Bertemu Jodoh Di Pesantren Kakek

Bertemu Jodoh Di Pesantren Kakek
234. bertemu ayah kembali


__ADS_3

Jihan pun sampai di kantor polisi dan Jihan pun menelpon Mommy nya menanyakan keberadaannya.


Tapi ternyata Mommy nya belum sampai ke kantor polisi. Mommy nya sedang menenang Luna terlebih dahulu.


Karena lagi-lagi ustadzah Susan berbuat ulah yang mengakibatkan Luna ketakutan sehingga Mommy nya harus menitipkan Luna terlebih dahulu ke neneknya yaitu umi nya Mommy.


Setelah menelpon Mommy nya Jihan menelpon Deddy nya menanyakan keberadaannya. Dan Deddy nya langsung menyuruhnya segera masuk.


Jihan yang masih berada di dalam mobil berusaha untuk menanangkan hatinya. Kini perasaannya campur aduk antara sedih dan bahagia.


Sedih karena selama ini ayahnya juga merasakan kesedihannya berpisah dengan ke empat anaknya apalagi kami berempat sempat membenci ayah.


Setelah opa bercerita tentang semuanya Jihan dan adik-adiknya merasa bersalah juga merasa kasihan dengan ayahnya. Akibat orang yang serakah dan mau hidup enak tanpa usaha, Ayahnya harus rela di benci oleh ayah kandungnya.


Dan kini dirinya akan bertemu lagi dengan ayahnya, Jihan sungguh bahagia. Tapi di satu sisi lagi Jihan begitu marah dengan orang-orang yang membuat mereka berpisah.


Setelah bisa mengatur perasaan hatinya, Jihan pun masuk ke dalam kantor polisi.


" Permisi mau tanya kalau ruangan penyidikan dimana ya?." Tanya Jihan.


" Kasusnya apa ya?." Tanya polisi tersebut.


" Pokoknya yang baru saja di tangkap." jawab Jihan.


" Oh yang pelapor datang bersama keluarga Al Fatir bukan." Tanya polisi itu lagi.


" Iya."


" Anda lurus aja ke sana." Tunjuk polisi itu.


" Terima kasih pak."


Jihan pun berjalan menuju ke tempat yang di tujukan oleh polisi tersebut.

__ADS_1


Begitu sudah mendekati ruangan yang di maksud oleh polisi tersebut. Langkah kaki Jihan terhenti karena pandangan matanya melihat sesosok laki-laki yang amat dia rindukan. Sosok laki-laki yang menjadi cinta pertamanya jantungnya berdebar kencang. Air matanya pun lolos tak bisa di bendung.


Jihan pun langsung berlari dan meluk tubuh ayahnya. Membuat ayahnya yang kaget hampir kehilangan keseimbangan beruntung mereka tidak jatuh.


Aksi Jihan yang tiba-tiba memeluk ayahnya sontak membuat semua yang ada di sana kaget. Tapi setelah tahu bahwa Jihan yang memeluk mereka langsung tersenyum tapi tidak dengan para tersangka.


" Ayah Jihan rindu..hiks..hiks ..." Suara Jihan bergetar meluapkan rasa rindunya.


" Sama ayah juga Rindu dengan kalian, Maafin ayah nak telah melukai hati kalian." Ucap Rudi Anggoro yang juga tak bisa menahan tangisnya karena bisa memeluk anaknya kembali.


" Nggak ya ayah nggak salah kok terhadap kami yang ayah lakukan semuanya buat kebaikan kami." ucap Jihan yang masih nyaman di pelukan ayahnya.


" Rasanya ayah juga sudah nggak sabaran untuk memeluk Bagas, aji dan juga si kecil Luna." Ucap Rudi.


Mendengar nama Luna entah mengapa Jihan langsung melepas pelukan ayahnya.


Rudi dan yang lainnya bingung melihat Jihan melepas pelukan ayahnya.


Jihan yang melepas pelukan ayahnya segera berjalan menghampiri tersangka.


Plak...


" Ini untuk orang yang sudah tega memisahkan kami, dan saya bersumpah kamu dan antek-antek kamu akan membusuk di penjara." Ucap Jihan dingin dan juga mengerikan.


plak...


plak...


Jihan menampar kedua anaknya hena.


Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut Jihan tapi Jihan menatap tajam kedua orang tersebut.


Kini Jihan sudah berada di depan ustadzah Susan.

__ADS_1


Plak...


" Itu untuk yang sudah membiarkan adik saya terluka dan tak memperbolehkan adik saya di bawa ke klinik."


Plak...


" Ini untuk anda yang sudah sukses membuat adik saya Luna mengalami trauma."


Rudi yang mendengar putri kecilnya trauma akibat ulah ustadzah Susan pun mengepalkan tangannya. Mungkin kalau ustadzah Susan laki-laki Rudi sudah menonjoknya.


Plak...


Plak...


Lagi-lagi Jihan memberikan tamparan ke ustadzah Susan tapi kali ini Jihan menampar bolak balik.


" Itu untuk yang baru saja anda lakukan ke adik saya."


Jihan masih berdiri di depan ustadzah Susan dengan tatapannya yang seketika ustadzah Susan menciut.


" Gabriela Anastasya." kata Jihan sontak membuat ustadzah Susan melotot menatap Jihan.


" Gadis kecil berusia lima tahun yang malang memiliki ibu berhati iblis seperti anda. Gabriela yang kini tinggal di Apartemen sky bersama pengasuhnya. Walaupun anda tidak mengasuhnya tapi anda sangat menyayangi Gabriela. Bahkan anda melakukan berbagai cara untuk membiayai berobat Gabriela yang terkena penyakit ginjal."


" Jangan pernah ganggu Gabriela Saya mohon." Ucap ustadzah Susan memohon ke Jihan.


" Gimana ya? Sepertinya asik kalau Gabriella juga merasakan apa yang Luna alami." Jihan tersenyum mengejek.


" Saya mohon jangan libatkan Gabriela dalam masalah ini." Lagi-lagi ustadzah Susan memohon.


Jihan pergi dari hadapan ustadzah Susan tanpa berkata apa-apa lagi.


Kini dirinya sudah berada di dalam pelukan sang ayah.

__ADS_1


Khayra yang sudah datang pun bangga melihat Jihan bersikap seperti itu. Bahwasanya Jihan membuktikan bahwa mereka jauh di bawah dirinya.


__ADS_2