Bertemu Jodoh Di Pesantren Kakek

Bertemu Jodoh Di Pesantren Kakek
147. pergi ke kampus bersama


__ADS_3

Zahra pun memanggil mas Fachri untuk sarapan.


" Mas mau sarapan di meja makan atau Zahra bawain ke sini." Tanya Zahra.


" Mas ke meja makan aja, Kamu kuliah jam berapa?." Tanya dokter Fachri yang masih menatap layar laptopnya.


" Hari ini Zahra nggak ada jam kuliah mas."


" Ya udah nanti mas mau pergi dulu sebentar karena ada yang harus mas urus." ucap dokter Fachri sambil menutup layar laptopnya dan bangun dari duduknya menuju meja makan.


" Iya mas."


Mereka pun sudah berada di meja makan


" Bunda Chantika mau kue sama gulali yang tadi." ucap gadis kecil itu yang membuat Zahra dan dokter Fachri kaget.


" Maaf mas Fachri dan neng Zahra mbok yang bilang suruh panggil neng Zahra dengan sebutan bunda." ucap mbok Nah yang merasa nggak enak hati.


Zahra menatap dokter Fachri yang dua hari menjadi suaminya. dia merasa nggak enak dengan dokter Fachri karena takut dokter Fachri nggak terima aku di panggil bunda. tapi kalau boleh jujur Zahra sangat senang.


" Nggak apa-apa kok mbok memang sekarang Zahra bundanya Chantika jadi mbok juga jangan merasa bersalah." ucap dokter Fachri ke mbok Nah.


" kamu nggak apa-apa kan Chantika manggil kamu bunda."


" Zahra malah senang mas. terima kasih. " senyum Zahra mengembang.


" Chantika sekarang makan buburnya dulu sampai habis baru boleh makan jajanan yang tadi."


" Iya bunda."


******


Pagi ini Zahra ada mata kuliah pagi jadi setelah membantu mbok Nah untuk membuat sarapan Zahra langsung bersiap-siap.


Setelah rapi Zahra pun pergi ke meja makan di sana sudah ada mas Fachri, mbok Nah dan Chantika.


" Kamu ada kuliah." tanya mas Fachri.


" Iya mas ada kuliah pagi. Nanti kembaran aku yang jemput ke sini." ucap Zahra sambil mengambil makanannya.


" Suruh kembaran kamu langsung aja ke kampus. Nanti kamu biar mas yang Antar sekalian mas ada keperluan." ucap Mas Fachri sambil memakan sarapannya.


Zahra pun langsung menghubungi kembarannya untuk nggak menjemput dirinya.

__ADS_1


Selesai sarapan mereka pun langsung berangkat ke kampus. Sepanjang perjalanan hanya ada hening tak ada sepatah kata pun. Zahra yang notabene anaknya cerewet nggak berani membuka suaranya karena masih canggung dengan dokter Fachri.


" Mas turunin Zahra di depan gerbang aja." ucap Zahra memecah keheningan.


Tapi dokter Fachri terus aja melaju mobilnya ke dalam kampus. Zahra hanya bisa pasrah karena pasti banyak Mahasiswa yang melihatnya turun dari mobil dokter Fachri.


Mobil pun terparkir di parkiran khusus dosen.


" Ini." dokter Fachri memberikan kartu debit ke Zahra.


" Ini apa mas." tanya Zahra saat menerima kartu debit tersebut.


" Kartu. " Jawabnya singkat.


" Iya tahu tapi buat apa?.'


" Buat kamu itu nafkah dari aku jadi kamu sudah nggak usah minta uang lagi ke orang tua kamu. Sekarang kamu tanggung jawab mas, uang saku, uang belanja dan keperluan lainnya kamu bisa ambil dari sana."


" Dan satu lagi biaya kuliah kamu sekarang mas yang nanggung jadi jangan minta Abi lagi."


