
Hari ini suasana pesantren ramai banyak wali santri berdatangan untuk mengambil raport anak mereka sekaligus menjemput pulang. Selain itu juga pesantren mengadakan acara HUT pesantren. Semua santri menyambutnya dengan gembira Dan mereka juga gembira Karena para santri akan di berikan libur selama dua Minggu sebelum mereka kembali melakukan kegiatan belajar mengajar.
Hari ini Ustad Gibran di minta oleh Abi untuk membantunya di pesantren. Dan beruntung juga memang hari Sabtu jadi Ustad Gibran nggak harus ke kantor.
Ustad Gibran yang baru pulang dari shalat subuh di masjid. Karena tadi mereka semua rapat terlebih dahulu jadi jam setengah delapan Ustad Gibran baru pulang ke rumah mertuanya. Dan langsung masuk ke kamar. Dan bertepatan dengan Khayra keluar dari kamar mandi sambil menggendong baby Rayyan yang habis mandi. Ustad Gibran langsung merebahkan tubuhnya di samping baby Rayyan begitu Khayra meletakkan baby Rayyan.
" Daddy bisa cuci tangannya dulu?." ucap Khayra sambil mengeringkan tubuh anaknya
" Oke mommy." ucap Ustad Gibran langsung turun dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi.
Selesai mencuci tangan ustad Gibran kembali naik ketempat tidur dan tiduran di sebelah sang anak. Baby Rayyan yang melihat Daddy nya langsung bergerak nggak bisa diam.
" Aduh boy jangan gerak-gerak mommy susah pakaikan baju ke kamu." keluh Khayra.
" Boys nurut sama mommy nanti Deddy gendong." Baby Rayyan pun nurut diam saat di pakaikan baju.
" Wah kamu ya, giliran Daddy aja langsung nurut."
" Iya lah kan anak Deddy ya Ray."
" Mas kamu bukannya di minta Abi buat bantuin di pesantren." tanya Khayra.
" Iya tapi mau main dulu sama ray. "
" Kamu ganti baju dulu sana, itu bajunya sudah aku siapin." ucap Khayra sambil menunjuk baju yang sudah dia siapkan.
" Terima kasih mommy." ucap ustad Gibran beranjak turun dari tempat tidur dan langsung mencium gemas pipi Khayra.
" Mas, kamu tuh ya main nyosor aja."
" biarin." sambil memeluk Khayra.
" Mas awas aku mau ngasih Ray dulu ke umi, soalnya aku mau nyiapin mas sarapan terus aku mau mandi." ucap Khayra.
" Mas sudah sarapan sayang tadi di masjid di beliin bubur ayam sama om Zidan." ucap ustad.
" Biar sama mas aja. tunggu mas ganti baju dulu." lanjut ustad Gibran.
Selesai berganti pakaian ustad Gibran langsung menggendong baby Rayyan keluar kamar. Sedangkan Khayra Langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Ustad Gibran turun kebawah melihat umi mertuanya sedang sibuk dengan para haddam. Maka ustad gibran pun memutuskan untuk membawa baby Rayyan ke pesantren.
" Nak, Rayyan nya mau di bawa ke mana?." tanya umi.
" Mau di bawa jalan ke pesantren umi sekali berjemur." ucap ustad Gibran.
" Khayra nya kemana?."
__ADS_1
" Kai mandi umi "
" oh ya udah, hati-hati bran! empeng nya jangan lupa di bawa biar anteng."
" Udah umi. Assalamualaikum."
" Walaikum salam."
Ustad Gibran pun menggendong baby Rayyan menuju pesantren. Banyak para santri yang kagum sama ustad Gibran.
" Masya Allah, suami idaman banget."
" Iya semoga nanti bisa punya suami kaya ustad Gibran." ucap salah satu santri
" ngarep." jawab santri yang lainnya.
Ustad Gibran pun sampai di aula tempat akan diadakan acara.
" Sini bran biar Abi yang gendong." ucap Abi sambil mengambil baby Rayyan dari gendongan ustad Gibran.
Ustad Gibran hanya pasrah memberikan baby Rayyan ke Abi nya. Ustad Gibran pun mengikuti Abi menerima tamu yang datang. Ustad Gibran di temani oleh om Zidan dan juga ustad Zaki.
