Bertemu Jodoh Di Pesantren Kakek

Bertemu Jodoh Di Pesantren Kakek
156. berkumpul kembali


__ADS_3

" Assalamualaikum..." Khayra pun sampai ke rumah.


" Walaikum salam."


" Aduh princess Mommy kenapa cemberut aja." ucap Khayra menghampiri Zafira yang sedang duduk di sofa sambil melipat kedua tangannya tak lupa memasang wajah cemberutnya.


" Adik Fira ngambek Mommy, di kira Mommy pergi sama Deddy." Ujar Dania yang baru datang dari dapur sambil membawa segelas air minum.


" Buat Mommy."


" Terima kasih sayang, kayanya Mommy sayangnya sama kak Dania aja ah. Besok kak Dania mau Mommy beliin apa? Kalau yang ngambek nggak di bagi ya kak." goda Khayra ke putri bungsunya.


" Iya Mommy Dania aja, Dania mau makan eskrim sama burger Mommy. Yang banyak ya adik nggak usah di bagi." ucap Dania ikut menggoda adiknya.


Zafira langsung memeluk Khayra dan menciumi wajah Mommy nya.


" Fira nggak ngambek Mommy, Fira cuma mau prank Mommy aja."


Oma, opa, Khayra dan Dania pun tertawa.


" Bohong tahu Mommy tanya aja Oma sama opa dari tadi Fira marah-marah terus." goda Dania lagi.


" Kakak ih... Nanti Fira nggak dapat es krim sama burger."


" Sudah main lagi sama kakak, besok Mommy beliin burger sama es krim."


" Yeah...." sorak Dania dan Zafira


Mereka kembali lagi meneruskan bermain.


" Boys kemana mah." tanya Khayra karena tidak melihat keberadaannya.


" Pada main bola tuh di taman belakang, Oh iya gimana anak teman kamu." Tanya mama.


" Sudah di tangani mah, tapi belum tahu kapan operasinya?."


" Kalau kamu butuh bantuan bilang ke papa Kai."


" Iya pah, untuk saat ini masih belum."


" Ya udah kamu istirahat aja dulu.'


" Iya mah, kalau gitu Kai ke kamar dulu "


******


Setelah anak dan suaminya pergi, khayra pun pergi menjenguk kembali anaknya Gina. Dan Khayra sudah janjian dengan Sarah dan Nada.


Sempai rumah sakit ternyata sudah ada nada yang sudah menunggu di lobby rumah sakit.


" Assalamualaikum NAD, sudah lama nunggu."


" Walaikum salam, Belum kok tadi sekalian bareng sama suami aku."

__ADS_1


" Oh iya Ning, Sarah datang agak telat dia ke kantor dulu soalnya." ujar Nada.


" Iya santai aja."


Tak lama Sarah pun datang.


" Assalamualaikum maaf ya lama."


" Walaikum salam nggak kok kita juga belum lama sampai." ucap Nada.


" Ya udah yuk langsung ke tempat Gina."


Mereka pun berjalan menuju ke tempat ruang rawat anaknya Gina.


" Assalamualaikum."


" Walaikum salam, Ya Allah kalian." Mata Gina langsung berkaca-kaca saat mengetahui bahwa yang datang para sahabatnya.


" Gina kangen." ujar Sarah.


" sama aku juga Sar, akhirnya ketemu kalian lagi. dan aku nggak nyangka."


" Gimana kabarnya Gin?."


" Alhamdulillah baik Nad, Udah berapa bulan?." Tanya Gina sambil memegang perut Nada.


" Alhamdulillah udah enam bulan."


" Kalau kamu Gin?." tanya Sarah.


" anak kandung aku sendiri dua cewek cowok dan anak sambung aku juga dua jadi aku udah punya anak empat dan dua cucu."


" Apa ...cucu." teriak Sarah dan mendapatkan pukulan dari Khayra.


" nggak usah teriak kali."


