
" Oh iya pak Rudi mau tanya anak-anak mau di bawa sekarang juga." Tanya Khayra.
" Saya terserah anak-anak saja. " Jawab Rudi.
" Kalau Bagas pingin tinggal sama papa."
" Sama Luna juga."
" Aji sih terserah aja."
" Kalau Jihan bagaimana baiknya? Tapi kalau ikut ayah sekolah adik-adik gimana?." Tanya Jihan.
" Terserah kalian ayah sih nggak masalah kalau kalian masih mau bersekolah di sini nanti ayah akan sediakan supir untuk antar jemput kalian." jawab Rudi.
" Gimana mau pindah atau mau di sini?." tanya Rudi.
" Kita sekolah di sini aja." Jawab mereka.
" Terus kita pindahnya kapan?" tanya Luna.
" Terserah kalian. Tapi ayah akan ajak kalian tinggal di rumah lama kita bukan di rumah kakek nenek." ucap Rudi.
Rumah yang Rudi tempati itu rumah orang tua mendiang istrinya. Sebenarnya Rudi punya rumah sendiri memang tak sebesar dan seluas rumah orang tua mendiang istrinya. Tapi rumah itu di bangun sesuai dengan keinginan mendiang istrinya.
Rumah itu tidak di tempati dari Luna berusia tiga tahun tapi ada Art yang bersih-bersih di sana.
" Ke rumah lama aja yah, lagian jaraknya kan nggak jauh dari sini." jelas Jihan.
Akhirnya di putuskan hari itu juga mereka akan pindah tapi mereka berjanji akan tetap berkomunikasi dan bersilaturahmi.
__ADS_1
****
Jihan bersama ayah dan adiknya pun sampai di rumah yang akan mereka tinggali. Sebelumnya Rudi sudah menelpon ke art yang bekerja di rumah itu bahwa mereka akan mulai tinggal di sana hari ini.
" Silahkan kalian pilih kamar kalian masing-masing Atau kalian mau menempati kamar kalian yang dulu." ucap Rudi.
" Jihan pakai kamar Jihan yang dulu aja. masih ada kan yah?."
" Masih cuma sudah ayah renovasi jadi sudah tidak seperti kamar kalian waktu kecil lagi." jelas Rudi
" Bagas juga."
" Aji juga. kalau nggak salah saat kecil kamar aji di atas ya." ucap Aji.
" Iya betul."
" Tunggu terus Luna gimana? Luna kan nggak tahu kamar Luna dimana? Luna nggak ingat."
" Untuk gadis kecil kesayangan ayah yuk ayah tunjukin kamarnya Luna " Ajak Rudi.
Mereka semua pun langsung beranjak ke lantai dua dan Rudi pun menunjukan kamar yang akan di tempati oleh Luna.
Ceklek ...
" ini kamar Luna untuk sementara karena kamar sebenarnya nanti di sana mau ayah renovasi dulu nanti kamu kasih tahu ayah aja mau kamu seperti apa?." ucap Rudi.
" Asik..., jadi Luna bakal punya kamar sesuai maunya Luna." Ucap Luna memastikan.
Entah mengapa Luna benar-benar melupakan rasa traumanya. Mungkin karena sekarang dirinya bersama dengan orang yang sangat dia rindukan. Dan mungkin rasa bahagianya bisa bersama lagi dengan ayahnya menimbulkan rasa bahagianya Luna sehingga dirinya sudah melupakan traumanya.
__ADS_1
" Iya ayah janji bakal membuat kamar Luna sesuai keinginan Luna. Dan tidak hanya itu saja Luna kalau mau sesuatu bilang ayah insyaallah akan ayah kabulkan." ucap Rudi mengelus kepala Luna.
" Terima kasih yah.' Luna bersorak bahagia.
" Sekarang gadis kecil ayah istirahat dulu ya." ucap Rudi.
Rudi pun pergi meninggalkan kamar Luna.
Selesai makan malam Rudi berbicara dengan putri sulungnya Jihan.
" Nak besok kamu ada kuliah." Tanya Rudi
" Besok Jihan ada kuliah yah tapi jam sepuluh." Jawab intan.
" Ya sudah besok kamu bisa nunggu sopir mengantar adik kamu dulu."
Jihan hanya mengangguk
" Rencananya ayah akan menjual mobil semuanya dan mengganti mobil yang baru." jelas Rudi.
" Kenapa di jual yah?." tanya Jihan.
" Ayah cuma nggak mau semua barang yang sudah pernah di pakai sama wanita itu. Ayah ingin saat kita menggunakan sudah nggak ada lagi jejak wanita itu. Ayah mau mengubur atau menghapus semua kenangan yang lalu setelah ibu mu meninggal sampai saat kemarin. Kita buka lembaran baru ." ucap Rudi.
" Sudah lebih baik kita tidur besok kita mulai hari yang baru." Ucap Rudi lagi.
Mereka berdua pun akhirnya masuk ke dalam kamar masing-masing.
Sepeninggalan keluarga Jihan Khayra dan ustad Gibran pun mengobrol dulu dengan keluarganya.
__ADS_1
Karena hari semakin sore Khayra dan ustad Gibran pun pamit pulang. Lagi pula si bontot sudah menelpon Mommy nya