
Selesai shalat Khayra mengajak besannya untuk bertemu dengan baby Sakha dan juga dania.
ceklek...
" Nak ada mertua kamu " Ucap Khayra begitu membuka kamar Dania.
Dania yang sedang mengelus baby Sakha yang sedang di tidurkan di atas ranjangnya.
Mendengar pintu di buka Dania pun langsung menengok kearah pintu. Ternyata Mommy nya yang nongol.
Dan Mommy nya pun berjalan masuk dan di susul umi nya Khalid di belakangnya. Dania pun segera turun dari ranjang dan menghampiri mertuanya.
" Umi sudah sampai." Dania langsung mencium tangan mertuanya.
" Iya nak belum lama, Umi mau lihat baby Sakha boleh nak."
" Boleh atuh mi."
" Assalamualaikum nenek aku Sakha." Ucap Khayra menirukan suara anak kecil saat uminya mendekat.
" Walaikum salam cucu nenek, Masyaallah gantengnya cucu nenek." Umi Khalid langsung berkaca-kaca melihat sang cucu.
" Boleh umi gendong." tanya umi ke Dania
" Boleh dong mi."
Umi nya Khalid langsung mengendong cucunya dia begitu bahagia melihat baby Sakha.
" Mi kita keluar yuk, Dania belum ketemu sama Abi." Ajak Dania.
" Iya nak, Abi pasti senang melihat cucunya."
Mereka pun keluar dari kamar dan menuju ruang keluarga dimana yang lainnya berkumpul di sana.
" Abi apa kabar?." Sapa Dania ke pada mertuanya.
" Alhamdulillah sehat nak, Mana cucu Abi?."
" Tuh sama umi " tunjuk Dania.
" Mi sini Abi juga mau gendong cucu Abi." pinta Abinya Khalid.
Umi langsung memberikan baby Sakha ke Suaminya.
Tak lama Khayra dan ustad Gibran pun pamit pulang karena sudah sore. Tapi sebelum itu dia mampir terlebih dulu ke tempat Jihan dan adik-adiknya menanyakan kabar mereka. Dan ustad Gibran juga meminta Jihan mencoba belajar bekerja di perusahaan.
" Han kan Dania akan cuti kuliah, Selama Dania cuti kalau bisa kamu belajar bekerja di perusahaan. Setidaknya nanti setelah lulus kuliah kamu bisa langsung membantu Deddy di perusahaan." ucap ustad Gibran.
" Iya Ded besok Dania akan ke kantor Deddy." ucap Jihan
Jihan tidak menolak apa pun yang di inginkan oleh orang tua angkatnya karena Jihan percaya mereka melakukan semua ini karena ingin melakukan yang terbaik untuknya.
Jihan juga sudah tidak sabar untuk bisa menjadi sukses dan bisa menunjukkan ke pada ayah, ibu tiri dan saudara tirinya bahwa tanpa mereka dirinya juga adik-adiknya bisa sukses.
__ADS_1
" Ya udah kami pamit ya, Assalamualaikum."
" Walaikum salam."
Dari tempat Jihan dan adik-adiknya mereka mampir terlebih dahulu untuk menemui Abi serta putra mereka.
" Mommy besok ke sini lagi nggak?." Tanya Rayyan yang saat ini sedang duduk di samping Khayra sambil memeluk dirinya.
" Kenapa?."
" Hehehe... Rayyan kangen pergi bareng Mommy." Ucap Rayyan yang memang selalu manja dengan Mommy nya.
" Mau jalan kemana?. Kan kamu besok sekolah." kata Khayra sambil mengelus kepala sang putra.
" ke mall aja Mom."
" Tapi sama adik kamu ya?."
" Iya, Rayyan juga kangen Fira."
" Baiklah besok Mommy jemput setelah menjemput kedua adik kamu. Gimana ?"
" Oke Rayyan akan tunggu."
