
Enam bulan berlalu, bayi Zahira tumbuh aktif dan sehat. Selama itu juga tak ada masalah apa pun yang terjadi. Semuanya berjalan dengan baik dan tanpa kendala apa pun.
Namun, sudah tiga hari ini paman Harits disibukkan oleh pekerjaan kantor yang menumpuk. Lebih sedikit waktu yang ia gunakan untuk berkumpul bersama keluarga.
"Kamu mau ke mana buat bekal banyak begitu, Nak?" tegur Ibu ketika melihat Nadia membuat bekal di rantang.
"Aku mau ke kantor Mas Harits, Bu. Sekalian mau ajak piknik sederhana di taman. Ini hari Sabtu seharusnya dia libur, tapi pekerjaannya masih menumpuk katanya," jawab Nadia sembari terus merapikan rantang berisi makanan.
"Iya, ingatkan dia kalau waktunya sekarang bukan hanya untuk bekerja, tapi ada keluarga juga yang membutuhkan hadirnya," ucap Ibu antusias. Nadia tersenyum, lantas mengangguk patuh.
"Pamit dulu, Bu. Assalamu'alaikum." Ia menyalami Ibu sebelum mengambil Zahira di kereta bayi. Digendongnya bayi itu, bersama Winda ia akan mendatangi kantor paman Harits.
"Win, bagaimana hubunganmu dengan Yoga? Kalau dia serius, suruh datang dan berbicara langsung pada Mbak," tanya Nadia sesaat mobil meninggalkan halaman rumah.
Winda tak langsung menjawab, ia nampak berpikir. Terdiam sebelum helaan napas ia keluarkan dengan sangat berat.
"Aku belum memastikannya, Mbak. Aku masih takut dengan yang namanya pernikahan. Bagaimana kalau dia seperti suami Mbak yang dulu? Atau seperti laki-laki lainnya yang mudah sekali berubah setelah menikah nanti? Aku takut, Mbak," ungkap Winda. Gadis itu terkena dampak trauma dari pernikahan pertama Nadia.
Nadia mengusap lengannya pelan, ia tersenyum saat Winda melirik sebentar ke arahnya.
"Tidak masalah memiliki rasa takut. Hal itu sangatlah wajar karena dari rasa takut itulah kaki kita akan mulai berani melangkah untuk meninggalkan ketakutan tersebut. Tidak perlu melawannya ... karena melawan hanya akan memperbesar rasa takut itu sendiri. Hadapi, jadikan ia teman perjalanan hidup agar kita selalu awas dalam menempuh jalan takdir yang tak terduga. Apa kamu mengerti?"
Winda terdiam, pandangannya fokus lurus ke depan. Jalanan ibukota yang selalu dipadati kendaraan setiap waktu, adalah ketakutan nyata yang selalu dia hadapi setiap hari.
"Jangan jadikan rasa takut itu menghambat langkahmu untuk maju. Tanyakan keseriusannya, dan pinta ia menghadap Mbak," titah Nadia yang kali ini terdengar lebih tegas suaranya. Winda mengangguk pelan, hatinya masih diliputi rasa bimbang. Namun, melihat sikap yang ditunjukkan Yoga padanya, lelaki itu serius dalam menjalin hubungan dengannya.
Matahari yang terik kian menyengat kulit. Nadia turun di depan sebuah bangunan tinggi mencakar langit. Ia meminta Winda untuk segera ke butik karena ia berencana mengajak suaminya itu berjalan-jalan di taman kota.
__ADS_1
Suasana ramai pun segera menyambut kedatangannya, Nadia mendatangi resepsionis dan menanyakan keberadaan suaminya. Namun, apa yang dilakukan wanita itu sungguh diluar perkiraan Nadia.
"Maaf, Mbak, ada perlu apa ingin bertemu Bapak? Apa Mbak sudah membuat janji?" ketusnya mencibirkan bibir pada Nadia. Ia memindai penampilan Nadia yang mengenakan gamis dan kerudung lebar ditambah bayi di gendongannya. Aneh.
Nadia termangu, memperhatikan dengan saksama sosok wanita di belakang meja tersebut. Seingatnya semua karyawan paman Harits Diundang laki-laki itu pada hari pernikahan mereka. Tidak mungkin dia tidak tahu bahwa yang berdiri di hadapannya adalah istri atasannya.
"Apa kamu pekerja baru di sini?" tanya Nadia hati-hati. Ia tak menunjukkan kekesalan terhadap sikapnya.
