
" sayang bangun dulu yuk, kita shalat berjamaah." ucap ustad Gibran membangunkan Khayra sambil menciumi pipinya.
khayra yang tidurnya merasa terganggu mulai membuka matanya. " jam berapa mas?." tanya Khayra dengan suara khas bangun tidur.
" jam setengah lima sayang."
khayra pun mulai bangun dari tidurnya lalu dia duduk dan bersandar di kepala tempat tidur.
" mas sudah mandi." tanya Khayra yang melihat sang suami sudah rapi memakai baju Koko dan juga sarung.
" kenapa mau ngajakin mas mandi lagi. ayo kalau gitu." goda ustad Gibran.
" ogah ." ucap Khayra sambil berlari ke kamar mandi. sedangkan ustad gibran hanya tersenyum melihat tingkah istrinya.
" mas tunggu Kai shalat nya." teriak Kai dari dalam kamar mandi.
" iya jangan lama-lama mandi nya." jawab ustad Gibran sambil mengelar sajadah untuk dirinya dan juga untuk istirahat. setelah itu dia keluar kamar untuk ambil wudhu di kamar sebelah.
dua puluh menit Khayra selesai mandinya dia keluar kamar mandi langsung tersenyum karena suaminya sudah menyiapkan sajadah dan mukena untuk nya.
selesai shalat seperti biasa khayra pasti mencium tangan ustad Gibran dan ustad Gibran mencium kening Khayra.
" sayang yakin nggak mau ikut mas aja."
" nggak ah orang mas mau kerja masa aku ikut-ikut."
__ADS_1
" padahal mas pingin kamu ikut loh."
" nggak ah aku di rumah aja sama Bu Sani. udah ah mas mau di buatin kopi."
" teh madu yang kamu suka minum aja enak sayang."
" oke tunggu ya."
Khayra pun langsung turun ke bawah untuk membuat tea untuk suaminya.
" selamat pagi Bu."
" pagi mbak khayra mau sesuatu biar ibu yang buat."
" nggak usah Bu, ibu lanjutkan aja masaknya saya cuma mau bikin teh."
" oh iya Bu, ini ada kue dimakan aja ya Bu jangan sungkan. Kai tinggal dulu ya Bu."
" iya mbak makasih."
khayra pun naik kelantai atas menuju kamarnya ternyata sang suami sedang duduk di balkon.
" mas ini teh nya, mas nggak dingin ini baru jam lima loh." ucap Khayra.
" ambil selimut yang ada di sofa sini duduk sama mas. udaranya enak sayang kalau pagi begini."
__ADS_1
Khayra pun menuruti perintah suaminya untuk mengambil selimut dan duduk di sebelah ustad Gibran.
" sini peluk mas biar gak dingin." ucap ustad Gibran sambil memeluk khayra.
" mas yang di sana itu hutan ya."
" bisa di bilang seperti itu tapi ada rumah juga di sana lihat ada lampu-lampu di sana."
" pasti kalau sudah terang bagus ya mas."
" iya sayang"
mereka berdua menikmati pagi hari sambil berpelukan dan ustad Gibran juga tak berhenti menciumi puncak kepala khayra.
" sayang, ayolah nanti ikut mas ya." ucap ustad Gibran sedikit manja.
" mas...mas kan mau kerja masa aku ikut-ikut."
" sayang yakin kamu nggak mau ikut kamu nggak apa-apa kalau suamimu yang ganteng ini di goda sama perempuan lain kaya di pesawat."
" ya gak mau, awas aja kalau sampai tergoda."
" makanya kamu ikut ya."
" ya udah." ucap Khayra setelah di pikir-pikir lebih baik ikut anti si pasi.
__ADS_1
setelah puas bersantai ustad Gibran dan khayra pun memutuskan untuk bersiap-siap.