Bertemu Jodoh Di Pesantren Kakek

Bertemu Jodoh Di Pesantren Kakek
167. duka 2


__ADS_3

Awan mendung sekarang sedang menaungi pesantren Al hikmah. Shalat subuh berjamaah di masjid pesantren yang awalnya khusyuk menjadi kepanikan serta kesedihan yang mendalam.


Kyai Ibrahim pemilik pesantren Al hikmah tidak bangun lagi di sujud terakhir nya. Begitu salam di ucapkan selesai shalat, para jamaah langsung panik. terutama Abi dan om Zaki yang berada di sisi kiri dan kanan kyai Ibrahim.


Abi mencoba memanggil kyai Ibrahim tapi tak ada jawaban. Abi pun menggoyang tubuh kyai Ibrahim, Tapi tubuh kyai Ibrahim jatuh ke sisi om Zaki. Karena kyai Ibrahim menutup matanya, Abi pun memeriksa denyut nadinya.


" Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un." Ucap Abi lemas.


Om Zidan, om zaki, ustad Alif, dokter Fachri, Haikal pun langsung lemas tak bertenaga. Para santri juga ustad dan juga para jamaah laki-laki pun terkejut.


Kak Ridwan yang memang dari dulu diasuh oleh kakek dan nenek seakan tak percaya. Kak Ridwan pun langsung memeriksa kyai Ibrahim dan tangisnya pecah.


Sedangkan jamaah wanita yang menunggu doa setelah shalat. Mulai penasaran kenapa doanya tak juga dimulai. Bahkan para jamaah wanita bisa mendengar ada keributan di para jamaah laki-laki.


Apalagi saat dengan serempak mereka bilang innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un. Para jamaah wanita pun penasaran siapa yang meninggal.


" Siapa yang meninggal ya?." Tanya nenek


" Nggak tahu amah kita tunggu aja nanti juga di umumkan." ucap Tante Mala.


Para jamaah wanita pun masih menunggu di masjid.


" Astaghfirullahaladzim, Abah yai kenapa kok di gotong begitu." Ucap santriwati.


Tanpa bertanya lagi nenek, umi, Tante Mala, Tante Ais, Nadifa, dan Zahra. langsung pergi meninggalkan masjid dan pergi ke rumah kakek dan nenek.


Nenek, umi, Tante Mala dan yang lainnya masuk kedalam rumah. Mereka melihat kakek sudah terbujur kaku.


" Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un." Ucap mereka.


Nenek dan Tante Aisyah langsung menghampiri jenazah kyai Ibrahim. Nenek memeluk jenazah suaminya yang begitu dia sayangi dan cintai.


Tak lama nenek pun pingsan.


" Astaghfirullahaladzim."


Abi yang melihat amah nya pingsan langsung membopong tubuh nenek ke kamarnya. Umi pun juga ikut masuk ke kamar mertuanya untuk mengecek kondisi ibu mertuanya.

__ADS_1


Zafra yang baru datang setelah salah satu santri datang memberi tahunya. Kini Zafra duduk lemas di samping Jenazah sang kakek.


Masjid pesantren pun mengumumkan berita duka kepergian kyai Ibrahim. Warga sekitar pun kaget dengan pengumuman yang di siarkan di pesantren.


Khayra dan mas Iqbal pun sudah di hubungi dan sudah menuju ke pesantren.


Mas Iqbal dan Khayra yang memang tidak ikut tinggal di lingkungan pesantren. Juga Nadifa anak om Zidan dia juga tidak tinggal di lingkungan pesantren. Tapi saat ini kebetulan dia sedang menginap di rumah orang tuanya.


Para santri pun langsung memasang tenda dan menyusun kursi untuk tamu yang akan takziah.


Warga sekitar juga sudah pada berdatangan bertakziah ke pesantren. Berapa teman, sahabat juga para ulama serta tokoh masyarakat memang tinggalnya dekat sudah berdatangan.


Baru saja mereka di Kaget dengan kabar meninggalnya kyai Ibrahim. Mereka kembali di buat kaget dengan berita meninggalnya istri kyai Ibrahim yang ternyata ikut menyusul sang suami dua jam setelah kepergian suaminya kyai Ibrahim.


Bukan awan mendung lagi yang menyelimuti pesantren Al hikmah tapi Awan hitam yang menyelimuti pesantren Al hikmah.


Bagaimana tidak dua orang sosok penting bagi pesantren juga bagi para santri telah pergi menghadap sang khalik. Bagi para santri , ustad dan ustadzah sosok kyai Ibrahim dan istri merupakan sosok yang baik, lembut, tidak pernah marah, bijaksana dan selalu perhatian Dengan orang-orang sekitar.


Kini pesantren Al hikmah di penuhi orang-orang yang bertakziah. Karena banyaknya tamu dan juga kondisi hari adalah hari Jumat. Maka keluarga sepakat kan memakamkan kakek dan nenek setelah shalat Jumat.


" Terima kasih kalian sudah datang."


" Harus lah Ning Abah YAI dan Bu nyai itu juga Orang tua kita juga ning.' ucap Nada.


" Iya Ning aku bertahun-tahun tinggal di pesantren ini. Dan nggak nyangka mereka pergi bersamaan. Benar-benar cinta sejati hingga maut memisahkan mereka."


" Iya aku juga nggak menyangka kalau nenek akan ikut menyusul kakek." ucap Khayra sedih.


Khayra nggak bisa menemani para sahabatnya karena dirinya juga harus menemui para tamu.


Khayra dan keluarga besarnya bersyukur tenyata banyak yang menyolatkan jenazah dan juga banyak yang mengantar ke pemakaman.


*******


" Kai papa sudah bilang ke Abi dan juga om kamu kalau untuk minuman dan juga kue untuk acara tahlilan nanti malam sudah papa siapkan jadi sudah nggak usah mikirin." ucap papa


" Makasih papa."

__ADS_1


" Nggak usah pakai terima kasih kamu itu anak papa dan kakek kamu itu sahabat papa walaupun kami nggak seumuran. Jadi kamu tenang aja."


" Ya pah."


Pada malam hari diadakan acara tahlilan di masjid pesantren dan yang datang banyak. Sampai harus mencari karpet lagi karena nggak cukup saking banyaknya yang datang.


" Mommy sudah makan." Tanya Rayyan yang masuk ke dalam kamar Mommy nya.


" Nanti aja nak. Mommy belum lapar."


" Ayolah mom, Nanti kalau mommy sakit siapa yang ngurusin kita." bujuk Rayhan.


" Ya sudah Mommy makan."


" Rayyan ambilkan ya. Mommy mau makan pakai apa?."


" Sayur SOP sama ayam goreng aja."


Rayyan pun keluar kamar mengambilkan makanan untuk Mommy nya.


' Nih mom, Di habiskan ya."


" Terima kasih nak.'


" Rayyan keluar dulu ya. Mau bantuin santri beres-beres. Assalamualaikum."


" Walaikum salam."


Tak lama ustad Gibran masuk ke dalam kamar dan mendapati istrinya sedang makan.


" Baru makan sayang." ucap ustad Gibran sambil mencium puncak kepala Khayra.


" Iya tadi diambilkan sama Rayyan sebenarnya Kai nggak selera makan. Tapi Rayyan takut kalau aku sakit."


" Itu tahu , sedih boleh tapi harus ingat makan juga. kalau mau sakit siapa yang ngurusin mas juga anak-anak."


Khayra hanya Tersenyum dan meneruskan makannya

__ADS_1


__ADS_2