
Paman Harits terus melangkah keluar diikuti seorang wanita yang berjalan mengendap di belakangnya. Keningnya mengernyit memastikan indera penglihatannya tidak salah. Jantungnya berdebar-debar manakala melihat paman Harits menghampiri seorang wanita cantik yang sedang duduk bersama wanita tua di kursi depan rumah sakit.
"Kamu makan apa? Aneh-aneh saja makanan kamu," celetuk paman Harits yang mendaratkan bokong di samping Nadia.
"Ini cimol, Mas. Tidak aneh, kok. Ini enak, lho. Kenyal-kenyal gurih," sahut Nadia membentuk ekspresi menggemaskan. Matanya terpejam sambil menikmati jajanan kenyal di mulutnya itu.
"Masa, sih?" Tidak percaya. Matanya melirik curiga pada cimol di tangan Nadia. Istri di sampingnya mengangkat bahu tak acuh. Ia terus melahap jajanan itu di mulutnya. Paman Harits meneguk ludah, penasaran juga dengan rasanya.
"Coba," katanya sambil menggeser duduknya semakin mendekat pada Nadia. Disuapkannya makanan itu ke mulut suaminya.
"Mmm ... lumayan, enak juga. Lagi ...." Ketagihan. Nadia mendengus.
"Tadi aneh, sekarang lagi." Bersungut-sungut Nadia sambil menyuapkan makanan itu ke mulut suaminya lagi. Habis.
Paman Harits tertawa gemas, ia mencubit kedua pipi Nadia dan mengecup bibirnya yang mengerucut.
"Sebaiknya kalian pergi jalan-jalan di taman kota, Ibu biar pulang dengan taksi saja. Nadia butuh udara segar," celetuk Ibu yang membuat keduanya termangu. Lupa bahwa ada sosok tua itu di dekat mereka.
"Mau ke taman?" tanya paman Harits pada Nadia.
"Ibu bagaimana?"
"Aku telepon asistenku untuk menjemput Ibu," sahutnya. Nadia mengangguk. Mereka menunggu sampai Ibu dijemput asisten paman Harits.
Wanita yang membuntuti itu, masih menguntit mereka. Sampai di taman kota, keduanya tidak tahu bahwa mereka dibuntuti.
Nadia dan paman Harits duduk di bangku taman yang dekat dengan perkumpulan anak-anak. Memandangi mereka yang sedang bermain sambil sesekali mengusap perutnya sendiri. Nadia menyandarkan kepala di bahu suaminya.
"Aku bahagia, Mas. Pada akhirnya aku bisa hamil juga. Setelah sekian lama menunggu, aku akan menjadi Ibu." Nadia mengusap sudut matanya. Ia terharu, apa yang begitu dia inginkan akhirnya akan terwujud.
Paman Harits menggenggam tangannya, membawanya mendekati bibir dan mengecupnya.
"Mas juga bahagia, kita akan menjadi orang tua sebentar lagi. Sehat-sehat kamu di sini, sayang." Paman Harits mengusap perut Nadia lembut. Keduanya tertawa riang, berceloteh ringan, tentang hal apa saja yang akan mereka lakukan saat si buah hati mereka hadir nanti.
__ADS_1
"Mas, mau laki-laki atau perempuan?" tanya Nadia iseng.
"Apa pun ... mau laki-laki atau perempuan bagi Mas sama saja. Yang penting sehat dan tidak kurang apa pun, Ibunya juga sehat dan tetap cantik." Paman Harits mendekap Nadia. Ia benar-benar mencintai wanita itu.
Di saat yang sama, wanita yang membuntuti mereka mendekat. Namun, masih dalam jarak yang sedikit jauh. Sekedar ingin tahu saja tentang kehidupan laki-laki itu.
"Mas, aku mau itu!" Nadia menunjuk sebuah gerobak yang dipikul seorang laki-laki hampir tua.
"Apa itu?" Bertanya setelah ikut melihat.
"Itu kerak telor, Mas. Jarang-jarang, lho, ada yang jualan kerak telor. Beli, Mas," rengeknya sembari menempelkan tubuh di lengan paman Harits.
"Kenapa kamu jadi banyak makan begini? Tidak takut jadi gemuk nantinya?" sindir paman Harits, melirik Nadia yang masih merengek.
"Tidak apa-apa gemuk, aku mau itu. Mas belikan, ya." Mencengkeram gemas lengan suaminya.
"Iya, iya ... tunggu di sini!" Nadia mengangguk, bagai seekor kucing yang sudah menurut. Ia duduk dengan tenang sambil terus memandangi suaminya yang menghampiri si penjual.
