Bertemu Jodoh Di Pesantren Kakek

Bertemu Jodoh Di Pesantren Kakek
88. gaduh


__ADS_3

" Kakek pernah melihat Syifa itu masuk ke club malam saat kakek habis pulang tabligh Akbar di Kalimantan. Saat itu kakek kebetulan satu mobil dengan kyai Anshori dan kyai Musa. Kyai Musa itu masih kerabat kyai Salman dan kyai Musa kaget melihat Syifa itu turun dari mobilnya terus dia masuk ke dalam toilet umum dan berganti baju dengan baju minim. Kyai Musa sangat malu kala itu dan kemudian dia cerita bingung cara menasehati Syifa karena dia hanya pakai pakaian syar'i saat di rumah dan kalau sedang kumpul keluarga. tapi kalau sudah keluar rumah dia kan berpakaian terbuka." jelas kakek.


" Astaghfirullah." ucap kami semua.


" Iya nak, kamu pulang aja umi takut." ucap umi.


" Ya udah kalian pulang saja. Kakek akan bilang ke semua yang ada di sini. kalau Syifa itu datang dan bertanya keberadaan kamu kakek akan minta untuk tidak memberitahu dimana kalian tinggal." ucap Kakek.


" Lebih baik kalian pulang sekarang karena Tante takut wanita itu datang lagi kesini."


Akhirnya Ustad Gibran dan Khayra pun memutuskan untuk pulang ke rumah.


" Maaf ya sayang acara menginapnya jadi batal." ucap ustad Gibran ketika mereka sudah berada di mobil dalam perjalanan pulang.


" Nggak apa-apa mas, toh sudah menginap juga semalam. cuma Kai takut wanita itu mencari tahu keberadaan rumah dan juga kantor mas ." ucap Khayra.


" Gimana kalau kita nyusul mama dan papa ke Jepang?.' ucap ustad Gibran.


" Tapi mas Ray."


" Ray sudah boleh kok naik pesawat, kalau kamu mau mas langsung urus keberangkatannya besok."


" Kenapa harus besok mas nggak mendadak?"


" Gini ya sayang, mas yakin wanita itu nggak akan pernah berhenti sebelum keinginannya terkabul. kalau dia tahu rumah kita dia bakal terus mendatangi rumah kita sampai bisa bertemu dengan kita begitu juga ke kantor dia bakal melakukan hal yang sama. Dari pada kita meladeni yang nggak ada untungnya buat kita lebih baik kita menghindari bukan pengecut mas cuma takut kamu sama Ray jadi terganggu."


" Ya udah terserah mas aja."


Mereka pun sampai di rumah dan Ustad Gibran langsung berkoordinasi dengan yang bekerja di rumahnya beruntung yang bekerja di rumah orang tuanya rata- rata sudah ikut lama. Jadi begitu ustad Gibran menceritakan mereka langsung Paham. dan ustad Gibran juga langsung menelpon kak Hilman untuk cerita tentang kejadian yang tadi dan meminta kak Hilman menghandle semua pekerjaannya selama dia berada di Jepang. Dan juga meminta kak Hilman mengurus keberangkatan mereka beruntung mereka akan pergi dengan jet pribadi jadi nggak begitu pusing.


Setelah itu ustad Gibran menelpon orang tuanya kalau mereka akan menyusul dan menceritakan kenapa mereka harus menyusul.


Ustad Gibran masuk ke kamar melihat khayra sedang berkemas di bantu oleh bibi Sumi dan Dewi anaknya bi Sumi yang menjadi baby sitter Rayyan. Ustad Gibran langsung menghampiri putranya yang sedang terlelap di tempat tidur.


Kini ustad Gibran ikut rebahan di sebelah putranya.


" Sayang jangan banyak banyak bawa bajunya nanti kalau kurang beli di sana aja." ucap ustad Gibran.


" iya mas aku cuma bawa tiga koper kok, koper aku, koper kamu sama koper Ray. sama koper kecil deh kayanya." ucap Khayra.


" Kamu nggak apa-apa kan dew, ikut kita " tanya ustad Gibran.


" Nggak apa-apa kok den, malah senang bisa di ajak keluar negeri." ucap Dewi.


" Ya udah kamu juga jangan bawa banyak banyak nanti beli di sana aja. soalnya kita nggak tahu berapa lama di sana."


" Iya den."


Sedangkan di tempat lain, Kyai Salman yang dari tadi menahan malu di depan keluarga Sahabatnya. Saat di dalam mobil dalam perjalanan pulang Kyai Salman sudah tak bisa lagi membendung kemarahannya kepada anak sulung dan putri satu-satunya.


" Syifa kamu bikin malu Bai saja," ucap Kyai Salman menahan emosi.

__ADS_1


" Salah Syifa di mana Abi yang bilang kalau Abi mau menjodohkan Syifa dengan anaknya Gus Azam kenapa Syifa yang di salahkan." potongnya.


