
"Kamu tidak ikut pergi?" ulang paman Harits pada Ruby yang sedari tadi terdiam tanpa suara dengan kepala yang menunduk dalam.
Ruby menggelengkan kepalanya menjawab paman Harits setelah mengulangi pertanyaannya. Laki-laki itu menarik napas panjang, ia duduk di balik kemudi menunggu.
"Percuma saja kalian berteriak di dalam sana, dia tidak akan keluar," gumam paman Harits yang meskipun pelan, tapi dapat didengar Ruby.
Remaja itu mendongak, menatap ke arah pintu. Suara kedua adiknya yang memanggil Nadia masih terdengar samar di telinganya. Ia beranjak masuk dan duduk di kursi belakang. Berkali-kali tangannya mengusap mata yang digenangi air. Paman Harits menangkapnya lewat spion tengah mobil, dan ia tak acuh.
Laki-laki itu tidak terbiasa menunggu, ia mengetuk-ngetukkan jarinya pada kemudi mengusir rasa bosan yang menggerayangi hatinya. Ia bahkan menjatuhkan kepala pada kemudi dan menarik napas panjang. Menahan gejolak dalam batinnya.
"Bunda! Bunda, buka pintunya! Kami ingin melihat Bunda," mohon Bilal dan Nafisah sembari terus-menerus menggedor-gedor pintu kamar Nadia.
Tak ada sahutan dari penghuninya, sunyi seolah tak ada siapa pun di dalam kamar tersebut. Namun, pintu itu terkunci dari dalam.
Nadia duduk di lantai, bersandar pada dipan ranjang. Air matanya mengucur deras, bercampur dengan keringat yang merembes lewat pori-pori. Ia menutup telinga tatkala suara Bilal dan Nafisah terus terdengar memanggil-manggil namannya.
"Tidak! Aku harus kuat!" Nadia menggeleng-gelengkan kepala menolak ajakan hati yang menyuruhnya menemui mereka.
"Bunda! Kami ingin memeluk Bunda untuk yang terakhir. BUNDA!" teriak Bilal dengan kencang. Keduanya berbicara tersendat-sendat karena laju tangis mereka yang semakin menjadi.
"BUNDA! BUKA PINTUNYA!" Nafisah ikut bersuara tanpa lelah memanggil-manggil Nadia. Namun, wanita di dalam sana terus menutup telinganya. Ia menjatuhkan tubuh di lantai, meringkuk dengan kedua tangan yang menempel kuat di telinga.
"Sudah ... sudah, biarkan Bunda kalian tenang di dalam sana. Dia tidak akan menemui kalian meskipun terus memanggilnya. Sebaiknya kalian segera pergi dari sini, Kakak kalian sedang menunggu." Rima datang menghentikan aksi keduanya yang tanpa lelah memukul-mukul pintu kayu tersebut.
"Tante Rima, pinta Bunda untuk membuka pintunya. Kami ingin berpamitan kepada Bunda sebelum pergi," mohon Bilal. Ia memandang Rima dengan air yang tak kunjung menyusut.
__ADS_1
Rima memandangi mereka berdua, sungguh menyedihkan memang. Apalagi kalau Nadia sampai menemui mereka, pastinya ia tidak akan tega melepas kepergian mereka.
"Mbak Nadia tidak akan membukakan pintu, ia tidak ingin menemui kalian. Sebaliknya kalian cepat pergi, kak Harits akan marah besar jika dibiarkan menunggu terlalu lama. Pergilah!"
Rima mendorong tubuh keduanya untuk segera meninggalkan rumah tersebut. Tak peduli pada tangisan mereka berdua, ia menuntun keduanya menuju mobil. Ia juga membantu naik Nafisah meskipun sempat meronta tak ingin pergi.
Rima menutup pintu mobil dan segera saja dikunci paman Harits. Tak lagi mendengar suara, Nadia beranjak. Ia bangkit dengan sisa tangisannya. Berdiri di jendela menatap kepergian mereka.
"Bunda!" lirih Ruby manakala matanya menangkap sosok Nadia yang berdiri di jendela. Ia juga dapat melihat air mata wanita itu sebelum tangannya menarik tirai dan menutupi semua.
Ruby menurunkan pandangan, menunduk dalam-dalam. Sementara kedua adiknya, terus menangis sesenggukan sembari memanggil-manggil Nadia. Mobil melaju perlahan meninggalkan halaman rumah besar milik paman Harits.
