Bertemu Jodoh Di Pesantren Kakek

Bertemu Jodoh Di Pesantren Kakek
42. ke rumah mertua


__ADS_3

sesuai rencana Abi dan yang lainnya akan berangkat ke Yogyakarta sehabis Dzuhur. sedangkan khayra dan ustad Gibran berangkat lebih awal karena mereka akan mampir terlebih dahulu ke rumah orang tua ustad Gibran. sehabis sarapan rencananya ustad Gibran dan khayra berangkat ke rumah orang tua ustad Gibran.


" sayang kok ada tiga koper jangan bawa banyak-banyak." ucap ustad gibran saat akan membawa koper untuk di masukan ke mobil.


" oh koper yang kecil itu isinya baju untuk kita berangkat nanti sama baju-baju aku yang bakal di taruh di rumah mama, papa."


" oh ya udah mas taruh koper dulu ke mobil ya."


selesai menaruh koper ke mobil kini khayra dan ustad Gibran sudah berada di meja makan untuk sarapan. seperti biasa khayra akan mengambilkan nasi beserta lauknya ke piring ustad Gibran barulah setelah itu khayra akan mengambil nasi dan lauk untuk dirinya sendiri.


selesai sarapan khayra dan ustad Gibran pamitan ke umi, Abi dan yang lainnya. sebelum pergi khayra dan ustad Gibran terlebih dahulu mampir ke rumah kakek dan nenek untuk pamitan. barulah mereka pergi menuju rumah orang tua ustad Gibran.


sejam perjalanan akhirnya mereka pun sampai di halaman rumah yang cukup luas dan rumah yang cukup megah.


" mas ini rumah mas." tanya Khayra yang tak menyangka rumah mertuanya besar dan juga megah.


" ayo kita turun pasti mama sama papa sudah nungguin kita." ajak ustad Gibran.


" kak Gita tinggal di sini juga mas."


" iya tapi lagi nggak ada dia lagi ke rumah mertuanya. ayo sayang.'


khayra pun turun dari mobil menghampiri sang suami. ustad gibran langsung menggandeng tangan khayra masuk kedalam rumah. terlihat mama dan papa sedang sarapan di meja makan.


" assalamualaikum mah, pah."


" walaikum salam."


khayra dan ustad Gibran menyalami mama dan papa. lalu ikut duduk di meja makan.


" ayo Kai ikut sarapan." ajak mama.


" kami sudah sarapan mah sebelum kesini."


" ya sudah, mbok tolong bikinin minuman buat Gibran sama istrinya."


tak lama asisten rumah tangga memberikan kami secangkir teh manis hangat.


" mas Gibran dan mbak ini minumnya."


" makasih mbok, panggil Kai aja mbok."


" iya mbak Kai."


" mbok tolong turunin koper yang kecil di mobil dan yang lainnya biar di mobil terus taruh kamar saya ya mbok."

__ADS_1


" iya mas."


" oh iya penerbangan kalian jam berapa?"


tanya papa


" nanti jam empat sore pah."


" oh ya udah kalian istirahat aja dulu, soalnya papa sama Mama mau pergi dulu habis Dzuhur kami sudah pulang." ucap papa.


" iya kalian istirahat aja, kamu ajak istri kamu istirahat."


" iya mah."


" ayo sayang."


" mah, pah Kai istirahat dulu." pamit khayra.


" iya nak, kalau ada apa-apa langsung bilang si mbok ya.'


" iya mah." mas Gibran mengajak untuk naik kelantai dua menggunakan lift.


" mas memang di rumah ini ada beberapa lantai." tanya Khayra pas mereka ada di dalam lift.


" rumahnya besar apa nggak serem mas."


" nggak, oh iya yang itu kamar kita sebelahnya ruang kerja dan yang itu ruang fitnes. oh iya di sebelah sana ada bioskop mini jadi kalau mau nonton di sana dan juga ada tempat main game dan bilyard. lantai ini khusus untuk mas jadi kalau mas mau bawa teman main atau menginap ya di sini."


" terus kalau lantai lainnya.'


