Bertemu Jodoh Di Pesantren Kakek

Bertemu Jodoh Di Pesantren Kakek
81. Aqiqah


__ADS_3

Setelah di rawat pasca melahirkan Khayra diperbolehkan untuk pulang. Di kamar rawat Khayra mama dan papa mertuanya sedang membereskan barang-barang Khayra dan baby Ray selama di rumah sakit. Sedangkan ustad Gibran dia sedang melunasi pembayaran administrasi rumah sakit.


" Nak cuma ini aja yang mau di bawa pulang." ucap papa sambil menunjuk satu koper dan berapa kantung yang berisikan kado untuk baby Ray dari orang yang menjenguknya.


" Iya pah, soalnya kemaren sudah dibawain sama kak Gita." ucap Khayra.


Tak lama ustad Gibran pun datang.


" sudah semuanya?." tanya ustad Gibran.


" sudah."


Khayra pun duduk di kursi roda yang di dorong oleh perawat. Baby Ray di gendong sama mama, papa dan ustad Gibran membawa barang bawaan.


Sampai lobby rumah sakit supir keluarga ustad Gibran sudah menunggu.


" Ayo sayang." Ucap ustad Gibran membantu khayra berdiri.


" Makasih ya sus." ucap Khayra sebelum masuk mobil.


" Sama-sama Bu?."


Sampai rumah mereka langsung menuju ke kamar Khayra di lantai dua.


" Nak, cuci tangan dulu terus Susui baby Ray." ucap mama.


Khayra pun langsung ke kamar mandi untuk menyusui Baby Ray.


" Sini mah Rayyan nya." mama pun memberikan Baby Ray ke dalam gendongan Khayra yang sudah duduk bersandar di tempat tidur.


Khayra pun langsung menyusui Baby Ray, Baby Ray pun langsung menyedot ASI-nya dengan kuat. Khayra sangat bahagia bisa melakukan perannya saat ini menjadi seorang ibu.


" Nak mama tinggal dulu ya."


" Iya mah makasih." mama pun keluar dari kamar Khayra.


Ceklek


Ustad Gibran masuk ke dalam kamar dilihatnya sang istri sedang memberikan asi pada sang putra.

__ADS_1


" Mas cuci tangan dulu kamu kan dari luar pokoknya kalau nggak cuci tangan jangan dekati baby Ray apalagi pegang baby Ray." omel Khayra menepis tangan ustad Gibran saat ustad Gibran mau memegang pipi baby Ray.


" Astaga yang cuma nyentuh pipinya doang.' Ucap ustad Gibran dan langsung mendapatkan plototan dari Khayra.


Ustad Gibran pun bergegas ke kamar mandi setelah mendapatkan plototan dari sang istri.


" Udah nih yang mas udah cuci tangan bahkan mas sudah ganti baju.' ucap ustad Gibran duduk di sebelah Khayra, Ustad Gibran sudah mengganti baju dengan kaos oblong dan celana pendek.


" Hai baby boy asik banget sih kamu jangan lama-lama boys gantian daddy juga mau." ucap ustad Gibran


" aduh..." Khayra langsung mencubit pinggang Ustad Gibran.


" Yang kok di cubit sih."


" Habis nya kamu ngomongnya kaya gitu."


" Ya emang sebelum ada baby boys itu kan tempat favorit aku."


" Mas Gibran.." ucap Khayra dengan suara sedikit tinggi.


" ihs..kamu tuh ya lihat baby Ray sampai kaget gitu."


" Yang kamu yakin nggak mau pakai jasa baby sitter." tanya ustad Gibran.


" nggak mas, aku mau ngurusin baby Ray sendiri aja."


" Ya udah tapi kamu janji kalau capek banget bilang biar pakai jasa baby sitter."


" Iya suami ku yang baik.' ucap Khayra mencium pipi ustad Gibran.


" Yang kalau nyium tuh jangan yang ini aja." ucap ustad Gibran menunjuk pipi yang di cium oleh Khayra." Tapi yang ini, ini, ini dan ini." ustad Gibran menunjuk ke pipi satunya lagi terus kening, hidung dan bibir.


