
"Ayo, masuk!" Salah seorang mendorong tubuh wanita itu untuk segera memasuki mobil, sedangkan laki-laki tua yang bersamanya nampak pasrah pada hukuman yang dijatuhkan anaknya sendiri.
"Aku tidak mau! Aku tidak mau ikut dengan kalian!" tolak wanita itu Masih meronta dalam cekalan dua orang pria yang menyeretnya.
"Sudi tidak sudi, mau tidak mau ... kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu. Kamu hampir mencelakai Nyonya dan calon bayinya, kamu juga mencelakai Ibu Tuan Harits dan seluruh orang yang ada. Aku yang akan mengawasi kalian secara langsung. Masuk!" Yoga mendorong kuat tubuh wanita itu hingga membentur badan mobil.
Tak berhenti sampai di situ, dia menarik tangannya sebelum kembali mendorong punggungnya untuk memasuki mobil. Lantas, ia pun naik duduk bersama dua tersangka di kursi belakang yang saling berhadapan.
Hening, wanita itu tak lagi menangis. Ia berpaling ke jendela dengan dada yang naik turun karena emosi. Malu dan marah.
Paman Harits tersenyum jahat, ia memang pergi dari ruangan itu, tapi tidak dari tempat tersebut. Menunggu di dalam mobil dan menyaksikan drama si wanita yang enggan memasuki mobil.
Ia bahkan mengikuti iring-iringan mobil tersebut hingga tiba di persimpangan. Paman Harits melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul dua dini hari.
Ia menginjak pedal gas, berbelok ke kiri menuju rumah. Jalanan ibukota yang sepi dari kendaraan begitu menenangkan. Seandainya siang hari pun seperti malam, niscaya kehidupan akan terasa damai jauh dari keramaian.
Penjaga gerbang lekas membukakan gerbang untuknya begitu melihat mobil tuannya datang. Ia membawa langkah segera menuju kamarnya. Tak sabar rasanya ingin segera melihat dan menyapa istri dan anaknya.
.
"Sayang, Mas pulang." Ia membuka pintu, tapi keadaan kamarnya kosong. Tidak ada Nadia di sana.
Paman Harits gegas kembali turun mendatangi kamar Winda. Mengetuknya pelan-pelan hingga Winda membukakan pintu untuknya sambil menguap dan mengucek matanya.
"Kak?" Winda menyapa dengan suaranya yang parau, "pasti nyari Mbak Nadia, ya? Itu ada di dalam," sambungnya lagi seraya membuka pintu itu lebar-lebar.
"Apa aku diizinkan masuk?" ucap paman Harits sebelum melangkahkan kaki memasuki kamar Winda. Gadis itu mengangguk, ia terlebih dahulu mendekati ranjang guna membangunkan Rima.
Winda mengajak Rima untuk menyingkir sejenak dari ranjang. Paman Harits membawa kakinya memasuki kamar gadis lain walaupun ia adik angkat Nadia sendiri.
Kedua gadis itu menunggu saling berpegangan tangan, Rima yang masih sangat mengantuk menjatuhkan kepala di atas pundak Winda.
Paman Harits tersenyum, ia menggeleng melihat Nadia yang begitu pulas tertidur. Keringat bermunculan di sekitar dahinya. Paman Harits membungkuk dan mengangkat tubuh istrinya dalam gendongan.
Seperti tak ada beban, langkah paman Harits terlihat ringan saja. Ia menaiki anak tangga menuju lantai dua kamarnya. Paman Harits merebahkan tubuh istrinya dengan hati-hati. Dikecupnya dahi dan seluruh bagian wajah wanita itu, tak lupa bibirnya yang menggoda juga sebelum ia beranjak dan membersihkan diri di kamar mandi.
Selang beberapa saat, Nadia nampak gelisah dalam tidurnya. Bibirnya berkedut menyebutkan satu nama tanpa suara. Ia mulai menggerak-gerakkan kepalanya.
Nadia memiringkan tidurnya, tetap saja masih gelisah. Bagaimana pun posisi tidurnya, tetap bagi wanita hamil tua tak akan terasa nyaman. Miring salah, telentang pun salah.
__ADS_1
Ia meracau dalam tidurnya.
"Jangan! Jangan lakukan! Kumohon!" racau Nadia semakin nampak gelisah. Keringat yang keluar semakin deras.
Paman Harits keluar kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk. Ia hanya mengenakan celana kolor tanpa baju atasan. Bekas luka di tubuhnya menambah kesan seksi pada pria tinggi besar itu.
Ia melirik Nadia, tersenyum, detik kemudian menangkap kejanggalan pada istrinya. Gegas paman Harits melempar handuk di tangan pada gantungan handuk. Ia berlari menuju ranjang dan memeriksa keadaan Nadia.
"Sayang!" panggil paman Harits sembari menyeka keringat di dahi Nadia, "Nadia! Bangun, sayang!" gugahnya lagi sambil mengguncang pelan tubuh istrinya.
"Jangan!" Nadia masih meracau dalam tidur. Entah apa yang dia impikan, tapi pasti sangat melelahkan.
"Ruby!" panggil Nadia dalam tidurnya.
"Sayang! Buka mata kamu, Nadia!" pinta paman Harits lagi masih mengguncang-guncang tubuh istrinya.