" Mas kalau untuk urusan kuliah Zahra, Zafra dan juga sepupu Zahra Nadifa. Alhamdulillah semua sudah di tanggung oleh mertuanya kak Kai, kakak perempuan Zahra yang tinggal di Jepang. Kampus ini milik mertuanya kak Kai jadi Zahra gratis masuk sini."


Dokter Fachri hanya melongo mendengar perkataan istrinya.


" Assalamualaikum." Zahra pun keluar dari mobil dokter Fachri.


" Walaikum salam."


******


" Sari sebenarnya apa rencana kamu menginginkan Zahra untuk menjadi istri mas. Zahra sungguh terlalu berlebih buat mas Sari. Apa mas bisa membahagiakannya sari?. Kamu juga tahu sari mas hanya bisa mengontrak rumah kecil untuk di tempati. Mas takut Zahra merasa nggak nyaman sari, mas yakin Zahra terbiasa hidup di rumah besar secara dia cucu dari pemilik pesantren besar dan juga pemilik rumah sakit. Mas belum bisa memberikan tempat yang layak untuknya sari. Dan asal kamu tahu sari ternyata kampus tempat mas mengajar itu milik mertua kakaknya. Sungguh sari mas minder apakah mas bisa membahagiakannya?. Tapi seperti janji mas sama kamu mas akan berusaha membahagiakannya. Doakan mas dari sana.sari.' gumam dokter Fachri dalam hati.


Zahra masuk kelas ternyata sudah ada Zafra di kelas.


" Kangen..." ucap Zahra memeluk kembarannya.


" Basi, Baru juga sehari nggak ketemu."


Tak lama Hanum dan Gisel datang.


" Assalamualaikum." ucap Hanum dan Gisel yang Langsung duduk di depan mereka.


" Walaikum salam."

__ADS_1


" Kalian nggak berangkat bareng." tanya Hanum menatap kedua sahabatnya.


" iya kami nggak berangkat bareng." Jawab Zafra


" Terus kamu Zahra ada hubungan apa dengan pak Fachri, Kamu tahu istrinya pak Fachri baru aja meninggal dua hari yang lalu." Tanya Hanum ke Zahra.


" Tahu."


" Terus kenapa kamu tadi keluar dari mobil pak Fachri. udah gitu kalian lama lagi di dalam mobil." Tanya Hanum penasaran.


" Nanti aku ceritain di taman itu dosennya udah datang."


Hanum yang sudah penasaran harus kesal karena dosen keburu masuk kelasnya.


******


Setelah membelikan dan minuman untuk dibawa ke taman ke empat sahabat ini pun langsung menuju salah satu bangku yang ada di taman.


" Ayo sekarang ceritain ke kita." Hanum sudah sangat penasaran.


" Ya Allah num sabar kenapa sih?." omel Zahra.


" Aku tuh udah penasaran tahu."


" Udah Ra ceritain aja dari pada Hanum mati penasaran entar dia gangguin kita lagi." ledek Gisel


Hanum langsung cemberut.


" Iya...iya aku cerita."


Zahra pun menceritakan dari awal pertemuannya dengan mbak sari istri dokter Fachri sampai kenapa dia harus nikah dengan dokter Fachri.


" Tuh kan doa Gisel manjur." celetuk Gisel.


Dan ketiga sahabatnya langsung menatap Gisel.


" Kalian ingat nggak dulu Zahra pernah ngomel-ngomel karena di tabrak sama pak Fachri. Terus Hanum bilang jangan membenci pak Fachri nanti jodoh loh terus kan cuma Gisel yang mengamini.


Zafra dan Hanum langsung tertawa saat ingat ke jadian itu sedangkan Zahra hanya bisa memanyunkan bibirnya.


" Tapi selamat ya Ra, Semoga.jadi keluarga samawa." ucap Gisel memberikan selamat ke Zahra.


" Iya Ra, selamat ya jadi kamu dapat buy one get one dong." ucap Hanum.

__ADS_1


Mereka pun tertawa mendengar ucapan Hanum.


__ADS_2