
Tak terasa sudah tujuh hari kepergian mbak sari dan hari ini akan di adakan tahlilan. Keluarga Zahra sudah hadir umi, Abi, ustad Alif, Zafra, Yusuf, mas Iqbal dan kak Michiko. Sedangkan Faris memang sengaja nggak di ajak oleh mas Iqbal dan kak Michiko.
Sedangkan keluarga Zahra lagian mereka mengadakan tahlilan di pesantren bersama para santri.
Dan Alhamdulillah dari hari pertama sampai saat ini banyak orang yang datang untuk mendoakan mbak sari. Dan kini tahlilan sudah selesai hanya tinggal keluarga Zahra aja yang belum pulang. Kini mereka sedang duduk di ruang tamu, duduk lesehan di karpet.
" Nak Fachri maaf ya Abi dan yang lainnya baru bisa kemari lagi." ucap Abi.
" Iya Abi Fachri mengerti pasti Abi dan yang lainnya sibuk. sekarang sudah bisa datang aja Fachri terima kasih."
" Oh iya nak kemarin Abi belum memperkenalkan secara langsung. Ini namanya Iqbal kakak tertua Zahra dan ini istrinya Michiko."
" Salam kenal mas, mbak." ucap Fachri sopan.
" Salam kenal juga Fachri."
" Kalau ini kembaran Zahra, Zafra namanya dan itu suaminya Alif. Kalau anak kecil Yang sedang main dengan Chantika itu anaknya zafra dan Alif."
" Salam kenal juga."
" Dan ada satu kakak perempuan Zahra lagi tapi mereka tinggal di Jepang dan dalam waktu dekat ini akan kembali pindah ke sini. Namanya Khayra dan suaminya Gibran.' Jelas Abi.
" Oh iya Fachri sebelumnya Abi minta maaf kalau kamu tersinggung Abi mau tanya ini rumah kamu sendiri atau ngontrak. Maaf loh Fachri."
" Ngontrak Abi,. Fachri belum bisa membeli rumah karena kemarin Fachri harus membiayai pengobatan sari. Jadi nggak cukup untuk menyisakan uang untuk membeli rumah."
" Iya Abi paham, Gini Fachri kalau memang ini kamu ngontrak Abi ingin kamu pindah ke tempat kami." Ucap Abi lembut takut menyinggung perasaan mantunya.
" Kamu tenang aja kami nggak minta kalian tinggal dengan Abi. karena memang sudah ada zafra dan suaminya yang tinggal dengan kami. Kebetulan ada rumah kosong dulu yang nempatin kakaknya Zahra yang kini tinggal di Jepang. Jadi menurut Abi lebih baik kalian menempati rumah itu dari pada kosong."
" Iya Fachri dari pada kamu ngontrak lebih baik kamu tempati rumah itu. Anggap aja kamu ngontrak dan uang yang harus kamu bayar untuk kontrakan rumah bisa kamu tabung siapa tahu nanti saat uang kamu sudah terkumpul. Ada orang jual butuh kamu bisa beli dan punya rumah sendiri." timpal mas Iqbal.
" Iya Fachri, saya juga gitu walaupun saya tinggal di rumah mertua. Tapi Abi menyuruh saya untuk menyisihkan uang menganggap untuk membayar kontrakan. Dan Alhamdulillah belum lama ini ada orang yang menjual rumah cukup besar dengan harga murah. Dan saya bisa membeli rumah itu dengan uang saya sendiri. Walaupun nggak mungkin kami tempati karena dari awal menikah sudah sepakat kami yang akan tinggal dengan Abi dan umi. dan sekarang rumah itu kami kontrakan, dan uangnya kami tabung lagi siapa tahu bisa kebeli lagi." ucap ustad Alif yang ikut bersuara.
Abi masih melihat Fachri masih bimbang.
" Kamu tenang aja walaupun kakaknya Zahra kembali dan menetap di sini. Mereka nggak akan menempati rumah itu, Karena kakaknya Zahra akan tinggal di rumah mertua nya. Kamu pikirkan dulu nak."
__ADS_1
" Iya Abi nanti Fachri pikirkan."
Setelah Keluarga Zahra pergi dan rumah juga sudah di bereskan. Dokter Fachri mengajak Zahra untuk bicara.
" Menurut kamu gimana?." Tanya dokter Fachri.
Zahra menatap dokter Fachri.
" Maaf mas sebelumnya menurut Zahra nggak sebaiknya menerima tawaran Abi aja mas. Mas ya mas bukan Zahra memandang rendah mas "
" Alasannya?."
