleh sambil mengernyit heran.


"Kalian belum makan? Umi kalian ke mana?" tanya Ikram bingung.


Ia melirik Nafisah, anak bungsunya itu malah menggeleng tidak tahu.


"Katanya mau ke toko tadi pagi, Bi. Umi belum masak katanya tidak sempat, ada banyak pesanan di toko," jawab Bilal dari arah dapur.


Astaghfirullah!


Ikram mengucap dalam hati. Merasa Ain sudah jauh dari anak-anak. Ia bahkan tidak terlihat datang ke Rumah Sakit untuk sekedar menjenguk anak asuh mereka atau pun menemani Nadia.


"Tidak apa-apa, mungkin memang Umi sedang sibuk. Biar Bunda masak dulu, ya," ucap Nadia, mengelus rambut Bilal dan memintanya untuk bergabung dengan Ikram.


Tanpa berburuk sangka pada apa yang dilakukan Ain, Nadia berkutat dengan alat dapur di rumahnya. Memasak dengan bahan seadanya di rumah. Tumis kangkung, tempe goreng, sambal tomat, dan lalap timun. Tidak lupa ikan goreng ia sajikan untuk kedua anak Ikram.

__ADS_1


Besok, ia harus kembali ke Rumah Sakit untuk melakukan cuci darah lagi. Rasanya lelah harus bolak-balik Rumah Sakit hanya untuk menyambung hidup. Seandainya pendonor itu bisa didapat dengan mudah, semudah membalik telapak tangan ia tidak perlu lagi melakukan cuci darah rutin dan dapat hidup dengan normal seperti wanita lainnya.


Namun, lagi-lagi apa pun yang ia jalani saat ini harus ia syukuri. Yang lalu jadikan pelajaran, dan masa depan harus dihadapi apa pun yang terjadi. Apa yang dilakukan hari ini akan dituai di masa depan.


Nadia menghidangkan makanan yang dimasaknya di meja makan. Menyantapnya bersama dengan penuh syukur.


"Assalamu'alaikum, Bunda!" Suara Ruby menghentikan kegiatan mereka menyuap nasi. Nadia beranjak membukakan pintu dan mengajaknya masuk.


Ruby menyalami Ikram juga kedua adiknya.


"Ruby ke rumah, tapi tidak ada siapa pun. Umi ke mana, Bilal?" tanya Ruby melirik adiknya yang kembali melanjutkan makan.


"Umi pergi, Kak. Katanya banyak pesanan di toko," jawab Bilal sama persis seperti jawabannya pada Ikram.


Ruby mendesah kecewa, ia merasa Ain sudah menjauh dan sibuk dengan kehidupannya sendiri. Entah apa yang dilakukannya?


"Sudah, makan dulu! Mungkin Umi memang sedang banyak pesanan. Selalu berpikir baik, jangan pernah berburuk sangka," sergah Nadia tak ingin anak-anak itu berburuk sangka pada Ibu mereka sendiri.


Nikmat Tuhan yang manakah yang kau dustakan, Nadia!


Ia berseru dalam hati.


Malam merayap menghadirkan kegelapan yang tak terbatas. Ikram, Nadia, dan ketiga anaknya bersamaan melaksanakan ibadah tiga rakaat di masjid. Tiga hari sudah cukup untuk Nadia bersama Ikram. Ia tak pernah ingin serakah dengan meminta waktu lebih banyak.


Nadia kembali ke rumahnya seorang diri. Ia menyempatkan datang ke yayasan untuk menjenguk anak yang baru saja keluar Rumah Sakit. Keadaannya sudah membaik, ia bahkan sudah bermain bersama temannya.


Ikram membawa kedua anaknya pulang ke rumah, sedangkan Ruby kembali ke asrama. Ia terlihat lebih murung, usai mendengarkan cerita kedua adiknya tenang Ain yang selalu sibuk dengan urusannya.


"Assalamu'alaikum!" sapa Ikram dan ketiga anaknya.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalaam!" Ain menyambut dari dalam rumah dengan mengenakan mukenanya.


"Umi, kapan Umi pulang?" tanya Bilal sembari menyalami Ain yang berdiri di ambang pintu.


"Baru saja, Nak. Maaf, ya. Umi telat pulang lagi, soalnya pesanan di toko sangat ramai tadi. Pembelinya juga banyak," ucap Ain. Ia mengusap rambut Bilal dengan lembut.


Bilal masuk ke dalam rumah diikuti Nafisah usai menyalami Ain. Duduk di depan televisi menonton acara kesukaan mereka.


"Sepertinya di toko sangat sibuk, ya, Mi? Gimana keadaannya?" tanya Ikram seraya merangkul bahu Ain dan mengajaknya ke kamar.


"Iya, Bi. Alhamdulillah, pembeli hari ini sangat ramai. Umi dan dua orang yang bekerja sampai kewalahan melayani. Mungkin sudah rezeki, ya, Bi." Ain ikut melingkarkan tangan di pinggang Ikram. Berjalan bersama sebagai suami istri yang harmonis.


"Alhamdulillah, kalau begitu. Jangan lupa sisihkan untuk anak-anak di yayasan, ada hak mereka di dalam uang yang kita dapatkan," ingat Ikram sembari tersenyum menatap Ain.


"Iya, Bi. Sudah Umi sisipkan untuk mereka. Oya, Bi, stok di toko sudah menipis. Abi bisa meminta Nadia untuk mengirim stok lagi, bukan?" tanya Ain memberitahu Ikram.


"Mmm ... biar Abi saja nanti yang datang ke pabriknya. Sekalian ada perlu ke Rumah kyai Sahroni," sahut Ikram yang diangguki Ain.


"Mau Umi buatkan kopi?" tawar Ain setelah berada di kamar.


"Boleh." Ikram mendudukkan tubuh di tepi ranjang. Menunggu sambil membuka sebuah buku dan membacanya. Ain datang membawakannya secangkir kopi.


"Bagaimana keadaan anaknya?" Ia ikut mendaratkan tubuh di samping Ikram.


"Sudah sehat, Alhamdulillah. Oya, Mi, jangan terlalu banyak menghabiskan waktu di luar. Kasihan anak-anak kalau sering ditinggal, atau ajak saja mereka ke toko. Nadia pun tidak selalu di rumah, dia harus mengurusi pabrik karena mamahnya sedang sakit," ucap Ikram. Ia mengusap tangan Ain dengan lembut dan menatapnya hangat.


Ikram ingin Ain tidak terlalu disibukkan dengan dunia hingga melupakan kewajibannya sebagai Ibu terhadap anak-anak.


"Maafkan Umi, Bi. Astaghfirullah! Umi hampir saja hanyut. Terima kasih sudah mengingatkan Umi," tutur Ain merasa bersalah akan dirinya yang akhir-akhir ini sibuk. Dalam hati mendesah, baru saja menikmati dunia luar Ikram sudah mengingatkannya lagi.

__ADS_1


Ikram tersenyum dan memeluk Ain, ia juga mencium pucuk kepalanya tak ingin Ain merasa tertekan dengan ucapannya tadi.


__ADS_2