"Kenapa Anda bertanya seperti itu? Seolah-seolah Anda adalah pemilik gedung ini. Mau saya baru atau lama itu bukan urusan Anda. Sekarang saya tanya Apa Anda sudah membuat janji terlebih dahulu dengan Bapak?" katanya lagi panjang lebar.
Nadia tersenyum, di antara banyaknya karyawan paman Harits yang ia temui, baru kali ini ia bertemu dengan yang arogan seperti wanita di hadapannya.
"Kalau aku mengatakan aku belum membuat janji apa-apa dengannya ... apa yang akan kamu lakukan?" tanya Nadia memancing wanita itu.
Petugas resepsionis tersebut melipat kedua tangannya di dada. Melirik sinis pada istri atasannya tanpa sadar hukuman sedang mengintainya.
Ia tak sadar, di lantai lima belas gedung tersebut, atasannya sedang menggeram kesal. Mengawasi dari cctv yang ditunjukkan seorang pekerja ruang pengendali padanya.
"Kurang ajar!" geramnya. Ia melotot marah tatkala mata Nadia menatap cctv yang ada dengan tatapan memelas. Paman Harits beranjak meninggalkan ruangan tersebut. Cepat-cepat masuk ke dalam lift menuju lantai dasar gedung.
"Apa dia pegawai baru?" tanyanya pada Yoga.
"Ya, Tuan. Dia baru satu Minggu ini bekerja menggantikan karyawan lama yang sedang cuti melahirkan." Yoga menjawab cepat.
"Ambil tindakan untuknya, aku tidak bisa mempekerjakan seseorang yang tidak memiliki etika seperti itu. Terhadap siapa pun. Itu akan mencoreng nama baik perusahaan yang aku bangun," perintah paman Harits merasa dirugikan oleh karyawan tersebut.
"Baik, Tuan!"
__ADS_1
Sementara Nadia masih bersitegang dengan karyawan tersebut. Kali ini wanita itu bahkan keluar dari meja kerjanya dan menghadang Nadia.
"Aku tidak mau pergi sebelum suamiku sendiri yang mengusirku dari sini!" tegas Nadia bergeming di tempatnya berdiri menantang karyawan tersebut.
"Suami?" Ia tersenyum mengejek, "setahu saya istri Bapak itu modis, cantik, elegan. Tidak seperti penampilan Anda yang urakan. Jilbab besar, baju seperti pakaian kunti yang sedang menakuti orang. Mana mungkin saya percaya kalau Anda adalah istri Bos kami," katanya lagi semakin berani.
Tangannya terangkat hendak mendorong Nadia. Sejengkal lagi saja dia menyentuh kulit wanita tersebut jika saja sebuah suara lantang tak menghentikannya.
"Akan aku jadikan kamu makhluk itu jika saja tanganmu yang kotor itu berani menyentuh anak dan istriku!"
Duar!
Rasanya seperti disambar petir di siang bolong seperti ini. Tangannya berhenti di udara, gemetar kedua kaki yang menopang tubuhnya. Keringat kasar bermunculan di dahi merembes hingga ke leher dan ikut berbaur dengan keringat di punggung.
Ketukan langkah di belakang tubuh semakin membuatnya gemetar ketakutan. Aroma-aroma pemecatan telah menusuk hidungnya hingga menembus jantungnya. Ia menundukkan wajah dalam-dalam. Jari jemarinya saling bertaut gelisah.
Hembusan udara yang menerpa tubuhnya pun terasa berbeda saat laki-laki itu melintasinya.
"Sayang? Kamu tidak apa? Kenapa tidak menelpon Mas saja?" Paman Harits memeluk Nadia dan bayi di gendongannya.
Lirikan mata Nadia pada karyawan itu semakin membuatnya frustrasi.
"Tidak apa-apa, Mas. Mungkin karyawan Mas tidak tahu karena dia masih baru di sini. Tadinya aku ingin membuat kejutan untuk Mas, tapi justru aku yang dikejutkan di sini. Aku harus membuat janji terlebih dahulu dengan atasannya kalau ingin bertemu dengan suamiku. Mintakan izin padanya, Mas. Aku hanya ingin mengajak suamiku jalan-jalan saja."
Kalimat panjang Nadia, semakin menggetarkan hati dan tubuh wanita itu.
"Ikut denganku!" Suara Yoga menyentak tubuhnya. Ia menghela napas dan berbalik mengikuti langkah Yoga.
__ADS_1