
"Kakak, bukankah kita mau menjemput Bunda? Kenapa malah ke Rumah Sakit?" Pertanyaan Bilal menghentikan keceriaan yang terjadi di dalam mobil tersebut.
Ruby dan Winda saling melirik dengan raut wajah yang sulit diartikan. Entah harus menjawab apa, mereka pun tidak tahu.
"Bunda memang sedang di sini," jawab Ruby pada akhirnya. Bilal seolah tak puas masih mencari jawaban yang menurut akalnya tepat.
"Kenapa Bunda di sini? Kukira kita akan pergi ke bandara atau terminal mungkin, atau pun ke pelabuhan. Kenapa di sini?" cecar anak laki-laki itu dengan pandangan menyelidik tepat di manik kakaknya.
Ruby melengos memalingkan wajah dari adik laki-lakinya itu.
"Ya ... karena memang Bunda sedang berada di sini. Jadi kita menjemputnya di sini tidak di tempat yang kamu sebutkan tadi," jawab Ruby lagi masih sama. Ia bingung harus menjawab apa.
Bilal menelisik wajah itu. Mencari jejak kejujuran dari apa yang diucapkan lisannya.
"Kakak berbohong. Selama ini Bunda bukannya pergi keluar kota, tapi Bunda sakit dan dirawat di Rumah Sakit. Aku benar?" ujar Bilal tepat sekali. Ruby bungkam, Winda mencari jawaban.
"Sayang, Bunda memang di sini sedang melakukan pemeriksaan kesehatan. Makanya kita jemput Bunda di sini," sahut Winda seraya mematikan mesin begitu mobil berhenti di parkiran Rumah Sakit.
Bilal tak lagi bertanya, tapi ia masih menganggap Ruby telah membohonginya. Mereka turun dan berjalan bersama memasuki lobi Rumah Sakit.
Bilal tertegun saat melihat Nadia yang duduk bersama Sarah, terlebih saat melihat wajahnya yang pucat dan mata sayu itu. Walau bibirnya membentuk senyuman, tapi Bilal tahu Nadia sedang tidak baik-baik saja.
"Bunda!" Bilal dan Nafisah berlari menuju ke arah Nadia. Wanita itu merentangkan kedua tangan menyambut kedatangan keduanya. Memeluk mereka dengan erat sambil tersenyum terharu. Sebisa mungkin Nadia menahan air yang hendak turun dari pelupuk yang membuat matanya terasa panas.
"Bunda kangen kalian," ucap Nadia dengan suaranya yang serak dan terdengar sesak. Bilal dan Nafisah memeluknya begitu erat. Menumpahkan rindu selama satu Minggu ini tidak bertemu.
"Bagaimana kabar kalian?" tanya Nadia mengusap kedua pipi anak itu dengan tangan kanan dan kirinya usai mengurai pelukan. Kulitnya yang lembut terasa hambar di kulit mereka.
__ADS_1
"Kami juga kangen sama Bunda, kami baik-baik saja, Bunda. Ibu mengurus kami dengan baik," jawab Bilal apa adanya. Nafisah kembali memeluk tubuh itu tak ingin melepasnya.
Sarah hanya tersenyum sembari sesekali mengusap rambut keduanya. Ruby dan Winda merasa tak enak telah mengajak anak-anak itu.
"Apa Bunda sakit? Kakak bilang Bunda pergi keluar kota untuk bekerja? Apa Kakak berbohong?" lanjut Bilal dengan pandangan yang terpatri pada manik sayu Nadia.
Nadia melirik Ruby yang menunduk sambil menggigit bibirnya dengan kuat. Ia tidak tega sebenarnya membohongi kedua adiknya itu. Namun, ia pun tidak tahu harus menjawab apa tatkala mereka menanyakan perihal Nadia.
Pandangan Nadia kembali berpijak pada Bilal, ia tersenyum dan menarik Bilal untuk duduk di sampingnya. Sementara Nafisah ia dudukkan di pangkuannya. Sebelah tangannya memeluk Nafisah, dan sebelah lagi merangkul pinggang Bilal.
Dikecupnya kepala mereka bergantian sebelum ia menyahut, "Kakak tidak berbohong. Bunda memang dari luar kota, tapi saat tiba di sini Bunda merasa sakit makanya datang ke sini. Ternyata cuma masuk angin," jawab Nadia tak ingin Bilal memikirkan kondisinya yang buruk.
Wajah anak laki-laki itu mendongak, menatap bergantian manik Nadia kanan dan kiri. Begitu pun dengan Ruby ia menatap tak percaya sosok Nadia. Namun, wanita itu tersenyum dan mengangguk ke arahnya.
"Benarkah?" tanyanya tak percaya. Nadia menganggukkan kepalanya memastikan diri. Bilal kembali memeluknya.
"Kami sayang Bunda. Kalau Bunda mau pergi, setidaknya kabari kami," pinta Bilal lirih dalam pelukan Nadia.
