
Sepanjang hari entah kenapa Khayra merasa Khayra sangat nggak enak.
" Bu khayra kenapa?." tanya Jeni orang yang selalu ikut Khayra kemana pun Khayra pergi tanpa ustad Gibran.
" Nggak tahu ya Jen, kok perasaan saya nggak enak gitu. Kaya akan terjadi sesuatu gitu Jen." cerita Khayra.
" Apa ada yang terjadi sama anak-anak ya Jen." tanya Khayra.
" Kalau ada yang terjadi sama anak-anak pihak sekolah pasti akan langsung menghubungi ibu."
" Iya juga, Coba saya tanya kabar keluarga saya yang lainnya deh Jen."
" Iya Bu biar ibu tenang."
Khayra pun langsung menghubungi suami dan juga keluarga yang lainnya. Dan Alhamdulillah mereka baik-baik saja.
Setelah memastikan semuanya baik-baik saja Khayra pun bisa melanjutkan pekerjaannya. Setelah kembali dari Jepang Khayra kembali mengurus restoran dan cafe .Hanya supermarket saja yang di kelola sama ustad Alif.
Karena kesibukannya itu Khayra lupa dengan perasaan nggak enaknya tadi. Di tambah begitu sampai rumah kecerewetan si bungsu mengalihkannya.
*****
Sehabis shalat subuh berjamaah di mushola yang ada di rumah. entah kenapa Khayra ingin buru-buru kembali ke kamarnya.
Khayra pun masuk ke dalam kamar bersamaan dengan suara ponsel berdering. Khayra pun segera mengambil ponselnya yang dia letakan di nakas.
Zafra calling....
" Tumben Zafra subuh - subuh nelpon." gumam Khayra sebelum menggeser tombol hijau.
" Assalamualaikum fra."
" Walaikum salam, kakak cepetan ke sini." ucap Zafra sambil terisak.
" Zafra ada apa kenapa kamu nangis fra. Jangan bikin kakak takut fra."
" Kakek udah nggak ada kak ... Kakek udah meninggal kak .. cepat ke sini kak." suara Zafra terisak di sebrang sana.
Khayra yang mendengar bahwa kakeknya meninggal, tubuhnya langsung lemas dan terduduk lemas di lantai. Setelah itu tangis Khayra pecah, Tenyata perasaan nggak enak kemarin dia rasakan ternyata ini jawabannya. Dan semalam juga Dirinya memimpikan kakek dan neneknya . Dalam mimpinya kakek berpesan untuk membantu Abi nya mengurus pesantren.
Zafira yang saat itu ingin kembali ke kamar nya, bingung mendapati Mommy nya Terduduk di lantai dan menangis. Karena takut terjadi sesuatu sama Mommy Zafira pun berteriak memanggil Deddy nya.
" Deddy, Mommy Deddy cepetan ke sini." teriak Zafira.
__ADS_1
Ustad Gibran dan yang lainnya pun segera berlari begitu mendengar teriakkan Zafira.
" Fira Kenapa nak?." Tanya ustad Gibran kepada putrinya yang berdiri di depan pintu kamarnya.
" Mommy Deddy hiks...hiks...." tunjuk Zafira sambil menangis.
Ustad Gibran pun langsung masuk ke kamar dan mendapati istrinya lemas duduk di lantai sambil menangis.
" Sayang ada apa? kenapa kamu nangis ?."
" Kakek mas...hiks...kakek sudah nggak ada. Kakek meninggal mas " ucap Khayra yang langsung memeluk ustad Gibran.
" Kalian berdua siap-siap." ucap papa ke ustad Gibran dan Khayra.
" Anak-anak Kalian juga harus siap-siap. Dan ingat sedih boleh tapi tidak boleh menangis kasih kakek buyut kalian. " Ucap papa.
Anak-anak pun langsung pergi ke kamar masing-masing untuk siap-siap.
Begitu juga dengan mama dan papa mereka juga siap-siap. Setelah meminta supir untuk menyiapkan mobil. Tak lupa mama juga menelpon kakaknya ustad Gibran. Walaupun kak Gita dan keluarganya sedang tidak ada di sini. Karena sedang mengunjungi Maura yang sedang kuliah di Amerika.
" Sudah sayang jangan menangis kasihan kakek kalau kamu kaya gini. Harusnya kamu lebih tegar biar bisa menguatkan nenek, umi dan Tante Ais . Sekarang kita siap-siap." ucap ustad Gibran mencoba menenangkan istrinya.
******
Mereka pun sampai di pesantren dan Langsung menuju rumah kakeknya.
" Jangan menangis nak, Ikhlas kan kakek."
" Iya Abi, Umi mana?." Tanya Khayra
" Umi sedang memeriksa nenek kamu di kamar."
Khayra pun pergi menemui uminya.
" Umi... Nenek kenapa?."
" Nenek kamu syok tekanan darahnya tinggi. Ini umi lagi nungguin Ridwan ambil infusan Biar nenek di infus." ucap umi sedih.
" Ya Allah, Kakek jam berapa meninggalnya umi."
" Sujud terakhir shalat subuh, kakek nggak bangun lagi Dari sujudnya."
" Masya Allah, Perasaan Kai sudah dari kemarin umi nggak enak. Makanya Kai telpon umi dan Tante Ais." ucap Khayra.
__ADS_1
" Pas kamu telpon kakek masih ngurusin tanamannya di temani sama Alifa dan Aretha." kata umi.
Alifa anak kedua Zafra dan Aretha anak Tante Aisyah yang sama - sama berusia enam tahun.
" Iya masih sehat masih gedong anaknya Nadifa juga." Timbal Nadifa.
Nadifa anak pertama om Zidan juga sudah menikah dengan Arga anaknya om Wisnu dan sudah di karuniai seorang putra bernama Arya yang berusia dua tahun.
Zahra juga sudah punya anak kembar laki-laki yang bernama Fadlan dan Fadli yang berusia enam tahun.Dan juga anak ke duanya perempuan bernama Fakhira yang berusia tiga tahun.
" Semalam juga Kai juga mimpi nenek sama kakek nemuin Kai. Nenek sama kakek berpakaian serba putih. Dan bilang untuk bantu Abi ngurus pesantren.setelah itu mereka pergi bergandengan tangan." ujar Khayra.
" Tadi mas Iqbal juga bilang begitu dan sama pesannya juga begitu."ucap Michiko.
" Zahra juga."
" Nadifa juga."
" Sama Zafra juga semalam di mimpi begitu juga."
" Haikal juga tadi bilang seperti itu juga " ucap Tante Mala istri om Zidan.
" Berarti setelah kakek nggak ada para cucunya harus ikut bantu mengurus pesantren ini." ucap umi.
Tak lama kak Ridwan pun datang membawa infusan. Dan kak Ridwan pun segera mencari nadi nenek untuk memasang jarum infus.
" Tante Dijah." panggil kak Ridwan dengan wajah tegang.
" kenapa wan?." Tanya umi.
Kak Ridwan hanya menggeleng dan terduduk lemas.
Membuat yang lain cemas, begitu juga umi yang langsung memeriksa denyut nadi nenek.
" Zahra panggil Abi dan om Zidan." ucap umi
" Mbak Dijah Amah kenapa?." tanya Tante Aisyah dan Tante Mala bersamaan.
Nggak lama Abi dan juga om Zaki datang.
"Ada apa umi." Tanya Abi.
Sebelum umi menjawab mata nenek terbuka.
__ADS_1
" Abi tuntun Amah bi." ucap umi
Abi pun langsung menuntun nenek dan nenek pun ikut menyusul kakek setelah dua jam kakek meninggal.