Bertemu Jodoh Di Pesantren Kakek

Bertemu Jodoh Di Pesantren Kakek
60. ada yang lamar


__ADS_3

" Umi ustad Nandar mau bicara dengan kita berdua lebih baik umi duduk di sini." ucap Abi.


Umi pun tak jadi masuk kedalam umi pun ikut duduk di samping suaminya.


" Ustad Nandar sebenarnya apa yang ingin ustad bicarakan." tanya Abi.


" Sebelumnya saat mau minta maaf ke Gus Azam dan Bu nyai mungkin saya lancang datang ke sini tapi saya tidak mau menyesal di kemudian hari." ustad Nandar berhenti sejenak untuk mengambil nafas.


" Kedatangan saya kesini ingin mengajak anak Gus Azam untuk ber ta'aruf dengan saya." ustad Nandar langsung menunduk kepalanya setelah mengatakan itu.


sedangkan umi dan Abi langsung saling pandang mereka kaget dengan apa yang di bicarakan oleh ustad Nandar.


" Maaf ustad nandar kami nggak tahu mana yang ingin anda ajak ber ta'aruf tapi yang pasti anak saya yang belum menikah saat ini itu masih sekolah ustad Nandar."


" Saya tau Gus saya akan nunggu dia lulus sekolah." ucap ustad Nandar yakin.


" Kamu yakin mau menunggu " tanya abi


" Saya yakin Gus." jawab ustad Nandar


" Walaupun harus menunggu tiga tahun."


" Bukannya berapa bulan lagi dia bakal lulus." ustad Nandar tampak kebingungan.


" Iya mereka memang berapa bulan lagi bakal lulus tapi baru lulus Tsanawiyah dan harus lanjut Aliyah." jelas Abi yang melihat ustad Nandar sedikit kebingungan.


Ustad Nandar makin bingung siapa yang di maksud Gus Azam karena dia tahu persis Ning khayra saat ini sudah kelas dua belas.


" Maaf Gus setahu saya Ning khayra itu bukannya memang Aliyah ya saat ini."


Umi dan Abi kaget karena salah tanggap dengan kedatangan ustad Nandar mereka kita ustad Nandar akan melamar salah satu dari anak kembar mereka.


" Astaghfirullahaladzim jadi yang di maksud ustad Nandar itu khayra."


" Betul Gus."


" Memang ustad Nandar tidak mendengar desas desus tentang khayra." ucap Abi yang merasa tak enak dengan ustad Nandar


" Tidak Gus."


" Maaf sebelumnya saya kira ustad Nandar maaf ber ta'aruf dengan zafra atau Zahra karena mereka berdua lah anak saya yang belum menikah kalau untuk khayra sebelumnya saya minta maaf dengan ustad Nandar bukannya saya nggak mau punya menantu sebaik ustad Nandar dan besanan dengan kyai Mufli tapi khayra itu sudah menikah hampir tiga bulan yang lalu jadi sekali lagi saya minta maaf." ucap Abi yang merasa tak enak dengan ustad Nandar.


Sedangkan ustad Nandar syok karena sang pujaan hati telah menikah.


" Sekali lagi maaf ustad Nandar."

__ADS_1


" Tidak Gus saya yang harusnya minta maaf harusnya saya cari tahu dulu tentang Ning khayra."


" Maaf ustad bukan salah ustad juga, ustad nandar kan baru satu bulan mengajar di sini mungkin selalu melihat khayra pulang ke rumah ini. " ucap umi.


" Iya Bu nyai saya memang selalu melihat Ning khayra pulang ke rumah ini."


" Rumah khayra dan suaminya ada di sebelah rumah ustad Zaki dan Aisyah. kalau kemarin khayra berada di sini karena suaminya sedang ada pekerjaan di Surabaya. Jadi suaminya menyuruh khayra tinggal di sini supaya nggak kesepian. Suaminya juga ngajar di pesantren tapi mungkin kedepannya mulai berkurang karena dia juga ada pekerjaan yang lainnya."


" Jadi yang tadi meluk Ning Khayra di lapangan itu."


