
Tok...tok...
Khayra yang tertidur karena habis perjalanan jauh dari Indonesia, merasa terganggu tidurnya karena suara ketukan pintu. Khayra pun langsung turun dari tempat tidur dan membukakan pintu.
Ceklek
' Mbak Kai maaf sudah di tunggu nyonya sama tuan buat makan siang." ucap bi ani.
Bi ani dan mang Ade dan juga kedua anaknya Silmi dan Thoriq. Mereka adalah satu keluarga yang di percaya orang tua ustad Gibran untuk mengurus rumah mereka di Jepang.
" Iya bi, nanti Kai sama mas Gibran turun."
" Baik mbak Kai, bibi permisi.".
Bi ani pun turun ke bawah sedangkan Khayra memilih pergi ke kamar mandi terlebih dahulu. Setelah itu Khayra pun membangunkan ustad Gibran.
" Mas bangun mas, sudah di tunggu mama sama papa buat makan siang."
Tak begitu susah membangunkan ustad Gibran, ustad Gibran pun langsung bangun dan masuk ke kamar mandi. Begitu ustad Gibran masuk ke kamar mandi ternyata baby Rayyan pun ikut bangun.
" Wah anak Daddy ikut bangun juga ya." ucap ustad Gibran ketika keluar dari kamar mandi.
" Iya mas, Ayo turun kasihan mama sama papa pasti sudah nunggu lama."
Mereka pun turun ke bawah dan benar saja mama dan papa sudah menunggu mereka di meja makan.
" Maaf mah, pah pasti lama nunggunya ya." ucap Khayra .
" Nggak apa-apa sayang. kami memang sengaja nunggu biar makan bareng."
" Mbak Kai baby Ray biar sama saya aja. mbak Kai makan aja soalnya Dewi juga lagi makan di belakang." ucap silmi yang kebetulan dia habis taruh teko air putih.
" Nggak apa-apa mbak silmi, nggak ngerepotin mbak silmi." ucap Khayra.
" Ya nggak atuh mbak, Silmi justru senang."
__ADS_1
Akhirnya Khayra pun memberikan baby Rayyan ke silmi, lalu silmi pun membawa baby Rayyan ke ruang tv.
" Sudah ayo sayang kita makan." ucap ustad Gibran.
Khayra pun langsung mengambil piring ustad Gibran dan menaruh makanan ke piringnya.
" Nih mas." ucap Khayra sambil memberikan piring yang sudah berisikan makanan.
" Makasih sayang."
Lalu Khayra pun menyendok makanan untuk dirinya sendiri. Makan siang berjalan dalam hening.
Selesai makan siang ustad Gibran pun mengajak kita berkumpul di ruang TV untuk menyaksikan acara lamaran Zafra melalui Videocall yang tersambung ke tv. Dengan begitu Khayra dan juga yang lainnya bisa menyaksikan kalaupun beda negara.
Khayra dan yang lainnya melihat
rombongan keluarga ustad Alif datang. Dimana Abi menyambut dengan ramah dan mempersilahkan tamu yang hanya sekitar sepuluh orang untuk masuk.
Tak lama terlihat mbak Maysaroh dan teh Rika menyuguhkan minuman dan kudapan berupa kue.
" Ayo silahkan di minum dulu minumnya dan juga di cicipi kuenya." ucap umi
" Terima kasih umi yai." ucap ibunya Ustad Alif.
Khayra juga melihat sang umi menggoda calon mantunya mencairkan suasana karena uminya tahu kalau calon mantunya cukup tegang.
" Ustad Alif ayo di coba brownies nya biar nggak gugup. Itu special loh bikinan calon istri." goda umi.
" Iya umi, " ucap ustad Alif malu di goda calon mertuanya.
Kami pun melihat kegugupan ustad Gibran terkekeh.
" Baik pak kyai Ibrahim dan Gus Azam lebih baik saya langsung aja. sepertinya sudah ada yang nggak sabaran udah senyum-senyum sendiri." sindir uwa Soleh yang Melihat ustad Alif senyum-senyum sendiri.
" Baik silahkan." jawab kakek.