Setelah ngobrol akhirnya mereka berdua pun pamit karena Fira sudah menelpon terus.
Rayyan mengantar orang tuanya ke mobil sedangkan Abi sediri sudah pergi dari tadi untuk menjemput umi.
" Boys Deddy pulang ya." ucap ustad Gibran sambil mengelus kepala sang putra.
" Mommy pulang ya, Besok Mommy jemput kamu." Ucap Khayra sambil menciumi seluruh wajah anaknya yang Langsung mendapat protes sang putra.
" Ihs.. Mommy mah." Keluh Rayyan sebal.
" Hahaha...Anak Mommy sudah besar sudah nggak mau di cium Mommy nya." Ucap Khayra pura -pura sedih.
" Bukan Rayyan nggak mau di cium Mommy tapi ini kan di luar takut ada santri yang lihat kan Rayyan malu Mom." Rayu Rayyan nggak pernah bisa lihat Mommy nya sedih.
" Oke baiklah... Mommy pulang dulu kalau kelamaan nanti adik kesayangan kamu ngomel-ngomel. Assalamualaikum."
" Walaikum salam."
Khayra dan ustad Gibran pun melajukan mobil meninggalkan pesantren Al hikmah
*****
Sesuai janjinya karena hari ini dia nggak ada kuliah Jihan pun pergi ke kantor Deddy angkatnya.
Setelah memarkirkan mobilnya di tempat parkir Jihan pun berjalan ke masuk karena masih pagi masih jam setengah delapan. Akhirnya Jihan memilih untuk menunggu di lobby karena jam kantor di mulai jam delapan.
Sambil menunggu Jihan memilih untuk bermain ponselnya sambil sesekali melihat para karyawan berlalu lalang.
Banyak juga yang memperhatikan keberadaan Jihan di sana.
__ADS_1
Salah satu resepsionis yang dari tadi memperhatikan Jihan pun penasaran. Akhirnya dia pun bertanya ke petugas keamanan.
" Pak wanita yang duduk di sana siapa?."
" Oh itu dia bilang di minta pak Gibran untuk datang ke sini untuk magang."
" Pak Gibran yang nyuruh pak."
" Katanya begitu mbak."
" Apa saudaranya pak Gibran ya?."
" Mana saya tahu mbak."
" Ya sudah makasih ya pak."
resepsionis itu pun kembali ke tempatnya.
Tak lama mobil yang di tumpang Ustad Gibran pun sampai. Ustad Gibran pun berjalan masuk tapi sebelumnya dia menuju meja resepsionis terlebih dahulu.
" Selamat pagi pak."
" Pagi, Nanti kalau ada anak saya yang bernama Jihan langsung antar ke ruangan saya ya."
Jihan yang sedang fokus pada ponselnya langsung mengangkat wajahnya setelah dia mendengar namanya di sebut. Dan benar sana ternyata Deddy nya sedang berdiri di depan meja Resepsionis.
" Deddy..." Panggil Jihan.
Ustad Gibran langsung menengok
" Assalamualaikum Deddy." Sapa Jihan mencium tangan ustad Gibran.
" Walaikum salam, sudah sini toh. Sudah lama." tanya ustad Gibran.
" Nggak begitu lama kok Ded."
" Hallo om Hilman."
" Aduh keponakan om sudah siap kerja."
" hehehe belajar dulu om."
" Oh iya ini anak saya jadi kalian ingat wajahnya ya." ucap ustad Gibran.
" Iya pak.." ucap resepsionis itu.
Ustad Gibran pun mengajak Jihan ke ruangannya.
" Oh itu anak angkatnya pak gibran selain mbak Dania." ucap salah satu resepsionis.
" Cantik ya."
" Iya, Sepertinya orangnya baik nggak sombong."
__ADS_1
" Iya murah senyum lagi."
" Sudah lebih baik kita lanjut kerja dari pada di omelin."