Nadia tidak pergi, ia masih berada di balik tirai mengintip kepergian mereka.
"Maafkan aku, anak-anak! Maaf. Bukannya aku tidak ingin menemui kalian. Aku hanya takut kalau aku menemui kalian, justru tidak akan rela melepas kalian. Berbahagialah bersama kedua orang tua kalian, semoga kalian bisa memaafkan aku," gumam Nadia lirih.
Juga Ibu dan semua anak-anak, ikut merasa sedih. Namun, mereka dapat mengerti dengan situasi yang terjadi. Setelah memperhatikan sikap Ruby dari hari ke hari, dan kini itulah yang seharusnya terjadi. Mereka kembali ke rumah orang tua mereka karena bagaimanapun ketiga anak itu masih memiliki orang tua yang lengkap.
Rima dan Winda berdiri di teras sampai mobil itu menghilang. Keduanya beranjak masuk, ingin sekali menemui Nadia dan menghibur wanita itu. Namun, ia butuh waktu untuk menormalkan hati dan perasaannya.
Keduanya duduk di ruang tengah, dengan pikiran masing-masing. Diam seribu bahasa tak ada yang perlu dibahas lagi.
Paman Harits memasang headset di telinga, tak ingin mendengar tangisan juga rengekan kedua anak dalam di dalam mobilnya. Mendengarkan musik lebih baik dari pada indera rungunya itu dipenuhi suara tangisan mereka.
"Sudah, kalian jangan menangis terus," ucap Ruby sembari menarik Nafisah ke dalam pelukannya. Adik bungsunya itu kian menjadi, mata, hidung, bibir, dan pipi semuanya memerah. Air matanya tak kunjung reda, tersedu-sedu menumpahkan kesedihan hatinya.
__ADS_1
Paman Harits memandang mereka dari kaca spion tengah. Ia dapat melihat Ruby yang ikut menangis, tapi remaja itu langsung menyeka air matanya yang turun tanpa komando.
Ruby melirik Bilal, adik laki-lakinya itu juga masih terisak-isak. Wajahnya berpaling ke jendela enggan bertatapan dengan kakaknya.
"Bilal-"
"Jangan berbicara padaku!" tukas Bilal tersendat-sendat saat suara bergetar Ruby memanggil namanya.
Sedih bukan main, Ruby kembali menunduk. Mendekap adik bungsunya yang masih tersedu-sedan. Nafisah tertidur setelah lelah menangis, begitu pula dengan Bilal. Hanya Ruby yang tak dapat memejamkan mata karena pergolakan hati dan pikirannya.
Ia menatap jendela, memandangi gedung-gedung tinggi menjulang. Sudah bukan hal baru kepadatan jalan raya ibukota Jakarta seolah sudah mendarah daging bagi penduduknya.
Ruby kembali mengusap matanya ketika bayangan Nadia yang tersenyum padanya melintasi jendela pikiran. Tawa canda dan senda gurau bersama wanita itu, membekas di hatinya dan ia tak akan mudah melepasnya begitu saja.
"Tuan, apa kami boleh bertemu dengan Bunda lagi?" tanya Ruby masih dengan suara yang bergetar dan penuh harap.
Bilal membuka sedikit matanya, ia tidak benar-benar tidur. Menunggu jawaban paman Harits tentang pertanyaan Ruby.
"Yah ... untuk jangka waktu satu tahun ini, tidak." Paman Harits melirik raut terkejut dari Ruby.
"Kenapa, Tuan?"
"Karena aku tidak mengizinkan kalian atau siapa pun yang berkaitan dengan kalian untuk menemuinya. Tahan saja, sampai kami menikah dan mempunyai anak. Mungkin aku akan mempertimbangkannya." Paman Harits mengangkat bahu lengkap dengan garis bibir yang melengkung ke bawah.
Ruby menunduk, itu artinya dia tidak akan pernah lagi bertemu dengan Nadia. Wanita itu benar-benar memutuskan hubungan dengannya dan keluarganya. Ingin menangis saja dan menjerit. Bukan ini yang dia inginkan, Bukan!
__ADS_1
Dia ingin tetap bisa bertemu dengan Nadia, tapi juga tak ingin kedua orang tuannya mendekam di penjara.
'Bunda!' lirih suara hatinya yang perih. Ia menggigit bibir kuat-kuat menahan gejolak kesedihan dalam hatinya. Bukan ini yang dia inginkan, bukan!