
Khayra menelpon kakaknya
" Hallo, Assalamualaikum mas Iqbal." ucap Khayra saat sambungan telponnya tersambung.
" Walaikum salam dek."
" Mas Iqbal udah di Indonesia kan."
" udah dek udah hampir dua Minggu, kenapa emangnya dek."
" Nggak cuma tanya aja ada yang mau di beli lagi di sini nggak. Biar nanti aku masukin list belanjaan biar nanti nggak bolak balik."
" Itu aja dek soalnya Michi bilang nggak usah bawa macam-macam."
" Sip kalau gitu."
" Oh iya dek hotel untuk menginap gimana ?. Soalnya Abi juga nanyain."
" Hotelnya nggak jauh dari rumah, itu mas yang di pertigaan lampu merah arah ke rumah Kai..eh rumah mertua deh hehehe..." ucap Khayra.
" Oh yang itu berarti dekat ke rumah kamu dong "
" Iya itu hotel punya sepupu mas Gibran. oh iya tanya Abi lagi yang sudah pasti akan ikut siapa aja."
" Oh kamu bilang sendiri sama Abi aja Kai kebetulan lagi di sebelah mas Iqbal."
Mas Iqbal pun langsung memberikan ponselnya ke Abi
" Assalamualaikum nak." ucap Abi lembut.
" Walaikum salam Abi, Abi sama umi gimana kabarnya?."
" Alhamdulillah kami baik nak, kamu sendiri gimana Kabarnya? Kedua mertua kamu, Gibran dan anak kamu."
" Kai Alhamdulillah baik Bi, Mama, papa, mas Gibran juga baik. Mas Rayyan sekarang lagi aktif-aktifnya bi lari-lari terus. Kalau si kembar yang mulai senang di ajak ngobrol gitu."
" Syukurlah kalau gitu, Biarin Kai kalau mas Rayyan itu suka Lari-larian yang terpenting ada yang jagain dan ngawasin."
__ADS_1
" Iya Abi, oh iya Abi mas Gibran bilang om nya nawarin untuk pakai pesawat pribadinya. Tapi itu biar mas Gibran yang Bilang ke Abi, dan kak Hilman yang ngurusin "
" Nak pakai pesawat terbang biasa aja, nggak enak sama keluarga besar Gibran." ucap Abi yang merasa tak enak dengan sang menantu yang sangat baik.
" Nanti Abi langsung aja ngomong ke mas gibran." jawab Khayra yang tahu Abi nya nggak enak hati menerima kebaikan suaminya.
" Gibran nya sama kamu nak."
" Mas Gibran masih di kantor Abi."
" Oh ya udah nanti Abi yang telpon suami kamu."
" Iya Abi Kai tutup dulu ya, Assalamualaikum."
" Walaikum salam."
Setelah menutup telponnya Abi membuang nafasnya dan itu tak luput dari umi dan juga anak serta menantunya.
" Ada apa bi? " tanya umi.
" Apa bi, Omnya bang Gibran punya pesawat pribadi wow keren." potong Zahra.
" Jadi kita pakai pesawat milik om nya Gibran bi, Apa nggak sebaiknya kita pakai pesawat komersial biasa aja." ucap umi
" Iya nanti Abi bakal telpon Gibran dan bicara dengannya."
" Iya bi, Iqbal juga merasa nggak enak sama Gibran, orang Iqbal yang punya acara tapi jadi Iqbal yang tinggal tahu beres. Semua sudah di urus dan di atur oleh Gibran dan Kai."
" Setidaknya umi sama Abi harus bersyukur ternyata kak Kai menikah dengan lelaki yang tidak hanya sayang dengan kak Kai tapi juga dengan seluruh keluarganya." Ucap Zafra yang sangat bersyukur sang kakak mendapatkan suami seperti ustad Gibran. Yang amat sangat menyayangi dan mencintai kak Khayra.
" Benar kamu nak, Abi sangat senang anak Abi menemukan lelaki yang tepat, lelaki yang Soleh, bertanggung jawab dan yang terpenting sangat menghargai keberadaan anak Abi sebagai istrinya."
" Iya, Mungkin Zafra dan kak Kai mungkin kehilangan masa remajanya yang bisa bebas mengejar cita-citanya. Sedangkan Zafra dan kak Kai kehilangan itu kami menikah dengan usia yang sangat mudah bahkan kami berdua masih sekolah saat menikah. Tapi Zafra mau pun kak Kai Sangat amat bersyukur mempunyai suami yang sangat mencintai, menyayangi, bertanggung jawab, Soleh, dan juga bisa membimbing kami ke arah yang lebih baik. Zafra sama kak Kai justru berterima kasih kepada umi dan Abi yang memberikan kak Alif sebagai suami Zafra dan juga bang Gibran sebagai suami kak Kai. Dan sampai saat ini kami amat berbahagia dan semoga kebahagiaan ini terus mengikuti selama kami masih hidup bersama." ucap Zafra sambil matanya berkaca-kaca.
" Nak Abi sama umi nggak mungkin sembarangan menerima lelaki yang akan menikahi anak gadis Abi. Abi tahu Alif maupun Gibran akan menjadikan kalian Ratu di hatinya dan rumah tangganya." Ucap Abi memeluk Zafra.
" Aduh kenapa jadi kaya tali kasih gini sih." ucap Zahra yang membuyarkan suasana haru.
__ADS_1
Sebenarnya Zahra bukan ingin merusak suasana tapi dia hanya ingin mereka jadi larut dalam kesedihan.
" Kamu tuh Ra bikin ambyar aja." celetuk mas Iqbal yang gemas melihat adik bungsunya.
" Habis kalau nggak di hentikan pasti banjir air mata, kan berabe." timpal Zahra.
Malam harinya Abi pun menelpon sang menantu.
" Assalamualaikum bran."
" Walaikum salam Abi."
" Sibuk nak."
" Nggak Abi ini lagi main sama anak-anak."
" Oh nak ada yang mau Abi bicarakan."
" Iya Abi ada apa? "
" Nak Tadi Kai bilang di suruh pakai pesawat pribadi om kamu. Abi Rasa biarkan kami naik pesawat komersial biasa aja."
" Oh itu Abi, Jadi gini Abi kenapa Gibran nyuruh pakai pesawat Pribadi milik om Gibran. Kebetulan pesawat itu memang akan kembali ke Jepang di tanggal Abi yang lainnya ke Jepang. Jadi ada tiga pesawat yang nanti akan terbang ke Indonesia. Kebetulan pesawat-pesawat itu membawa berapa Kolega dan tamu om Gibran yang akan berlibur di Bali. Jadi daripada pesawat itu kosong kembali ke jepang jadi lebih baik kalian ikut ." seru Ustad Gibran.
" Oh jadi seperti itu, Abi cuma takut merepotkan kamu."
" Nggak kok bi Gibran nggak merasa direpotkan kok."
" Terima kasih ya nak, Lanjut lagi main sama cucu-cucu Abi."
" sama-sama bi."
" Assalamualaikum."
" walaikum salam."
setelah menutup telponnya ustad Gibran kembali menghampiri anak-anaknya yang sedang bermain di ranjang.
__ADS_1