
Khayra senang memerhatikan anak-anak itu bermain. Sampai pandangan Khayra menangkap tiga anak yang sedang duduk diam di salah satu bangku di taman belakang.
" Bu Yuni siapa mereka?." Tanya Khayra sambil menunjuk ketiga anak itu
" Yang mana mbak Khayra?." Tanya Bu Yuni.
" Itu yang di pojok sana."
" Oh mereka adalah Bagas, aji dan Luna mereka baru sebulan ada di sini. Sebenarnya ada satu lagi tapi dia sedang mengikuti ujian nasional namanya Jihan." jelas Bu Yuni.
" Mereka sudah pada besar kok bisa sampai ada di sini."
" Iya mereka di bawa oleh tetangganya yang kasihan dengan mereka. Mereka anak piatu ibunya meninggal empat tahun yang lalu. berapa bulan yang lalu ayahnya menikah lagi dengan janda beranak dua. Dan kedua anaknya ikut dengan mereka tapi kehadiran ibu tiri dan anaknya justru membawa musibah dengan anak-anak ini. Ayah kandungnya justru hanya perhatian ke anak tirinya dan menelantarkan anak kandungnya."
" Astaghfirullahaladzim." ucap Khayra dan mama serentak.
" Iya mereka benar-benar tidak di anggap sama sekali. Kalau kata yang besar dia bercerita satu bulan ayahnya menikah lagi semua biasa saja. Tapi bulan berikutnya ibu tirinya akan marah kalau ayah membelikan kami sesuatu. Mereka tidak pernah lagi di kasih uang saku dan beruntung Jihan, Bagas dan aji mereka anak yang pintar sedangkan Luna karena masih SD dan dia sekolah di sekolah negeri jadi tidak ada uang sekolah. Mereka masih tetap bersekolah, Tapi ibu tirinya selalu saja berusaha untuk mendepak mereka berempat keluar dari rumah. Sampai mereka akhirnya di usir oleh bapak kandungnya sendiri."
" Terus bagaimana bisa mereka ada di sini."
" Pihak RT , RW dan berapa warga sempat menemui ayahnya tapi ayahnya sudah tidak mau mengakui anak-anaknya lagi. Akhirnya karena geram dan juga sudah bicara ke RT, RW dan yang lainnya. Bu Surti membuat surat pernyataan bahwa sang ayah sudah membuang mereka. Bu Surti sengaja membuat surat pernyataan itu karena setahu Bu Surti mereka mempunyai warisan dari ibunya."
" kok Bu Surti bisa tahu mereka." Tanya mama ( Bu Surti salah satu pengurus panti asuhan cahaya kasih )
" Kebetulan mereka tetanggaan, Sebenarnya kami juga mau meminta bantuan sama kalian." ucap Bu Yuni.
" Bantuan apa Bu?."
" Kami sampai sekarang tidak tahu siapa pengacara ibunya mereka dulu. Mungkin pak Khairul bisa mengetahuinya."
__ADS_1
" Nanti saya coba bicarakan ini dengan suami saya." jawab mama
Menjelang siang mama dan Khayra pun pamit pulang tapi sebelumnya mereka mampir dulu ke sebuah restoran.
" Mah soal anak-anak yang tadi kok Kai kepikiran ya." ucap Khayra di tengah-tengah mereka menikmati makanannya.
" Sama mama juga, Rasanya mama harus berbuat sesuatu sama mereka."
" Iya mah rasanya Kai kesal banget masa anak tiri di urus anak kandung di buang. Itu orang punya hati nggak sih, Binatang aja sangat menjaga anaknya sedangkan ini...ihssss bikin gemes."
" Nanti malam kita bicara sama papa dan Gibran."
" Iya mah."
*****
Malam harinya selesai makan malam mama dan khayra mengajak para suami untuk bicara.
" Gini pah tadi tuh mama sama Kai ke panti terus ada penghuni baru empat orang anak dan mereka kakak beradik. Mama tanya dong pah kenapa bisa ada di panti asuhan. Ternyata mereka itu anak piatu yang di usir oleh ayah kandungnya. Ayah kandungnya lebih memilih ibu tiri dan anak tirinya."
" Astaghfirullahaladzim, Kenapa anak tiri di anak kandung kan sedangkan anak kandung di anak tiri kan." Ucap papa.
" Nah itu dia pah, yang jadi kepikiran sama mama dan Kai "
" Terus mama mau gimana? Mama mau mengadopsi mereka." Tanya papa.
" Biar nanti pengacara yang mengurusnya jadi anak Gibran dan Khayra."
" Kenapa jadi Gibran ?."
__ADS_1
" Emang kenapa? Mas nggak kasihan dengan mereka mereka itu di dzolimin tahu."
" Nggak gitu sayang." Ucap ustad Gibran menenangkan Khayra yang sudah menatap tajam ustad Gibran.
" Udah sih bran toh itu suatu kebaikan kan."
" Iya sayang aku ikut kamu aja."
" Hahaha.....dasar kamu bran sudah bucin akut." Ledek papa.
" Kaya Papa nggak aja."
" Sudah-sudah malah debat, mama boleh minta tolong. Kata Bu Surti salah satu pengurus panti, dia bilang almarhumah ibunya dulu meninggalkan warisan untuk mereka. Tapi Bu Surti nggak tahu pengacaranya yang mana?." ucap mama.
" Kok Bu Surti bisa tahu kalau ibu mereka meninggalkan warisan." Tanya papa.
" Sebelum meninggal ibunya sempat cerita, Karena ibunya menderita penyakit kanker stadium akhir jadi semua aset milik sudah di wariskan ke empat anaknya."
" Mungkin ibunya sudah punya firasat kalau suaminya bakal menelantarkan anaknya." ucap ustad Gibran.
" Mungkin, besok mama ajak Bu Surti untuk menemui papa supaya cepat di urus."
" Iya besok mama akan ke panti jemput Bu Surti."
" Ya sudah lebih baik kita istirahat sudah malam." Ucap papa
Akhirnya mereka pun bubar dan kembali ke kamar masing-masing.
Sampai kamar Khayra lebih dulu bersih-bersih baru setelah itu ustad Gibran yang masuk kamar mandi untuk bersih-bersih.
__ADS_1
Sembari menunggu ustad Gibran keluar kamar mandi. Khayra memilih membuka sosial media.