Bertemu Jodoh Di Pesantren Kakek

Bertemu Jodoh Di Pesantren Kakek
137. Liburan keluarga 3


__ADS_3

Setelah makan malam semuanya kembali ke kamar masing-masing. Saat ini ustad Gibran dan Khayra sedang shalat isya berjamaah. Seperti biasa selesai shalat Khayra mencium tangan ustad Gibran. Selesai mencium tangan ustad Gibran Khayra langsung memeluk ustad Gibran.


" Kenapa yang?." ucap ustad Gibran saat Khayra memeluknya.


" Sepi nggak ada anak-anak."


" Mau mas jemput anak-anak."


Khayra menggeleng.


" Terus."


" Nggak apa-apa Kai mau meluk mas aja."


" Duh istrinya siapa sih kok jadi manja banget." ucap ustad Gibran sambil menciumi pucuk kepala Khayra.


Cukup lama Khayra memeluk ustad Gibran.


" Yang pindah ke tempat tidur yuk, Kita tidur besok mas udah janjian mau main ski."


Akhirnya mereka pun pindah ke tempat tidur.


Keesokan harinya ustad Gibran sudah bersiap untuk bermain ski. Sedangkan Khayra tidak ikut dirinya hanya mengajak Rayyan untuk bermain di sekitar resort.


Si kembar bersama mama dan umi di dalam resort.


Rayyan tampak senang bermain salju bersama Maura dan Britney yang nggak pernah jauh dari Rayyan. Khayra yang melihat keceriaan putra sulungnya dirinya pun mencoba untuk mengabadikannya. Khayra Memfoto dan memvideokan keceriaan Rayyan bermain bersama sepupunya.


Khayra sungguh berterimakasih kepada Allah SWT, Karena mengirimkan suami seperti ustad Gibran. dan juga berterima kasih karena telah menghadirkan tiga malaikat kecil di hidupnya.


Khayra tak pernah berpikir akan menikah muda, Dulu impiannya setelah lulus sekolah dirinya ingin mendaftarkan diri ke Oxford atau Harvard. Ustad Gibran juga pernah menawarinya untuk tetap memilih Oxford atau Harvard untuk kuliah. Ustad Gibran nggak mau karena menikah dengannya impian Khayra terhalang.


Tapi memang Khayra sendiri yang mengubur impian tersebut. Bagi Khayra keluarga kecilnya yang paling utama. Walaupun ustad Gibran bersedia ikut pindah dengan Khayra apa bila Khayra memilih salah satu universitas tersebut.


Namun Khayra menolaknya karena begitu hamil Rayyan Khayra lebih senang menjadi ibu rumah tangga. Dan sekarang keputusannya sudah tepat dirinya bisa melihat tumbuh kembang anak-anaknya.


Lamunan Khayra Langsung hilang saat mendengar putranya menangis.


" Sayang kenapa nak?." Khayra langsung mengendong Rayyan.

__ADS_1


" Maaf Tante kami tadi nggak sengaja melempar bola es eh kena adiknya." ucap bocah sekitar delapan tahun


" Iya Tante maafin kami " ucap dua bocah lainnya.


" Iya nggak apa-apa, lain kali hati-hati ya.'


" Iya Tante makasih." ketiga bocah itupun pergi.


" Kenapa Kai, Kok Rayyan nangis." tanya Jane yang menghampiri dirinya bersama yang lainnya.


" Itu ada anak mereka lagi main lemparan bola salju eh ternyata lemparannya ke Rayyan."


" Ya Allah kasihan."


" Ya udah yuk kita kembali ke resort."


Mereka pun kembali ke resort, sampai resort Khayra langsung membawa Rayyan dan Maura ke kamar mama.


" Ya Allah kenapa nak Rayyan nangis begitu, Ayo masuk." ucap papa saat membuka pintu kamarnya ternyata di dalam ada Abi dan umi juga.


" Kenapa nangis Rayyan nak." Tanya umi.


