
Setelah bertemu dengan Ain tempo lalu, Sarah memikirkan semuanya. Tentang Nadia yang ingin bercerai dulu, ia akan membicarakannya dengan anak itu. Mengingat kondisi Nadia yang semakin hari semakin memburuk, Sarah memutuskan untuk merawatnya sendiri.
Hari ini, ia berencana mendatangi toko kerajinan tangan yang dibuka Nadia. Selain untuk bertemu dengannya, ia juga ingin melihat sejauh mana perkembangan dua toko yang dibuka Nadia itu.
"Win, kita berangkat ke toko Nadia!" Sarah mendatangi Winda yang baru saja selesai membuat laporan.
"Baik, Bu." Winda menutup laptop dan merapikan meja kerjanya. Ia menyambar tas miliknya juga kunci mobil. Berjalan selayaknya para sekretaris di belakang bos mereka.
Tidak butuh waktu lama, mereka pun tiba di toko Nadia. Ia berbasa-basi dengan kedua anak asuh Nadia, dan ikut membantu sedikitnya.
"Biasanya Bunda kalian datang jam berapa?" tanya Sarah setelah cukup lama berada di toko tersebut.
Anak tersebut melirik jam dinding.
"Biasanya selepas Dzuhur Bunda akan akan datang," jawabnya setelah mengingat-ingat di jam berapa Nadia selalu berkunjung.
Sarah menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Tapi sudah dua hari ini Bunda tidak datang ke toko, Bunda juga tidak ada di rumahnya. Semua orang tidak tahu Bunda pergi ke mana? Kami pikir Bunda di rumah Nenek," lanjutnya memberitahu Sarah.
Dahi keriput itu terlipat demi mendengar tentang kabar dari putrinya.
"Nadia tidak di rumah? Dia juga tidak di rumah Nenek-"
"Win! Telepon Nadia di mana dia sekarang!" titah Sarah pada Winda yang juga terkejut mendengar kabar tuannya.
Winda sigap melakukan panggilan, berulangkali. Tetap saja nomor itu tak dapat dihubungi.
"Maaf, Bu. Nomor mbak Nadia tidak dapat dihubungi," lapor Winda setelah melakukan panggilan.
Sarah mendesah, ia menenangkan hatinya yang tiba-tiba terasa sesak. Ia juga meyakinkan dirinya bahwa Nadia baik-baik saja.
"Apa kalian tahu sebab Bunda kalian pergi?" tanya Sarah setelah beberapa saat menenangkan jantungnya yang tiba-tiba nyeri.
Kedua anak itu saling pandang satu sama lain sebelum menggeleng.
"Istri ketiga Abi hari itu melahirkan, dan besoknya Bunda sudah tidak ada," ucap mereka.
Sarah menerka penyebab Nadia pergi. Mungkinkah dia merasa cemburu karena Yuni yang baru saja menikah dengan Ikram dapat melahirkan, sedangkan dirinya belum bisa mengandung juga melahirkan anak setelah lima tahun menikah.
__ADS_1
"Jadi bagaimana, Bu?" tanya Winda ikut mencemaskan keadaan Nadia. Sarah terdiam, berpikir bagaimana caranya menemukan putrinya tersebut.
"Coba kamu hubungi siapa saja yang selalu berkomunikasi dengan Nadia!" Sarah tidak bisa berbuat banyak karena Nadia tidak terlalu memiliki banyak teman di kota tersebut.
"Hubungi pihak Rumah Sakit, siapa tahu Nadia kembali dirawat di sana!" lanjut Sarah teringat akan kondisi Nadia yang selalu lesu setiap harinya.
Winda melakukan perintah tersebut, tapi lagi-lagi mereka harus kecewa karena Nadia belum datang lagi ke Rumah Sakit semenjak cuci darah terakhirnya tiga hari yang lalu.
"Ya Allah!" Sarah memegangi jantungnya yang tiba-tiba berdegup.
"Bu!"
"Nenek!"
Winda dan kedua anak itu mendekati Sarah. Menenangkan wanita itu dari kabar yang membuatnya terkejut.
"Tidak apa-apa ... tidak apa-apa." Sarah mengangkat tangannya dengan napas pendek-pendek ia mengatakan itu.
"Tenang, Bu. Mbak Nadia pasti baik-baik saja," ucap Winda. Sarah mengangguk ia tahu anaknya pasti baik-baik saja. Hanya saja, kabar menghilangnya Nadia membuatnya syok.
Bukan hanya Sarah yang dicemaskan dengan hilangnya Nadia, Ruby pun tak henti bolak-balik mencarinya. Ia mendatangi pabrik Nadia dan menanyakannya, tapi semua yang di sana menjawab Nadia belum berkunjung ke tempat itu.
Ruby hampir putus asa, ia duduk di Balong berpikir ke mana lagi mencari Nadia. Ruby menangis sendirian, semua ini gara-gara Ain. Yah ... Ruby menyalahkan Ain. Rasanya ia tak ingin pulang agar tidak melihat wajah Ain karena setiap kali melihatnya selalu mengingatkan dirinya pada kata-kata yang membuat Nadia pergi dan menghilang sampai hari ini.