" Iya, ustad Nandar melihatnya." ustad Nandar mengangguk. " Itu ustad Gibran suaminya khayra tadi dia baru saja pulang dari Surabaya."


" Ya sudah kalau begitu Gus maaf mengganggu waktunya. saya pamit dulu."


" Nggak kok nggak sama sekali. saya sama sekali nggak terganggu."


" Assalamualaikum."


" Walaikum salam."


Setelah ustad Nandar pergi umi dan Abi masuk ke dalam.


" Bi nggak nyangka Kai sudah menikah masih banyak yang suka."


" Amin bi, mudah-mudahan mereka saling menjaga apalagi sebentar lagi mereka akan punya anak, semoga dengan kehadiran anak di tengah mereka cinta mereka nggak akan pudar."


" Iya umi sebentar lagi kita bakal di panggil kakek sama nenek."


" Iya bi jadi nggak sabaran."


" Sama Abi juga sudah pingin main dengan cucu."


Sedangkan ustad gibran yang baru selesai mandi mendapati istrinya sedang meminum susu sambil makan roti dan matanya terus memandangi tv. Ustad Gibran langsung naik ke tempat tidur dan duduk di samping istrinya.


" Mas nih enak tau rotinya." ucap Khayra sambil menyuapi roti ke mulut ustad Gibran.


" Iya enak sayang,"


" Mas nanti kalau ke rumah mama papa mampir lagi ke toko kue yang tadi lagi ya. Kai tadi lihat ada cheesecake Kai mau beli itu "


" Kenapa tadi nggak di beli?." ucap ustad Gibran sambil mencium pipi khayra.


" Takut nggak ke makan cake nya soalnya saat ini khayra ingin makan roti."


" Ya udah besok pulang kerja mas beliin cheesecake nya."

__ADS_1


" Mas besok ke kantor mas nggak ngajar besok kan mas ada jadwal kelas Kai di jam kedua."


" Iya habis ngajar di kelas kamu mas baru berangkat ke kantor."


" Mas nggak capek apa?."


" Oh iya mas belum bilang ya sana kamu, rencananya mas mau berhenti ngajar mas mau fokus ke perusahaan aja. Jadi mas nggak harus pulang malam apa lagi sekarang kamu lagi hamil mas mau selalu ada di sisi kamu."


" Nggak apa-apa Kai setuju aja, asal terbaik buat mas Kai pasti akan setuju.."


" Sayang kalau nanti kamu sudah lulus mas rencananya mau ajak kamu tinggal di rumah mama dan papa kasihan mereka kak Gita kan sudah pindah ke rumah orang tua kak Radit. nanti Sabtu Minggu baru kita nginap di sini."


" Nggak apa-apa kok mas kemana pun mas pergi Kai pasti akan selalu mendampingi mas."


" Terima kasih ya sayang."


" Sama-sama mas."


" Oh iya sayang nanti kamu mau di panggil apa?." tanya ustad Gibran.


" Mommy."


" Kenapa nggak umi aja, soalnya mas mau di panggil Abi sama anak kita kan kalau kamu di panggil umi jadi pas tuh umi dan Abi."


" Kai tuh dari dulu maunya di panggil mommy tau."


" Tapi nggak pas sayang masa panggilnya Abi sama mommy."


" Kalau mas nggak setuju sana jauh-jauh dari Kai."


" Jangan dong sayang, kalau mas jauh dari kamu gimana mas ngobatin rasa kangen mas."


" Makanya setuju sama Kai."


" Iya...iya mommy," ucap ustad Gibran sambil mencium kening Khayra.


" Yang boleh ya."


" Boleh apa sih mas."


" Nengok baby nya sayang terakhir kan pas di Surabaya dokter juga tadi bilang nggak apa-apa."


" Lakukan lah mas Kai juga kangen tapi ingat pelan-pelan."


Tak membuang waktu ustad Gibran pun langsung melancarkan aksinya sedangkan khayra hanya pasrah karena itu sudah jadi kewajiban dia sebagai seorang istri.

__ADS_1


__ADS_2