Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Ibu


__ADS_3

Di dalam mobil, Zahira tertidur setelah puas menyusu pada ibunya. Bayi itu sudah lebih tenang sekarang. Nadia mendekap tubuh mungilnya, ia sempat takut kedua pamannya tadi akan menyakiti daging rapuh itu.


"Aku sempat takut tadi, Mas. Saat terbangun, Zahira tak ada bersamaku," ungkap Nadia sambil menyandarkan kepala pada kursi.


Satu sapuan di kepalanya mendarat lembut. Nadia memejamkan mata, merasakan ketenangan yang tak ia rasakan beberapa jam lalu.


"Di mana mereka meletakkan Zahira?" Paman Harits kembali menurunkan tangannya, memegang kemudi lagi.


"Dia berada di atas lantai, menangis dan menjerit, tapi mereka membiarkan. Setelah memohon, berulah mereka memberikan Zahira padaku. Semoga anak kita baik-baik saja, Mas. Aku takut dia mengalami trauma, Mas." Nadia mengutarakan kekhawatirannya. Berharap dalam hati, bayinya itu tak mengalami trauma berat karena kejadian tadi.


"Semoga saja. Dia anak yang kuat, anak yang hebat!" ucap paman Harits menimpali ucapan istrinya itu.


Nadia merilekskan tubuhnya, dengan menarik napas dalam-dalam dan membuangnya pelan-pelan. Berulang-ulang ia lakukan itu untuk menghilangkan ingatan tentang kejadian tadi. Dua kali dia diculik, dua kali juga lelaki itu menolongnya.


Ia pejamkan mata, merenggangkan otot-otot yang kaku terasa. Tangannya tak henti mengusap punggung Zahira yang terlelap di dadanya. Bayi itu nampak nyaman dan tenang.


Jeritan Zahira yang tiba-tiba menyentak tubuh Nadia. Bayi dalam pelukannya menangis kuat, tersedu-sedu hingga terdengar sesak.


"Cup ... cup, sayang. Kita sudah aman, Nak. Jangan takut, cantiknya Bunda. Ssstt ... jangan menangis." Nadia mengusap punggung dan dadanya yang terasa berdebar.


Paman Harits yang mengemudi ikut panik karena suara jeritan Zahira sungguh terdengar memilukan di telinganya.


"Ya Allah!" keluhnya. Kekhawatiran yang tadi sempat menghantui, akhirnya terjadi. Zahira trauma hingga saat terlelap pun, dia menjerit ketakutan.


Nadia membuka baju atasnya, memberikan ASI pada bayinya. Menjejalkan benda kecil itu ke dalam mulut kecil Zahira. Namun, bayi itu menolak. Ia terus saja menangis mengira situasi masih sama.


Zahira menoleh pada Ayahnya, ia membentangkan tangan sambil sesenggukan. Paman Harits buru-buru menepi. Melepas sabuk pengaman sebelum meraih anaknya. Dipeluknya bayi itu dengan lembut. Diusap-usap punggungnya itu untuk meredakan tangisnya.

__ADS_1


Zahira memeluk sang Ayah. Bayi itu tahu ayahnya tak akan membiarkan ia disakiti.


"Sudah, sayang. Kamu sudah aman, sayang. Ayah di sini." Paman Harits menciumi ubun-ubun putrinya. Meniupnya pelan-pelan sambil membacakan ayat-ayat yang dia hafal walau hanya surat Al-Ikhlas. Dia ingat pesan ustadz, katanya ayat-ayat suci bisa menenangkan hati.


Perlahan-lahan tangisnya mereda, Zahira kembali terlelap. Paman Harits menyerahkan kembali bayi itu pada ibunya. Tak henti kepalanya menoleh pada bayi yang sudah tenang di pelukan ibunya itu.


Nadia hampir menangis karenanya, tapi dia selalu bisa membuatnya tenang.


"Mas! Ibu! Bagaimana keadaan Ibu! Apa Mas sudah melihatnya?" pekik Nadia dengan suaranya yang melengking hampir saja membangunkan Zahira jika saja ia tak segera menimangnya.


Paman Harits tertegun sejenak sebelum menambah kecepatan laju mobil.


"Memangnya ada apa dengan Ibu?" Hatinya ikut merasa panik tak terkendali.