" Iya Abi memang mau menjodohkan kamu dengan anaknya Gus Azam,"


" Nah itu, kenapa Syifa yang di salahi." potongnya lagi.


" Tapi yang kamu lakuin tadi salah, seenaknya saja mau merusak rumah tangga orang."


" salahnya di mana sih? heran? yang kalau nggak mau dipoligami yang ceraikan aja istrinya susah banget sih." ucapnya sewot.


" Astaghfirullah." ucap kyai Salman, istrinya dan adiknya Syifa bersamaan.


Begitu sampai hotel Kyai Salman menyuruh anak-anaknya istirahat.


" Syifa, Abi minta jangan kemana-mana, jangan berbuat nekat dan bikin malu Abi. mengerti."


" Iya." jawab. Syifa ketus.


" Besok pagi kita pulang." ucap Kyai Salman tegas.


Mereka pun memasuki kamar masing-masing, begitu pun Syifa. Tapi tak berapa lama Syifa keluar kamar pergi meninggalkan hotel memakai taksi online yang ia pesan.


Sampai pesantren Al hikmah Syifa langsung menuju rumah kyai Ibrahim kakeknya Khayra.


" Assalamualaikum.'


" Walaikum salam." jawab haddam yang membantu di rumah kakek.


" Maksudnya mbak?." Haddam yang bernama Euis pun bingung.


" itu keluarganya kyai Ibrahim pada kemana?"


" Oh sudah pada pulang ke rumahnya masing-masing mbak. Kalau pak kyai dan Bu nyai lagi istirahat."


Syifa langsung pergi tanpa mengucap salam setelah tahu sudah tidak ada lagi keluarga kyai Ibrahim yang kumpul. sedangkan haddam yang bernama Euis itu hanya bengong melihat tamu nya pergi begitu saja.


' Astaghfirullah... mbak Imah ngagetin aja tahu ga?' Euis kaget saat bahunya di tepuk oleh mbak Halimah atau mbak Imah.


" Kamu aja yang bengong kaya patung." ujar mbak Halimah.


" Nggak mbak itu mbak Imah ingat gak perempuan yang tadi minta di jadiin madunya Gus Gibran."


" Iya kenapa?."


" Barusan ke sini mbak tanya kok sepi aku jawab sudah pada pulang eh dia malah pergi begitu saja." jelas Euis.


" ada apa ini.' tanya kakek.


" itu Abah yai tamu yang tadi siang minta di jadikan madu nya Gus Gibran datang ke sini nanyain kok sepi pada kemana Euis jawab sudah pada pulang eh dia langsung pergi aja nggak salam."


' Sudah-sudah yang penting jangan ada yang memberitahukan keberadaan Gibran dan Khayra."

__ADS_1


" Iya Abah yai."


" Ya udah lanjutin pekerjaan kalian."


Mbak Halimah dan Euis melanjutkan pekerjaan mereka. Sedangkan Syifa di pergi ke rumah Gus Azam mencari keberadaan ustad Gibran.


Sampai di depan rumah Gus Azam ternyata ada santri yang bernama Rika sedang ikut mbak maysaroh membantu membersihkan rumah Gus Azam.


" Hai babu." panggil Syifa


Rika yang kala itu sedang nyapu tak menyahuti.


" Babu gue mau ketemu Gus Azam." ucap Syifa ketus.


Lagi-lagi Rika tak menanggapi keberadaan Syifa. Karena merasa di cuekin Syifa pun mendorong Rika.


" Astaghfirullah, Mbak jangan kasar dong." ucap Rika.


" Udah jangan banyak bacot, udah babu belagu lagi. Cepetan panggil Gus Azam calon istrinya mau ketemu." ucap Syifa.


Rika yang juga tahu kejadian di rumah Abah yai hanya bisa tertawa di dalam hati kehaluan Syifa.


" Gus Azam sudah pulang ke rumahnya." ucap Rika.


" dimana rumahnya?' tanya Syifa.


" Nggak tahu dimana nya pokoknya di daerah Bogor."


" Iya bogor nya dimana?"


" persis nya nggak tahu cuma kalau nggak salah dekat Jun...jungle...jungle gitu.'


' gue minta alamat lengkapnya?."


" Saya nggak tahu mbak."


" terus Gus azam sama keluarganya mana gue mau ketemu mau minta alamatnya?"


" Pergi nganter Ning Khayra dan Gus Gibran."


" Telpon gih."


" Mau pakai apa mbak, pakai ulekan?."


" Emang Lo nggak punya punya handphone."


" Ya kali mbak mondok boleh bawa handphone."


" Haaiiishh....susah emang ngomong sama orang udah jadi babu miskin lagi " ucap Syifa sambil berlalu pergi.


" Astaghfirullahaladzim." ucap Rika sambil mengelus dadanya.

__ADS_1


__ADS_2