"Nafisah! Jangan! Kumohon!" Nadia kembali memanggil nama anak-anak Ikram dalam tidurnya.
Paman Harits panik dan cemas melihat Nadia yang tak kunjung membuka matanya.
"Nadia! Bangun, sayang! Buka mata kamu!" Lagi-lagi paman Harits memanggil. Ia ikut gelisah.
"Ruby! Nafisah!" Suara Nadia meninggi.
"Nafisah!" Nadia terlonjak, ia membuka mata lebar-lebar dengan napas yang memburu.
"Sayang!" Paman Harits mendekapnya, ia membawa Nadia beranjak duduk.
"Mas! Mas!" Nadia memeluk erat tubuh suaminya, ia menangis menumpahkan kegelisahan dalam hatinya.
"Tenang, sayang. Tenang!" Paman Harits mengusap-usap punggungnya. Menyalurkan ketenangan pada hati istrinya itu.
Ia meraih segelas air dan mengurai pelukan. Dihapusnya air mata Nadia, dan dikecupnya kedua pipi mulus itu.
"Minum dulu supaya kamu tenang." Ia memberikan gelas berisi air pada istrinya itu. Nadia menerimanya, masih dengan sisa tangisan ia menenggak air itu hingga terisak sedikit saja.
Paman Harits kembali mengambilnya dan menaruhnya lagi pada tempatnya semula.
"Mas! Mas! Ruby, Nafisah ...." Ia mengadu pada suaminya. Tangannya yang gemetar menggenggam kedua tangan laki-laki itu. terasa lembab berkeringat.
__ADS_1
"Tenang, sayang! Pelan-pelan! Tarik napas dulu, lalu buang pelan-pelan!" pinta paman Harits padanya.
Ia menurut, menarik napas panjang dan membuangnya perlahan-lahan. Nadia melakukan itu beberapa kali untuk mengurangi rasa sesak di rongga dadanya.
"Sekarang katakan! Kamu mimpi apa? Gelisah sekali Mas lihat," ucap paman Harits setelah melihat Nadia yang kembali tenang.
"Aku bermimpi, Mas. Ruby dan Nafisah dalam bahaya. Ada seseorang yang ingin mencelakai mereka, Mas. Aku takut mereka kenapa-napa, Mas. Aku takut!" Nadia kembali menangis.
Paman Harits mendekapnya, ia mengerti bagaimana perasaan istrinya itu. Kedekatannya pada anak-anak Ikram bukan hanya sebatas kontak fisik saja, tapi secara ikatan batin pun mereka terasa dekat.
Perasaan tak enak yang dirasakan Nadia, adalah sebuah firasat bahwa sesuatu terjadi pada anak-anak itu.
"Mas, aku takut mereka kenapa-napa. Aku takut!" Laju tangis Nadia semakin menjadi dalam dekapan suaminya.
Paman Harits menyapu lembut rambut panjang milik istrinya itu. Ia sendiri tak tahu harus apa.
"Mungkin saja itu hanya bunga tidur, sayang, karena kamu terlalu lelah seharian ini. Ditambah kejadian kemarin yang dialami semua orang. Bisa saja kekhawatiran kamu terbawa sampai ke alam mimpi." Paman Harits menenangkan.
Nadia terdiam meskipun masih terisak-isak. Ia memikirkan ucapan paman Harits barusan. Dalam hati ia mengakui apa yang dikatakan suaminya itu memang benar adanya. Dia terlalu mencemaskan hanya hal.
Namun, apa yang dia alami dalam mimpi tadi, terasa amat nyata. Ia hanya takut, itu bukan sekedar mimpi.
"Tapi, Mas, tadi itu terasa sekali di hati aku. Aku takut terjadi hal buruk pada mereka, Mas. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada mereka? Aku takut, Mas!" Nadia mengeratkan pelukan.
Seperti itulah kasih sayangnya pada ketiga anak-anak Ikram.
"Lalu, kamu mau Mas bagaimana? Kamu mau Mas pergi ke sana dan memastikan keadaan mereka?"
Nadia tertegun, mendengar suara paman Harits yang terkesan asing di telinganya. Ayolah, Nadia. Bagaimanapun, mereka anak-anak Ikram, dan Ikram adalah mantan suamimu. Pasti rasa cemburu itu ada. Di saat Nadia tetap memikirkan kehidupan mereka meskipun tak menyebutkan nama laki-laki itu.
Nadia terdiam, merenungi ucapan paman Harits yang terlontar dalam nada asing. Nadia menggeleng, tetap memeluk tubuh suaminya erat-erat.
"Tidak, Mas. Mungkin benar, itu hanya bunga tidur saja kerena aku terlalu memikirkan kejadian kemarin. Maaf karena sudah berlebihan." Nadia mengurai pelukan.
Ia memandang wajah sendu berawan suaminya. Dikecupnya bibir itu dengan singkat, ada riak cemburu di sana. Nadia menangkup wajah paman Harits dengan kedua tangannya.
"Mas pasti lelah, kita tidur, ya!" ajaknya lagi yang kali ini melayangkan ciuman di kedua pipi suaminya itu.
Perlahan urat cemburu menghilang, berganti sesuatu yang lain.
__ADS_1
"Dia menginginkannya!" Tangan itu menunjuk bagian bawah tubuhnya. Nadia bersemu, dan akhir yang bahagia. Pergulatan panas di antara mereka.