Khayra langsung mencium pipi, kening, hidung dan bibir dan Khayra mengulanginya lagi.


" Aku kasih Double sebagai hadiah yang lagi puasa lama.' ucap Khayra tertawa.


" Ihs.. kamu senang banget ya kayanya ngelihat mas puasa lama. pokoknya kalau udah selesai kita langsung bikin adik buat baby Ray."


" Nggak ya mas planning aku nunggu Rayyan umur dua tahun baru program lagi buat ngasih adik buat Rayyan soalnya aku mau ngasih Rayyan asi sampai dua tahun.' ucap Khayra.

__ADS_1


" Kita lihat aja nanti." Ustad Gibran mencium bibir khayra lalu pergi mengambil laptopnya dan duduk di sofa.


Sedangkan Khayra hanya geleng-geleng kepala.


Tak terasa sudah seminggu Khayra dan Ustad Gibran menikmati perannya sebagai orang tua. Khayra bersyukur mempunyai suami seperti ustad Gibran yang selalu membantunya mengurusi baby Ray. Ustad Gibran kalau malam dia yang selalu siaga kalau baby Ray nangis. Ustad Gibran selalu yang menggantikan popok baby Ray kalau malam dan membiarkan Khayra tidur kecuali kalau baby Ray haus baru ustad Gibran membangunkan Khayra.


Hari ini ustad Gibran dan Khayra mengadakan acara aqiqah untuk anaknya baby Ray. Acara pengajian mengundang anak yatim-piatu, para ustad dan ustadzah di pesantren, tetangga di rumah orang tua ustad Gibran, keluarga dan berapa teman mas Gibran juga papa dan mama mertuanya.


Acara aqiqah berjalan lancar baby Ray sangat anteng selama acara tidak menangis paling menangis hanya karena haus atau popoknya basah jadi nggak betah. Baby Ray juga jadi primadona di keluarga semua berganti menggendong baby Ray.


Para tamu sudah pulang termasuk para ustad dan ustadzah di pesantren.Dan juga keluarga Khayra juga sudah pulang semua. Tinggal ustad Alif saja yang masih berada di sana karena ibu dan kedua adiknya. Mereka ikut membantu acara aqiqah baby Ray karena memang keluarga ustad Alif sudah cukup kenal dengan keluarga ustad Gibran.


Khayra membawakan dua cangkir kopi dan juga sepiring kue ke taman belakang.


" Mas ini kopi sama kuenya." ucap Khayra sambil menaruhnya di meja.


" Sayang baby Ray sama siapa?." tanya ustad Gibran.


" Lagi tidur sama mama."


" Kamu duduk sini dulu." Khayra pun duduk di sebelah ustad Gibran.


" Ayo Lif, ngomong aja nggak usah takut.' ucap ustad Gibran.


Ustad Alif terlihat gugup ada Khayra di sana di tambah lagi ustad Gibran menyuruhnya untuk bicara langsung ke Khayra soal perasaannya kepada Zafra.


Setelah semua tamu pulang ustad Gibran mengajak ustad Alif untuk mengobrol di halaman belakang.


" Lif, saya sudah bilang ke Kai soal perasaan kamu terhadap Zafra. Kai sendiri nggak masalah kalau kamu sama Zafra. Nanti kamu ngomong sendiri sama Kai." ujar ustad Gibran.


" Nggak apa-apa bang?."


" ya nggak apa-apa siapa tahu Kai bisa bantu kamu."


Itu lah pembicaraan ustad Gibran dan ustad Alif sebelum Khayra datang membawakan kopi dan juga kue.


Setelah cukup lama terdiam akhirnya ustad Alif pun memberanikan diri untuk bicara sama Khayra.


'" Maaf Ning sebelumnya mungkin saya terkesan kurang ajar atau nggak tahu diri".

__ADS_1


" Maaf ustad Alif jangan panggil Ning kalau lagi di luar pesantren soalnya Kai sedikit risih, panggil Kai aja jangan ning." potong khayra yang risih kalau harus di panggil Ning.


__ADS_2