Nadia termangu, matanya memindai tampilan wanita yang berlebihan menurutnya untuk usia tersebut.
"Siapa?" Curiga. Nadia tidaklah bodoh, dia tahu wanita itu memiliki maksud tersembunyi saat meminta izinnya untuk duduk di kursi tersebut.
"Bela, boleh saya duduk?" katanya sambil tersenyum ramah. Matanya menunjuk kursi kosong di samping Nadia.
"Maaf, saya tidak mengenal Anda. Lagi pula, suami saya tidak mengizinkan saya berbincang dengan orang asing."
Dia terkekeh kecil, Nadia mencoba untuk bersikap tenang dan menelisik gelagat wanita asing yang masih berdiri itu.
"Kamu tahu, dulu dia pun melakukan hal yang sama pada saya." Bangga. Senyumnya bahkan seolah mencibir Nadia. Namun, wanita yang duduk di kursi itu tetap tenang tak terhanyut dalam emosi.
"Maaf saja, tapi saya rasa itu sudah sangat lama sekali. Sekarang, semua apa yang ada padanya hanya untuk saya," tegas Nadia. Ia tersenyum saat garis bibir wanita itu seketika lurus dengan wajah yang menegang.
"Kamu belum tahu saja seperti apa dia orangnya-"
__ADS_1
"Seperti apa pun, yang pasti saat ini dia adalah suami saya. Maaf saja, kalau niat Anda menghampiri saya hanya untuk membuat saya merenggang darinya, itu tidak akan berhasil karena saya percaya cintanya begitu besar pada saya." Nadia kembali tersenyum, ketegasan dan keberaniannya patut diacungi jempol.
Dari pembahasan itu dia tahu bahwa wanita yang mendekatinya itu adalah mantan istri suaminya.
"Percaya diri sekali kamu!" Ia mencibir.
Nadia mendengus, ia tertawa kecil sambil berpaling darinya.
"Tentu saja. Apa Anda pernah melihatnya berjuang kepayahan hanya untuk mewujudkan keinginan Anda? Misalnya rela memanjat pohon jambu demi istrinya meskipun tubuhnya gemetar ketakutan ...?" Nadia menggeleng.
"Saya rasa Anda tidak pernah!" pungkas Nadia, "sekarang, sebaiknya Anda pergi karena saya sedang menunggu suami saya membelikan jajanan," sambungnya mengusir.
"Baik, kali ini saja kamu terlihat berani. Lain kali kita akan lihat siapa yang lebih berani!" tantangnya.
"Aku menunggu!" Nadia masih tersenyum. Tidak ada ketakutan dalam dirinya karena ia yakin, paman Harits pun tak akan membelanya.
Diam-diam lelaki yang sedang mereka bicarakan itu memperhatikan keduanya. Ia menggeram, mengancam dalam hati.
Paman Harits membawa pesanan Nadia, wanita itu telah pergi dari tempatnya dan kembali mengintip.
"Terima kasih, Mas!" Nadia tersenyum lebar saat menerima bungkusan kerak telor dari suaminya itu. Paman Harits mengecup pelipis Nadia. Ia tahu wanita itu masih di sana dan memperhatikan mereka.
"Mas, cari minuman dulu, ya. Kamu stay di sini jangan ke mana-mana." Ia kembali mengecup pelipis istrinya saat wanita itu menganggukkan kepala.
Bukan mencari minuman, tapi paman Harits mendatangi wanita yang sedang bersembunyi di balik sebuah pohon mengintip mereka.
"Apa pun yang ada di otak jahatmu, singkirkan! Sebelum aku yang menyingkirkannya." Suara penuh ancaman yang datang dari arah belakang tubuhnya itu, membuat seluruh bulu di tubuhnya meremang.
Pelan-pelan ia memutar kepala, dan membelalak gugup ketika melihat paman Harits yang berdiri di sana dengan wajah merah padam.
"Kamu tahu bagaimana aku? Jangan bermain-main dengan ancamanku. Sekali lagi aku melihat kamu mendekati istriku, maka akan aku patahkan tulang kakimu itu. Jadi, berhenti di sini atau kamu akan menerima akibat dari perbuatanmu seperti yang aku lakukan pada kekasih gelapmu dulu!" tandas paman Harits sebelum berbalik meninggalkannya yang termangu tanpa kata.
Dia tahu betul, lelaki itu tidak pernah main-main dengan ancamannya. Teringat akan selingkuhannya yang mati mengenaskan di depan matanya saat paman Harits memergoki mereka bermesraan. Ia bergidik. Menghapus pikiran buruk dari otaknya sebelum organ penting itu dihancurkan mantan suaminya.
__ADS_1