__ADS_1
" Bismillahirrahmanirrahim, perkenalkan nama saya Soleh. Saya tetangga sebelah rumah Alif dan Alif dan juga adik-adiknya sudah saya anggap sebagai anak sendiri. Karena mereka tidak punya sanak saudara baik dari sang ibu maupun dari Alm. ayahnya. Jadi saya di minta saya untuk jadi walinya, Agar dia bisa melamar gadis pujaan hatinya. saya selaku orang yang Alif anggap orang tua ingin menyampaikan bahwa ananda Alif ingin melamar putri Gus Azam yang bernama Hana Zafra Maulida untuk jadi pendamping hidupnya. Bagaimana pak kyai dan Gus Azam."
" Maaf sebelumnya saya tahu ustad Alif adalah laki-laki yang baik, Soleh dan bertanggung jawab. Tapi maaf sekali lagi walaupun saya abi nya tapi saya nggak berhak menjawab biarlah yang bersangkutan yang jawab." ucap Abi.
" Nadifa, boleh Abi minta tolong panggilkan Zafra."
" Iya Abi."
Terlihat nadifa bergegas bangun dari duduknya.
Tak lama terlihat Nadifa datang bersama Zahra dan Zafra. Zafra pun di suruh duduk di samping Abi. sedangkan ustad Alif yang terpesona melihat Zafra yang sangat cantik mengenakan gamis warna peach.
" ehmm.." Abi berdehem menyadarkan ustad Alif yang dari tadi memandang Zafra terus.
" Ustad Alif sekarang sudah ada Zafra silahkan di utarakan langsung niat ustad Alif ke Zafra."
" Bismillahirrahmanirrahim, Dek Zafra kedatangan saya ke sini bersama orang tua, saya ingin melamar dek zafra. Dek Zafra tenang aja saya nggak meminta untuk kita menikah sekarang. Saya tahu Dek Zafra masih sekolah saya akan menunggu sampai dek Zafra lulus sekolah. Baru saya akan menikahi Dek Zafra. Bagaimana." tanya ustad Alif sedikit gugup takut Zafra menolaknya.
" Silahkan nak di jawab umi dan Abi akan mendukung semua keputusan kamu."
Zafra berdiam cukup lama dia memandang uminya seolah meminta jawaban uminya. Umi yang tahu anaknya meminta pendapatnya umi langsung memberikan anggukan.
" Bismillahirrahmanirrahim, Sebelumnya terima kasih atas kedatangan keluarga ustad Alif. Tapi maaf Sebelumnya kalau memang ustad Alif mau menunggu Zafra Sampai lulus sekolah. Zafra menerima lamaran ustad Alif."
Semua langsung mengucapkan Alhamdulillah atas jawaban yang di berikan oleh Zafra begitu juga Khayra, ustad Gibran dan kedua orang tua ustad Gibran yang menyaksikan melalui Videocall.
Ibu ustad Alif memakaikan cincin dan juga gelang ke Zafra sebagai tanda kalau dirinya sudah di lamar oleh ustad Alif.
Ustad Alif sangat bahagia karena zafra mau menerima lamarannya.
Begitu juga dengan Khayra dia menangis terharu menyaksikan kebahagiaan adiknya. Khayra juga tak henti-hentinya mendoakan mereka di dalam hati agar Allah SWT senantiasa menjaga cinta mereka. Bagaimanapun mereka masih harus menunggu kurang lebih setahun setengah untuk ustad Gibran menghalalkan Zafra
Selesai menyaksikan acara lamaran Zafra, ustad Gibran mengajak aku untuk jalan-jalan. Tapi karena mereka baru sampai tadi pagi dan lagi pula Khayra belum punya stok asi untuk baby Rayyan di tinggal. Tapi kalau baby Rayyan di bawa Khayra kasihan baby Rayyan baru berusia dua bulan .
Akhirnya Mereka memutuskan untuk tetap berada di rumah. Toh mereka juga akan lama berada di jepang jadi masih banyak waktu untuk jalan-jalan mengeksplor Jepang.
__ADS_1
Walaupun nggak bisa di pungkiri Khayra pun sebenarnya ingin jalan-jalan tapi dia nggak boleh egois bagaimanapun sekarang baby Rayyan dan Ustad Gibran adalah prioritasnya.