Di rumah, Ikram kembali bersiap mencari Nadia. Ke mana saja, yang penting Nadia dia temukan. Ain semenjak kejadian itu, tak diacuhkan Ikram. Ia selalu mencari-cari kesempatan untuk berbicara dengannya, tapi Ikram selalu menghindar.
Laki-laki itu lebih banyak menghabiskan waktu bersama Yuni dan bayinya. Hal itu semakin membuat Ain merasa dikucilkan dan tak dianggap lagi.
"Mau ke mana lagi Abi?" tegur Ain setiap kali melihat Ikram mengeluarkan motor bututnya dari gudang.
Ikram tidak menyahut, ia memanaskan mesin motor. Ain mendatanginya dan membalik tubuh Ikram.
"Kenapa Abi mendiamkan Umi? Kenapa sikap Abi seolah tak peduli pada Umi? Apa Umi sudah tidak dianggap lagi di rumah ini?" cecar Ain dengan mata yang memerah. Yuni diam-diam mengintip dan tersenyum dari balik jendela.
Ikram mendesah, ia lelah menghadapi sikap egois Ain. Lelah setiap hari berdebat, rasanya jika tak mengingat janjinya ingin Ikram melepaskannya saja.
"Abi mau mencari Nadia-"
"Nadia lagi ... Nadia lagi! Bisa tidak sehari saja Abi tidak memikirkan dirinya. Bisa tidak sehari saja Abi melupakannya. Umi yang sudah lima belas tahun menemani Abi, coba lihat Umi, Bi!" bentak Ain dengan suaranya yang tinggi hingga terdengar ke area sekitar pondok.
__ADS_1
"Pelankan suara Umi. Nadia pergi itu semua karena Umi! Karena Umi yang selalu memikirkan hati Umi sehingga buta dan lupa memikirkan perasaan orang lain. Apa Umi benar-benar menyesali perbuatan Umi selama ini? Apa Umi merenungi kesalahan Umi? Hanya itu yang Abi inginkan agar Umi tak lagi memikirkan sakit hati karena Nadia-"
"Sudah lima tahun berlalu, seharusnya Umi bisa melihat bagaimana cara Nadia menebus yang Umi sebut kesalahan itu."
Ikram menaiki motornya dan langsung berlalu tanpa ingin mendengar Ain berbicara lagi. Nadia masih istrinya, dia masih tanggung jawabnya.
Ain menangis, ia kesal dan kembali masuk ke rumah. Seketika hatinya semakin panas mendengar Yuni menyanyikan lagu anak sambil menimang bayinya.
"Sadar diri kamu, Yuni! Jangan pernah bermimpi untuk menguasai Ikram. Aku tidak akan membiarkannya," ketus Ain memandang Yuni yang tersenyum sambil menunduk.
"Aku sadar siapa yang memasukkan aku ke rumah ini. Siapa yang dulu memohon padaku untuk menjadi istri Ikram. Siapa yang memintaku untuk membuat Nadia menangis. Kukembalikan semuanya pada dia yang sudah melibatkan aku dalam masalah ini."
Senyum itu menganggu Ain. Ingin rasanya dia meracuni Yuni jika saja tidak ingat dosa. Ain membanting pintu kamarnya dan juga membanting diri di kasur. Menangis tanpa suara. Kenapa semuanya jadi seperti ini.
Meninggalkan mereka, kembali pada Sarah yang masih duduk di toko. Ia memulihkan tenaganya yang sempat hilang karena kondisi jantungnya yang tiba-tiba drop. Winda setia menemani, dan kedua anak asuh Nadia pun tak beranjak meninggalkannya.
"Win!" panggil Sarah dengan napas terputus-putus.
Winda merangsek mendekati.
"Coba kita pergi ke butik. Siapa tahu dia si sana. Aku ingat selama ini dia selalu pergi ke butik setiap kali ingin menenangkan diri," pinta Sarah yang diangguki Winda.
"Tidak apa-apa, aku bisa sendiri," tolak Sarah ketika mereka hendak membantunya, "siapkan saja mobilnya!" lanjut Sarah lagi pada Winda.
Wanita itu sigap melaksanakan perintah Sarah, dituntun dua anak asuh Nadia, Sarah keluar toko. Ia menunggu Winda.
Tak sengaja matanya menangkap sesuatu yang seketika menguak ingatan di masa lalu. Air matanya menetes, sebak di dada tiba-tiba menyengit. Sarah beranjak berdiri. Ia melipat bibirnya yang dijatuhi air dari mata.
"Papah ... aku menemukannya, Pah! Aku menemukan pelakunya! Aku masih ingat dengan jelas meski sudah tiga puluh tahun berlalu. Itu ... dia ... Pelaku-"
"Akh!"
"Nenek!"
Kedua anak itu menjerit saat melihat Sarah yang terjatuh sembari memegangi jantungnya.
"Ibu! Cepat bantu aku mengangkatnya!" Mereka membawa tubuh Sarah menaiki mobil dan Winda segera membawanya ke Rumah Sakit. Beruntung jaraknya dekat.
Sarah segera mendapat penanganan dokter.
__ADS_1