" Seperti kata Abi dari jadi kita bisa nabung yang seharusnya untuk bayar kontrakan. Apalagi Chantika tahun depan sudah masuk paud mas. Kalau tinggal di sana sekolah Chantika dekat jadi Mbok Nah nggak usah jauh ngantar Chantika sekolah. Tapi Zahra terserah mas aja karena mas kan kepala keluarga jadi Zahra akan ikut kemana pun mas tinggal."
" Sebenarnya Mas Bayar rumah ini bulanan dan benar kata keluarga kamu dari pada mas terus kontrakan rumah ini mendingan uangnya ditabung. Jadi mas akan bilang ke pemilik rumah kalau mas nggak akan perpanjang."
" memangnya mas bayar kontrakan ini perbulan atau pertahun."
" Perbulan dan dua Minggu lagi mas harus bayar kontrakan lagi."
" Mas gimana besok sore kita lihat rumahnya. Tenang aja Abi selalu nyuruh haddam untuk membersihkan rumah itu setiap hari."
******
Sore hari Zahra, dokter Fachri, Chantika dan mbok Nah pergi ke pesantren lebih tepatnya.ke rumah orang tua Zahra.
Sampai pesantren mereka tidak langsung di bukain gerbang karena mobil dokter Fachri baru datang ke sini. petugas keamanan pesantren pun menghampiri mobil Mas Fachri. Mas Fachri pun langsung membuka kaca mobilnya.
" Assalamualaikum, eh Ning Zahra toh dan ini suaminya ya Ning. ' ucap petugas keamanan begitu melihat Zahra di dalam mobil tersebut.
" Walaikum salam. mang iya kenalin suami Zahra Namanya mas Fachri."
" Salam kenal Gus Fachri, Tunggu saya buka dulu gebangnya." petugas itu pun membuka gerbangnya.
" Terima kasih mang." ucap dokter Fachri saat melewati petugas tersebut.
Mobil pun melaju masuk ke dalam pesantren.
__ADS_1
" Lurus terus aja mas." ucap Zahra memberitahukan suaminya.
" Nang luas banget neng pesantrennya." Ucap mbok Nah yang takjub
Sama seperti Mbok Nah, dokter Fachri nggak menyangka kalau pesantren milik keluarga istri sebesar ini.
" Mbok nanti Chantika sekolah di sana paudnya." Tunjuk Zahra ke bangun warna warni.
Mbok Nah dan dokter Fachri melihat yang di tunjuk oleh Zahra.
" Neng Zahra dari kecil tinggal di sini." Tanya Mbok Nah.
" Zahra tinggal di sini kelas dua SMP mbok, Sebelumnya kami tinggal di Australia. Zahra dari lahir sampai SMP kelas dua tinggal di sana mbok. Karena kakek sudah tua dan meminta Abi untuk mengurus pesantren ini. Jadilah kami pindah ke sini cuma kakak Zahra yang laki-laki aja nggak ikut pindah karena sedang kuliah di sana." jelas Zahra.
Dokter Fachri kaget ternyata istrinya dulu tinggal di luar negeri
" Kenapa bisa tinggal di luar negeri." Tanya mbok Nah lagi.
" Dulu Abi dapat beasiswa S2 di salah satu kampus di Australia. Setelah lulus Abi di minta jadi dosen di sana akhirnya Abi menerima tawaran itu. Terus ketemu umi yang memang menetap di sana bersama keluarganya karena memang almarhum ayahnya umi orang Australia. Abi dan umi pun menikah dan tinggal di sana dan jadilah kami." jelas Zahra.
" Abi dosen." Tanya dokter Fachri yang kaget ternyata mertuanya pernah jadi dosen.
" Iya dulu, Mas itu rumah abi" tunjuk Zahra
Dokter Fachri pun memarkirkan mobilnya di depan rumah besar dua lantai yang sangat luas. Mereka pun keluar dari mobil, Banyak para santri yang sedang berlalu lalang di sana menyapa Zahra.
" Assalamualaikum Ning Zahra." Sapa tiga orang santriwati yang sedang lewat dekat Zahra.
" Walaikum salam."
" Hallo Ning Chantika ketemu lagi." ucap mereka menyapa Chantika
" Iya kakak nanti Chantika boleh ikut main lagi kan." ucap Chantika senang.
" Tentu, Tapi kami harus segera ke masjid dulu Ning mau setor hapalan." ucap mereka.
Zahra pun mengajak Dokter Fachri, Chantika dan Mbok Nah masuk ke rumah. Ternyata ada Abi sedang duduk di ruang tamu, maka dokter Fachri pun ikut duduk di sana. Sedangkan Zahra, mbok Nah masuk ke dalam, Chantika sendiri langsung menghampiri Yusuf yang sedang di beri makan oleh Zafra.
__ADS_1
Zahra juga mengenalkan mbok Nah ke Mbak maysaroh dan teh Rika haddam yang membantu di rumah Abinya.