
Sebulan setelah pernikahan ustad Alif dengan Zahra, Ustad Gibran membawa keluarga kecilnya kembali ke Jepang.
ustad Gibran dan Khayra saat ini memang lebih nyaman tinggal di Jepang. Entah mengapa kejadian Syifa membuat mereka trauma terutama Khayra. Kenapa Khayra yang trauma seharusnya Zafra yang trauma. Tapi kalau saat itu ustad Gibran nggak mengajak Khayra pindah ke Jepang mungkin ustad Gibran lah yang jadi korbannya. Karena target awal Syifa memang ustad Gibran.
Hari terus berlalu bulan terus berganti. kehamilan Khayra sudah memasuki bulan ke tujuh dan dua bulan lagi Khayra akan melahirkan bayi kembarnya. Dan di kehamilan kali ini Khayra banyak ngidamnya yang membuat ustad Gibran pusing. Apalagi mereka tinggal di negara orang, Terkadang Khayra ngidam makanan Indonesia yang susah di cari di jepang.
Seperti saat ini Khayra tiba-tiba ingin memakan duren, Khayra pun mengajak ustad Gibran untuk pergi ke supermarket.
Dan ini sudah supermarket empat yang di datangi oleh Khayra dan ustad Gibran.
" Alhamdulillah untung ada." gumam ustad Gibran.
" Udah yuk mas."
" Kamu cuma mau beli duren aja."
Khayra hanya mengangguk.
" Anak kamu nggak di beli jajanan gitu."
" Anak kita mas."
" Iya anak kita."
" Ya udah deh kalau mas maksa."
Ustad Gibran pun setia menemani Khayra berbelanja.
" Katanya nggak mau belanja, Tapi satu troli penuh." gumam ustad Gibran pelan saat mereka sedang antri di kasir.
" Kenapa mas kamu nggak ikhlas."
" Ikhlas sayang."
Setelah membayar belanjaan mereka pun pulang ke rumah. Khayra meminta bibi untuk menaruhnya di meja makan.
" Mas..." panggil Khayra yang sedang duduk di meja makan.
__ADS_1
Ustad Gibran yang sedang duduk di samping anaknya yang sedang bermain dengan opa Omanya langsung menghampiri Khayra di meja makan.
" Apa sayang?." ucap ustad Gibran lembut.
" Mas duduk di situ."
" Sayang durennya bisa di singkirkan dulu." Ucap ustad Gibran yang memang tak menyukai duren.
" Udah mas nggak usah bawal cepat duduk." ucap Khayra ketus.
Mama dan papa ustad Gibran hanya memperhatikan anak dan menantunya dari ruang tv.
Ustad Gibran terpaksa duduk di tempat yang di tunjuk Khayra. Walaupun dia harus menahan rasa mual nya akan bau duren.
Khayra yang melihat suaminya sudah duduk di bangku yang Khayra tunjuk. Barulah Khayra menyodorkan Duren ke hadapan ustad Gibran. Sedangkan ustad Gibran yang di sodorkan duren langsung melototkan Matanya.
" Yang kenapa sih di sodorkan ke aku." ucap ustad Gibran panik sambil menutup hidungnya.
" Aku mau mas makan duren ini."
" Tapi ini permintaan anak kamu Lo mas minta Daddy-nya makan duren."
" Kamu minta yang lain aja deh."
" Ya sudah kalau mas nggak mau nggak apa-apa. Aku mau pulang ke Indonesia besok." ucap Khayra sambil beranjak dari duduknya.
Tapi ustad Gibran langsung menahan tangan Khayra agar duduk kembali.
" Iya... iya Mas makan nih durennya." Ucap ustad Gibran sambil mengambil buah duren sambil menahan rasa mualnya.
Ustad Gibran pun memulai memakan duren ragu-ragu.
Sedangkan Khayra yang melihat ustad Gibran memakan duren dengan wajah yang sudah pucat. Langsung bangun dari duduknya dan mencium pipi ustad Gibran sambil menyuruh menaruh duren yang dia pegang.
Setelah Ustad Gibran menaruh duren yang dia pegang ustad Gibran langsung berlari masuk kamar mandi dan memuntahkan duren yang dia makan.
Khayra pun segera ke dapur untuk membuatkan ustad Gibran air madu hangat.
__ADS_1
Sedangkan mama dan papanya ustad Gibran tertawa melihat anaknya di kerjain oleh cucu kembarnya yang masih dalam kandungan. Bahkan sampai ustad Gibran keluar dari kamar mandi dan menghampiri mereka. Mama dan papa masih terus mentertawakan ustad Gibran.
" Nih mas minum dulu." ucap Khayra memberikan gelas berisikan air madu hangat ke suaminya yang duduk di sebelahnya sambil merebahkan kepalanya di pundak Khayra.
" Hahaha... bran...bran belum lahir anakmu sudah iseng ngerjain bapaknya." ledek papanya.
" Yang ke kamar yuk." Ajak ustad Gibran yang kesal di ledekin oleh papanya.
" Ngapain sih mas manja banget."
" Aku tuh lemes yang, kan gara-gara kamu yang buat aku kaya gini. Pokoknya ayo ke kamar." rengek ustad Gibran.
" Bukan aku loh mas tapi anaknya yang mau."
" Udah ah nyebelin semua." ucap ustad Gibran pergi dari sana.
Khayra hanya bisa melongo melihat suaminya pergi ke kamar sambil ngomel-ngomel.
" Ya Allah kenapa jadi suaminya yang merajuk. Rayyan aja anteng."
" Udah gih sana susul suami kamu." ucap mama.
" Ya udah kalau gitu, Kai ke atas dulu titip Rayyan ya mah, pah."
Khayra pun menyusul suaminya ke kamar. Sampai kamar Khayra melihat suaminya meringkuk di tempat tidur.
Khayra merasa bersalah sudah dua Minggu ini hampir setiap hari ustad Gibran ustad Gibran harus memenuhi ngidamnya khayra. Tapi semua yang di inginkan khayra ternyata yang nggak di sukai oleh ustad Gibran. Tapi dengan sang calon anak kembarnya ustad Gibran tetap memenuhi permintaan Khayra.
Khayra pun langsung naik ke tempat tidur dan langsung memeluk suaminya.
" Maaf mas..":ucap Khayra pelan.
" Dua bulan lagi kita bakal bertemu mereka mas." ucap Khayra sambil mengelus perutnya.
" Iya sayang mas nggak apa-apa kok.' ucap ustad Gibran mencium kening Khayra.
" Anak Deddy kok gitu sih sama Deddy. Nanti Deddy sedih loh ." ucap ustad Gibran sambil mencium perut khayra.
__ADS_1