" Maaf Bu kaget, Habis Gina bilang udah punya cucu ya jelas aku kaget dong."


" Nggak apa-apa sar, toh memeng kenyataannya memang begitu."


" Kamu nungguin anak kamu sendirian aja Gin." tanya Gina mengalihkan pembicaraan.


" Nggak Ning semalam aku di temani sama suami aku, cuma tadi aku suruh pulang. Nggak enak sama pihak sekolah Ning."


" Oh kirain kamu sendirian aja."


Tak lama masuk laki-laki memakai jaket ojek online.


" Assalamualaikum Bu."


" Walaikum salam Jal."


" Ini tadi di suruh bapak nganterin ini." ucap laki-laki itu memberikan bungkusan plastik ke Gina.

__ADS_1


" Oh iya kenalin ini mantu aku Ijal namanya. Jal kenalin mereka teman ibu waktu sekolah." laki-laki itu cuma tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


" Ya udah Bu Ijal pamit dulu."


" Udah dapat penumpang Jal."


" Alhamdulillah udah Bu, walaupun cuma dua penumpang."


" Tapi ada kan Jal buat bensin."


" Alhamdulillah ada Bu, tadi bapak juga ngasih dua puluh ribu buat nambahin beli bensin."


" Ya udah kalau ada."


" Ijal pamit dulu ya Bu, assalamualaikum."


" Walaikum salam."


Khayra, Nada dan Sarah hanya diam melihat interaksi Gina dengan menantunya.


" Gin memang anak bawaan suami kamu udah pada gede." tanya Nada


" Sudah pada menikah."


" Terus kamu kenal dimana sama suami kamu." Kali ini sarah yang bertanya.


" Ceritanya panjang dan cukup memalukan, Kalau aku ceritakan pasti kalian merasa jijik punya teman kaya aku." ucap Gina tertunduk malu.


" Gin semua orang punya salah dan khilaf yang terpenting bagaimana kita mau memperbaiki diri." ucap Nada yang melihat raut kesedihan di wajah sahabatnya.


" Iya Gin, semala kamu menyadari kesalahan kamu dan juga kamu mau memperbaiki diri untuk menjadi yang lebih baik lagi. Kami nggak mempermasalahkan kekhilafan yang kamu lakukan di masa lalu." Ucap Khayra yang ikut bicara.


" iya Gin kamu tetap sahabat kami." timpal Sarah.


" Aku mau cerita tapi setelah ini aku mohon jangan menjauhi aku ya."


Kami semua mengangguk.


" Jadi saat aku pulang ke rumah sehabis lulusan dulu. Aku baru tahu kalau papa aku sudah meninggal karena serangan jantung dan nggak ada yang mengabari aku. Tapi aku berpikir positif mungkin karena aku jauh makanya nggak di beritahu." ucap Gina sambil menyeka air matanya yang menetes.


" Tapi aku baru merasa aneh hampir semua keluarga ayah aku menjaga jarak dengan aku. padahal sebelumnya aku cukup akrab dengan saudara papa. Aku berpikir mungkin telah terjadi sesuatu.


Sampai suatu kejadian Hari itu aku yang sudah berangkat ke kampus tapi karena ada yang tertinggal aku pun kembali pulang. Dari situlah awal aku mengetahui semuanya." Nada bicara Gina mulai sedikit meninggi dan sedikit emosi


Kami bertiga setia mendengarkan.


" Aku mendengar suara mamaku sedang bertengkar dengan seorang laki-laki di dalam kamar. Karena penasaran siapa laki-laki yang di bawa masuk oleh mama aku ke dalam kamarnya. Aku pun bersembunyi sambil mendengarkan pembicaraan mereka."


Khayra memberikan air minum ke Gina supaya tidak terbawa emosi


" Kalau kamu merasa berat untuk cerita nggak usah di paksa Gin." ucap Sarah yang kasihan melihat sahabatnya.


" Nggak aku harus cerita karena aku butuh bantuan banyak orang."

__ADS_1


__ADS_2