" mama dan papa kamarnya ada di lantai bawah, lantai dua itu kekuasaannya kak Gita dan kalau lantai empat itu buat santai aja ada Taman dan kolam renang. kalau tahun baru kita biasanya bakar-bakar di lantai atas. ayo mas kasih unjuk kamar mas." mas Gibran pun mengajak ke kamarnya.


ceklek


" ayo masuk sayang."


khayra pun masuk kedalam kamar mas Gibran yang cukup luas dengan tembok yang di cat abu tua.


" kenapa kamu nggak suka ya sama warna temboknya. kalau kamu tinggal bilang nanti tinggal mas rubah kan sekarang ini juga jadi kamar kamu jadi jangan sungkan untuk merubahnya." jelas ustad Gibran.


setelah puas memperhatikan setiap sudut kamar mas Gibran. khayra memilih rebahan di kasur milik mas Gibran. khayra senang rebahan di sana. karena masih ada wangi mas Gibran yang ada di sana.


sedangkan ustad gibran melihat istrinya sangat menikmati rebahan di kasur dia pun menyusul istrinya ikut naik ke kasur dan tidur di sebelah istrinya sambil memeluk dari belakang.


" yang main yuk."

__ADS_1


" emang mau main kemana mas." tanya Khayra yang tidak mengerti maksud suaminya.


" maksud mas, mas pengen sayang yuk mumung masih panjang sebelum berangkat ke bandara."


" mas, a..." ustad Gibran sudah mencium bibir khayra yang sudah menjadi candunya.sedangkan khayra hanya bisa pasrah dengan keinginan suaminya maka siang itu terjadilah pergulatan panas menjelang adzan Dzuhur ustad Gibran baru menyudahi permainannya.


" sayang ayo kita mandi sebentar lagi adzan Dzuhur." ucap ustad Gibran yang melihat khayra sudah memejamkan mata karena kelelahan.


" ayo dong yang bangun."


" mas aku capek dan ngantuk mas." jawab khayra dengan mata masih terpejam.


tanpa aba-aba ustad Gibran mengendong khayra ke kamar mandi.


" mas turunin aku." jerit khayra karena tubuhnya yang masih polos di gendong ustad Gibran masuk ke dalam kamar mandi. ustad Gibran menurunkan Khayra begitu sampai di dalam kamar mandi.


saat ini khayra dan ustad Gibran sedang melaksanakan shalat Dzuhur. dan seperti biasa setelah shalat khayra pasti akan mencium tangan ustad Gibran dan ustad Gibran akan mencium kening Khayra.


" kenapa manyun begitu bibirnya minta mas cium." ucap ustad Gibran yang melihat khayra memanyunkan bibirnya. ustad Gibran tahu istrinya sedang kesal.


" nggak ada." jawab Khayra datar sambil melipat mukena.


sedangkan ustad gibran hanya tersenyum melihat tingkah istrinya.


" maaf bapak Gibran yang terhormat apakah bapak tidak ada niat mengajak saya makan siang atas apa yang ada lakukan terhadap saya." yang perutnya sudah lapar karena tenaga sudah terkuras habis melayani sang suami di ranjang dan juga di kamar mandi saat mandi tadi.


sedangkan ustad gibran masih tidak menanggapi sang istri dia bangun dari duduknya lalu melipat sajadahnya setelah itu dia hendak berjalan ke balkon tapi langkahnya terhenti saat sebuah tangan melingkar di perutnya.


" mas ih... ngeselin banget sih." ucap Khayra sambil memeluk ustad Gibran.


" udah ngambeknya?" tanya ustad Gibran sambil membalikan tubuhnya menghadap Khayra, ustad Gibran juga menciumi puncak kepala khayra.


" mas Kai lapar." ucap Khayra yang masih memeluk manja.


" ayo nanti mas diomelin sama Abi anaknya nggak di kasih makan." ucap ustad Gibran sambil menggandeng Khayra keluar kamar menuju meja makan.


" mbok tolong siapin makan siangnya ya." ucap ustad Gibran.


" iya mas Gibran mbok siapkan dulu."


" mbok mama sama papa sudah pulang."


" sudah mas mereka sedang istirahat di kamar."


tak lama makanan tersaji di meja makan, Khayra langsung mengambilkan makanan untuk ustad gibran setelah itu baru dia mengambilkan makanan untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2