Sarah sungguh tak kuasa menahan haru, sampai-sampai ia menangis tanpa suara. Anak-anak itu memang bukan darah daging putrinya, tapi kasih sayang mereka sama seperti anak kandung kepada ibunya.
Nadia diapit Bilal dan Nafisah kanan dan kirinya. Menggandeng kedua tangan Nadia sambil berjalan keluar menuju parkiran. Pulang bersama dengan Sarah dan juga Winda yang ikut mengantar sampai rumah.
"Bunda!" Suara teriakan itu ia rindu. Anak-anak yayasan berhamburan mengerubungi Nadia. Memeluk kaki wanita itu penuh kerinduan. Mereka memenuhi seisi rumah Nadia. Membuat rumah sederhana itu sesak karena mereka.
Beruntung tadi saat di jalan Nadia meminta Winda membeli makanan untuk anak-anaknya. Ia rindu wajah-wajah itu, rindu senyum mereka, rindu celoteh manja anak-anak asuhnya. Hatinya menghangat seketika melihat dan mendengar suara tawa mereka.
"Ikram dan Ain di mana? Apa mereka tahu kamu pulang hari ini? Kenapa Mamah tidak melihat mereka?" tanya Sarah sembari menatap ke arah gedung yayasan yang nampak lengang karena semua penghuninya sedang berada di rumah Nadia termasuk Ibu.
__ADS_1
"Mungkin sedang ada pengajian, memang kalau sore begini mas Ikram terkadang mengisi pengajian. Mungkin malam nanti baru akan datang," jawab Nadia.
Sarah mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda mengerti kesibukan menantunya sebagai ustadz. Ia tak bertanya lagi, melainkan menemani mereka bermain dan berceloteh ini dan itu.
"Mbak pucat sekali, apa Mbak sedang sakit?" tanya Ibu yang sedari tadi memperhatikan Nadia dalam diam.
Lagi-lagi bibir indah itu tersenyum. Senyum itu tak pudar hingga saat ini.
"Cuma masuk angin, Bu. Mungkin tadi saat di jalan banyak terkena angin, tapi sudah lebih baik, kok." Ibu mengangguk pula.
Menjelang Maghrib semuanya pamit, termasuk Sarah dan Winda. Namun, Bilal dan Nafisah tak ingin meninggalkan Nadia sendiri. Jadilah keduanya menginap, sementara Ruby kembali ke asrama.
Di rumah Ikram tak kalah heboh, tatkala sebuah mobil mewah memasuki area pesantren dan langsung menuju rumah Nadia. Ain dan Yuni sibuk mengintip dari balik kaca rumah itu, sedangkan Ikram memilih tak acuh dan meneruskan membaca buku.
"Sepertinya madumu pulang. Kenapa heboh begitu? Seperti pejabat saja. Pake diantar sampai rumah segala lagi," sungut Yuni berapi-api mulai mengompori Ain yang sudah mengeluarkan asap dari seluruh lubang di kepalanya.
Nadia diantar sebuah mobil mewah, sedang miliknya telah hilang karena dijual olehnya sendiri.
"Kamu juga bisa seperti itu, Ain. Kalau kamu berhasil mendapatkan uang yang banyak dari bisnis pakaian kamu lagi. Mintalah harga miring pada Nadia, tapi kamu jual dengan harga tetap seperti biasa. Bukankah keuntungannya akan lebih besar? Apa lagi sekarang mau menjelang puasa, siap-siap hari raya, dan tokomu itu pasti dikunjungi banyak pembeli," saran Yuni yang membuat Ain seketika terdiam berpikir.
"Benar juga ide kamu itu. Kalau begitu, nanti aku akan mendatangi langsung pabriknya saja. Mereka pasti akan menghargai aku sebagai istri pertama Ikram, suami bos mereka. Ide bagus. Tumben otak kamu encer," sahut Ain kegirangan.
Keduanya tertawa membuat fokus Ikram teralihkan pada mereka. Namun, ia tak acuh terserah apa yang mau dilakukan kedua istrinya itu.
Mengingat soal Nadia, hati Ikram pun rindu sosok itu. Hanya saja ia begitu malu untuk bertemu dengan istri keduanya itu. Jadilah ia dilema antara ingin menemuinya atau berdiam diri saja di rumah. Ikram memilih pergi ke kamarnya meninggalkan kedua istri yang masih cekikikan tak jelas.
Ia membanting diri di atas kasur. Berpikir dan merenung, betapa ia rindu sosok yang tak pernah bermuka masam itu. Ikram tak pernah menghubungi Nadia lewat telepon sejak kepergiannya ke tanah suci. Wajahnya berubah memerah saat mengingat satu kejadian yang menimpa dirinya ketika umrah.
__ADS_1
Ya Allah!
Ia bergumam sendirian. Mengusap wajahnya dan berbalik menelungkup. Sungguh ia tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini. Menghadapi ketiga istri yang berbeda karakter membuatnya frustasi sendiri.