Bertemu Jodoh Di Pesantren Kakek

Bertemu Jodoh Di Pesantren Kakek
135. Liburan keluarga


__ADS_3

Acara lamaran dan juga pertunangan mas Iqbal dan Michiko berjalan dengan meriah. Selesai acara semua keluarga pulang ke rumah masing-masing. Begitu juga keluarga Khayra kembali ke kamar masing-masing.


Khayra dan ustad Gibran kini sudah berada di dalam kamarnya. Mereka sudah bersih-bersih dan sudah memakai baju tidur. Ketiga anaknya juga sudah tertidur pulas karena kecapekan.


Rayyan yang dari tadi sibuk bermain dengan sepupu-sepupunya. Juga si kembar yang jadi bahan rebutan om dan tantenya ustad Gibran.


Kini Khayra dan ustad Gibran sedang rebahan di ranjang saling berpelukan.


" Yang besok di niseko anak-anak biar tidur sama mama dan papa." ucap ustad Gibran.


" Nggak enaklah mas masa mereka tidur sama mama dan papa."


" Mama dan papa pasti senang mereka tidur dengan cucunya "


" Kenapa harus anak-anak di ungsikan ke mama dan papa sih." ucap Khayra sebel. bukan dirinya nggak tahu maksud suaminya tapi Khayra pura-pura bodoh nggak mengerti maksud suaminya.


" Yang di niseko itu dingin loh yang."


" Iya tahu orang resort biasa orang main ski sudah pasti dingin."


" Kalau dingin tuh paling enak kelonan tahu."


" Di sini aja nggak dingin kita pelukan udah kaya perangko." ucap Khayra malas


" Bukan gitu yang kan semenjak punya anak jatah mas berkurang. Dan selalu buru-buru udah gitu kalau mau nambah pasti kamu alasannya takut anak-anak bangun."


" Ingat si kembar baru berapa bulan, demen banget si ngadon "


" Ya nggak apa-apa siapa tahu si kembar dapat adik "


Khayra langsung melotot saat ustad Gibran dengan entengnya bilang begitu.


" Auw..yang sakit " jerit ustad Gibran karena mendapat cubitan di perutnya yang lumayan keras.

__ADS_1


" Kamu enak cuma nyebar benih, aku yang repot tahu. Anak memang rezeki tapi kamu tahu nggak rasa nya morning sickness, mengandung sembilan bulan dan gimana beratnya saat melahirkan. bel..."


Cup


Ustad Gibran langsung mencium bibir Khayra untuk menghentikan kecerewetannya.


" Mas... aku belum selesai." ucap Khayra sambil memanyunkan bibirnya.


" Maaf-maaf, Mas mohon yang mas pengen puasin berduaan sama kamu mumpung liburan."


" Terserah Kai mau tidur." ucap Khayra langsung menyelusup ke dalam dada ustad Gibran.


" Bilangnya nggak mau padahal setiap malam juga maunya kalau tidur di peluk " gumam ustad Gibran pelan.


" Udah tidur aja, Kaya situ nggak senang aja di peluk Kai." balas Kai yang ternyata masih mendengar gumaman ustad Gibran.


Ustad Gibran hanya tersenyum.


Siang hari ketika mau berangkat ke bandara. Kami memutuskan untuk naik pesawat menuju Hokkaido lebih tepatnya niseko resort.


" Iya nak papa sengaja minta sama Hiro kamar dengan Double bed. Papa mau tidur sama cucu-cucu papa. Kamu juga Gita Maura juga tidur sama kami." ucap papa


Ustad Gibran yang mendengar omongan orang tuanya tersenyum lebar sedangkan Khayra kesal banget sama ustad Gibran. Khayra mengira bahwa ustad Gibran sengaja bilang ke mama dan papa untuk nitip anak-anak tidur dengan mereka.


Mereka pun berangkat ke bandara begitu juga keluarga Khayra. Sengaja naik pesawat karena dari Tokyo ke Hokkaido lumayan memakan waktu kalau harus naik kereta. Kasihan anak-anak kalau kelamaan di jalan.


Sampai di Niseko resort semuanya senang terutama anak-anak. Karena sudah sore jadi memutuskan untuk istirahat saja.


" Nak barang-barang anak-anak langsung taruh di kamar mama aja." ucap Mama ke Khayra.


" Iya mah, itu nanti sama mbak Dewi, mbak Ratih dan Mbak Ami yang bawa koper mereka ke kamar mama."


" Kamu nggak usah Khawatir kalau mama kerepotan. Lagi pula pengasuh anak kalian tidur di sebelah kamar mama jadi mama gampang minta tolong ke mereka." ucap mama menenangkan Khayra sebab mama tahu Khayra lumayan susah kalau harus meninggalkan anak-anaknya.

__ADS_1


" Iya mah, sudah kamu susul suami kamu." Ucap mama.


Akhirnya Khayra pun keluar dari kamar mamanya dan menuju kamarnya.


Begitu masuk kamar Khayra langsung menekuk wajahnya dan langsung duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya.


" kenapa sih yang tuh muka di tekuk nggak enak dilihat tahu." ucap ustad Gibran yang menghampiri Khayra.


" Nggak usah di lihat." jawab Khayra ketus.


" Astaghfirullahaladzim, Yang bukan mas yang minta mama bawa anak-anak tidur sama mama. Demi Allah yang." ucap ustad Gibran yang tahu kalau sang istri pasti kesal padanya


" Terus kok mama bisa nyuruh anak-anak tidur sama mama."


" Dengerin ya. Mama sengaja nyuruh cucunya tidur sama mama. Mas Radit minta mama biar Maura tidur sama mama. Mas Radit dan kak Gita lagi program hamil. Mumpung bisa liburan ke sini soalnya maura nggak pernah mau di tinggal. Ini aja maura mau kalau Rayyan, Zafran dan Zafira ikut tidur sama mama. Gitu ceritanya."


" Tapi kok tadi kak Gita juga kaget saat mama bilang Maura tidur sama mama."


" Mas Radit sengaja, Kak Gita juga tuh nggak bisa jauh-jauh dari Maura. Bahwa Maura sudah umur tujuh tahun masih aja tidur dengan orang tuanya."


" Pantesan kak Gita kaget."


" Iya, pokoknya nanti kalau Rayyan sudah umur tiga tahun mas mau dia tidur di kamarnya sendiri. biar nanti terbiasa tidur sendiri."


" Memang rencana Kai juga begitu, Nanti mulai dari tidur siang di kamarnya sendiri. Terus tidur di temani mbak Dewi dulu kalau malam nanti baru deh dia tidur sendiri. Di jajal pelan-pelan kasihan kalau langsung di suruh tidur sendiri."


" Mas percaya sama kamu, Yang masih ada waktu sebelum magrib."


" Iya magrib emang masih lama tapi ini dikit lagi ashar."


" Ya maksud mas habis ashar. "


" Mas kangen bergelut di ranjang sama kamu." bisik ustad Gibran dan langsung pergi masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Khayra hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan ustad Gibran.


Selesai shalat ashar benar saja ustad Gibran pun langsung mengajak Khayra olahraga di ranjang. Khayra cuma bisa pasrah karena dirinya takut dosa menolak keinginan suaminya.


__ADS_2