"Aku tidak tahu, Mas, tapi Ibu tadi langsung jatuh ke lantai dan tak sadarkan diri, aku belum sempat memeriksa karena seseorang membekap mulutku. Aku takut Ibu kenapa-napa?" ujar Nadia memberitahu.


"Mas, Ibu di rumah sakit. Kita ke sana!" Lelaki di sampingnya menghirup napas lega.


"Tidak, kita harus ke rumah dulu. Lihat saja kamu, apa kamu tidak mau membersihkan tubuh terlebih dahulu?" Paman Harits memainkan alisnya menunjuk pakaian Nadia yang kotor di beberapa bagian.


Nadia tersenyum lebar. Zahira pun harus dibersihkan. Setelah hampir seharian berada di gedung tua itu, Zahira pastilah merasa tidak nyaman. Mereka kembali ke rumah sebelum melihat Ibu di rumah sakit.


Secepat sambaran kilat, Nadia membersihkan diri bergantian dengan Zahira. Makanan di meja dihidangkan Bibi tatkala majikannya meminta hidangan.


"Sayang, kamu dan Zahira baiknya di rumah saja beristirahat. Mas tidak ingin kalian sakit. Menurut kali ini pada, Mas. Ada Winda dan Rima di sana yang menemani. Tak apa, Ibu akan mengerti," ucap paman Harits seusai makan itu. Nadia terhenyak, ia ingin sekali melihat kondisi Ibu. Namun, lagi-lagi harus mengalah karena ia memang butuh istirahat.


Nadia mengangguk patuh tanpa ada protes atau pun memaksa ingin ikut. Ada Zahira yang tak bisa menyeimbangkan kondisi tubuh dengannya karena masih rapuh.

__ADS_1


Tanpa terlihat lelah, laki-laki bertubuh besar itu kembali pergi. Kali ini ia menempatkan pengawal di rumahnya. Tak ingin lagi ada peristiwa yang tak mengenakkan itu. Dua kali diculik di dalam rumah sendiri. Aneh.


"Bagaimana keadaan Ibuku, Yoga?" Bertanya sambil terus melangkah mengikuti petunjuk yang diberikan oleh salah satu orangnya.


"Sudah lebih baik, Tuan. Terdapat memar di belakang kepala Nyonya. Mungkin karena itu Nyonya menjadi tak sadarkan diri," jawab Yoga sambil menyeimbangkan langkah dengan Tuannya.


Langkahnya semakin lebar tak sabar ingin segera melihat wanita yang telah melahirkannya itu. Ia membuka pintu dengan kasar, membuat terkejut dua orang gadis yang sedang menunggu Ibu di dalam kamar itu.


"Ibu!" panggil paman Harits yang serta merta berhambur mendekati Ibu yang kala itu sedang membuka mata.


"Ibu! Apa yang terjadi?" tanyanya setelah memeluk tubuh renta yang semakin tak berdaya di atas ranjang itu.


"Ibu juga tidak tahu, tiba-tiba ada yang memukul kepala Ibu. Ibu tidak tahu lagi ... bagaimana keadaan menantu dan cucu Ibu? Apa mereka baik-baik saja?" Bertanya dengan suara yang masih terdengar parau.


"Nadia dan Zahira sedang beristirahat di rumah. Mereka baik-baik saja, Bu. Nadia justru panik saat mengingat Ibu," ucapnya sambil mengusap kepala Ibu dengan lembut.


Helaan napas lega ia hembuskan. Perasaan cemas yang sempat menguasai hatinya perlahan berganti ketenangan dan kedamaian.


"Kenapa ada banyak sekali yang tidak menyukai keluarga kita? Kasihan Nadia, ia baru beberapa tahun saja menjadi menantu, sudah menjadi incaran para penjahat itu. Terlebih Zahira yang masih sangat bayi itu. Ya Allah, lindungi keluargaku dari kejahatan orang-orang yang berbuat iri dan dengki. Aamiin."


"Aamiin!"


"Terima kasih sudah membawa Ibu ke rumah sakit," tutur paman Harits yang memutar kepala menatap Winda dan Rima.


"Dia Ibu kami juga sekarang, Kak. Kami tidak tahu apa yang terjadi saat kami pulang, kami menemukan Ibu tertidur di lantai. Beruntung, benda itu tidak membuat bocor kepala Ibu. Mereka harus mendapatkan hukuman yang setimpal dengan apa yang mereka perbuat." Geram Winda dibuatnya. Rima mengangguk setuju.


.

__ADS_1


__ADS_2