" Ini umi tadi ada anak lagi main lemparan bola salju terus nggak sengaja ke kena kepala Rayyan."


" Rayyan biar Kai bawa ke kamar aja, biar dia tidurnya tenang "


" Iya nak, mama siapin susu sama baju untuk ganti."


Khayra pun membawa Rayyan ke kamarnya, Dan setelah di beri susu tak lama Rayyan pun tidur. Mungkin karena kecapekan nangis atau kecapekan main.


Khayra pun ikut tidur di samping Rayyan, Khayra memeluk putra sulungnya itu. Tak lama tidur Khayra terganggu karena ada yang memencet bel. Khayra pun segera membukanya dan ternyata ustad Gibran yang baru pulang bermain Ski.


Ustad Gibran pun masuk kamar dan melihat putra sulungnya tertidur pulas di atas Ranjang. Ustad Gibran pun langsung menghampiri dan mencium putra sulungnya itu. Tapi di mengeryitkan keningnya karena melihat mata anaknya seperti habis nangis


" Habis nangis, Tadi lagi main ada anak-anak sedang main lemparan bola salju. Ternyata lemparan mereka mengenai kepala Rayyan, Rayyan pun nangis." jelas Khayra.


" Tapi Rayyan nya nggak apa-apa." tanya ustad Gibran khawatir.


" Benjol sedikit tapi nggak apa-apa, Aku sengaja bawa kemari takut begitu bangun takut rewel."

__ADS_1


" oh Ya udah mas mau Ganti baju dulu. Kamu udah makan."


" Belum. Nanti nunggu Rayyan bangun dia juga belum makan. Tapi pesan aja mas nanti Rayyan Kai bangunin aja soalnya udah lewat jam makan siang juga."


" Iya nanti mas pesankan setelah mas ganti baju."


" Sayang Rayyan mau di pesanin apa?." Tanya ustad Gibran.


" pesanin bento sama miso soup mas, "


Begitu makanan datang Khayra langsung membangunkan putranya.


" Nak, bangun dulu yuk, kita makan yuk." Ucap Khayra sambil menciumi putra sulungnya agar bangun


" Mom.' Ucap Rayyan sambil kedua tangannya mengarah ke khayra.


Khayra pun langsung mengendong Rayyan, menghampiri Ustad Gibran yang sedang makan.


" Anak Deddy kenapa nangis." tanya ustad Gibran begitu Khayra mendudukkan Rayyan di sebelah ustad Gibran.


" Angis, akit par buk aduh." Cerita Rayyan sambil memperagakannya.


Khayra dan ustad Gibran tertawa melihat tingkah anaknya yang sedang bercerita.


" Jagoan Deddy nggak boleh cengeng."


" Dak eng, Mas Angis na akit."


" Oh mas Rayyan nangis karena sakit." ucap ustad Gibran sambil mengelus pipi putra sulungnya.


Rayyan pun mengangguk.


" Dek ana?." Rayyan mencari kedua adiknya.


" Kamar Oma?."


" Oh.."


Setelah makan Rayyan pun bermain bersama ustad Gibran di Ranjang. Ustad Gibran membuka iPad milik Khayra karena Rayyan Mau main. Iya Khayra memang mendownload game tapi game edukasi untuk anak seusia Rayyan. Memang nggak bagus anak di biarkan bermain Gadget tapi Khayra akan mengizinkan Rayyan untuk main game atau nonton Video. Walaupun di usianya dia belum paham. Tapi lumayan untuk dia tetap anteng saat mereka sedang tidak di rumah. Kalau di rumah Khayra sama sekali nggak mengizinkan Rayyan menyentuh Gadget.

__ADS_1


Tak terasa ternyata sudah tiga hari mereka menginap di niseko dan pagi ini mereka memutuskan untuk kembali ke tokyo.


Dan keluarga besar Khayra akhirnya memutuskan untuk pulang besok malamnya. Karena Ada salah satu ustad senior yang mengajar di pesantren meninggal dunia. Jadi mereka pun memutuskan untuk pulang.


__ADS_2