Tidak hanya wali santri yang datang tapi juga banyak para ulama-ulama yang datang. Mereka di undang untuk memeriahkan acara dan juga untuk mempererat silaturahmi.
" Assalamualaikum Gus Azam. dan Gus Zidan."
" Gimana kabarnya? " tanya kyai Salman
" Alhamdulillah sehat."
" Oh iya kyai Ibrahim mana."
" Abah masih di rumah sebentar lagi kesini."
" Gus Azam maaf ini siapa gemes banget." ucap umi Jamila istri kyai Salman.
" Oh ini cucu saya.'
" wah udah punya cucu aja, dari anak yang mana nih." tanya kyai Salman.
" Dari Khayra anak kedua saya pak kyai."
" Oh sudah nikah toh, bukannya seumuran sama Deni putra saya."
" Iya betul pak kyai seumuran dengan Gus Deni. Tapi Alhamdulillah dapat jodohnya lebih cepat."
" terus yang dua ini siapa Gus."
__ADS_1
" oh ini Zaki suaminya Aisyah dan ini anak saya Gibran."
" ya udah mari silahkan pak kyai dan keluarga silahkan masuk. atau mau ke rumah Abah."
" nggak usah Gus kita di sini aja. kalau gitu kami masuk dulu Gus."
Kyai Salman dan istri serta kedua anaknya pun langsung masuk ke tempat acara.
Sampai di dalam tempat acara anak perempuan Kyai Salman yang memang dari tadi memandangi ustad Gibran langsung bicara ke Abahnya.
" Abah kalau gitu Syifa mau bah di jodohkan dengan putranya Gus Azam." ucap Syifa anak perempuannya kyai Salman.
" Kenapa kamu berubah pikiran?." Tanya kyai Salman menatap anaknya bingung.
Kyai Salman yang mendapat undangan dari kyai Ibrahim kakeknya Khayra langsung bilang ke anak dan istrinya.
" umi, Abah dapat undangan lagi dari kyai Ibrahim. Rencananya Abah mau ajak kalian datang ke sana, nggak enak umi berapa kali di undang tapi nggak bisa datang terus."
" kalau umi sih terserah Abah. Memang kapan bah?." tanya umi Jamila istri kyai Salman.
" Minggu depan mi, Syifa sama Deni juga harus ikut."
" Kenapa harus ikut sih bah." protes Syifa.
" Rencananya Abah mau jodohin kamu Syifa dengan anaknya Gus Azam."
" Abah Syifa nggak mau ya di jodoh - jodohin." potong Syifa.
" Syifa Abah cuma khawatir aja usia kamu itu sudah dua puluh enam tahun. Abah sama umi sudah kepingin melihat kamu menikah ."
" Tapi nggak harus menjodoh-jodohkan orang bah, Syifa bisa cari calon suami Syifa sendiri kok."
" Siapa cowok begajulan itu yang kamu maksud?. Syifa Abah tuh kepingin kamu dapat pendamping yang Soleh yang bisa menuntun kamu ke jalan yang benar."
" Emang selama ini Syifa salah jalan apa?."
" Iya makin ke sini kamu makin jauh dari agama."
" Bah Syifa hanya menikmati hidup mumpung masih muda."
" Terserah kamu, tapi Abah cuma minta kamu berkenalan dulu dengan anaknya Gus Azam, Nanti kalau nggak kamu boleh nolaknya." ucap kyai Salman yang binggung menghadapi sang anak perempuan satu-satunya.
" Oke."
Kyai Salman sedih melihat putri satu-satunya berubah semenjak dia masuk kuliah. Syifa salah dalam pergaulan dia nongkrong bersama teman-teman yang notabene bukan hanya perempuan tapi juga banyak para lelakinya.
Syifa yang notabene anak seorang kyai seakan lupa batasan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya. Tak jarang Syifa juga berboncengan dengan lelaki. Apalagi semenjak bekerja Syifa semakin bebas. Maka dari itu Kyai Salman mau menjodohkan anaknya dengan anak Gus Azam.
__ADS_1
Karena kyai Salman ingat dulu istrinya Gus Zidan hampir sama dengan anaknya. Tapi semenjak menikah dengan Gus Zidan, istrinya Gus Zidan bisa berubah menjadi lebih baik. Maka dari itu dia ingin menjodohkan anaknya dengan anak Gus Azam karena hanya anak lelakinya Gus Azam yang sudah besar.